Wednesday, December 31, 2008

MP Writing Event 2008: Berdamai dengan Diri Sendiri

Setelah saya mengalaminya, oke, saya akui bahwa berdamai dengan diri sendiri itu lebih sulit daripada kalo saya berdamai dengan orang lain karena bertengkar misalnya.
Teman-teman pasti sudah baca di sini. Saya memang masih dalam proses buat move on itu.

Ada yang bertanya pada saya, "gila loe! Lu masih suka sama dia?"
Aduh! Saya harus jawab apa? Kalo saya bilang sudah tidak, pasti dia ga percaya. Karena toh, ternyata saya masih perlu waktu buat move on. Tapi ini bukan masalah suklaa, sayang -apapun itu -, padanya. BIG NO.

Sulit menjelaskannya. Sebab, bukan rasa suka yang sudah berlalu yang masih ada. Saya juga yakin, ini bukan sekedar godaan syaitonirrojim seperti yang seorang teman saya yang lain pernah ingatkan.

Ini masalah saya yang kehilangan kendali, ketika semua yang sudah saya bangun dan sudah selesai, tiba-tiba hancur berkeping-keping, almost 5 years ago. Saya marah besar atas kehancuran itu. Dan saya sama sekali tidak lagi punya tenaga, modal dan bahkan mimpi untuk membangunnya lagi saat itu. Tapi, saya harus bangkit. Ada orang lain yang sudah siap menyambut saya, selemah apapun keadaan saya. Dia adalah orang yang sekarang merupakan suami saya.

Fahmi dan Ilman hadir buat saya karena Allah SWT begitu sayang pada saya. Allah SWT memberikan saya kesempatan kedua untuk membangun semua yang sudah hancur berkeping itu. Perlahan, tapi jelas arahnya ke mana.

Kenapa, sih, saya kok ga langsung move on saja ketika saya baru broke up? Bukan ga langsung move on. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk bisa lupa bagaimana hancurnya saya ketika kami broke up.

Saya sering dekat dengan cowok, baik ttm maupun beneran jadian, tapi emang ga pernah parah kalo udahan. Mungkin karena waktu itu, saya sebegitu seriusnya, sampe lupa, apa yang sebetulnya saya perlukan. Dan emang itu yang ga pernah terpenuhi sampai kami memutuskan untuk selesai. Komitmen. Kehadiran Fahmi emang terlalu cepat waktu itu, tapi saya sadar, toh, yang saya butuhkan kebersamaan dan komitmen dari orang yang saya sayangi, yang kemudian saya jalani dengan Fahmi, sampai sekarang.

Tapi, saya lupa satu hal. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya nggak berani menyelesaikan persoalan masa lalu saya sebelum saya menginjak akad nikah. Saya biarkan saja dia mengendap, sehingga ketika ada pemicu yang mengaduk-aduk dasar hati saya, dengan tenangnya ia muncul ke permukaan. Artinya, saya ternyata masih belum berdamai dengan diri sendiri ketika itu.

Saya nggak mau terus menerus bergulat dengan diri saya sendiri. Saya capek. Saya hanya ingin keluarga saya selamanya sakinah ma waddah wa rahmah, tanpa saya punya beban pikiran seperti ini, walau jujur aja, cuma seupil!

Seupil tapi jadi borok yang bernanah terus. Ga sembuh-sembuh. Akh! Saya harus segera mengobatinya, saya pengen cepat sembuh. Saya mulai mengobati diri saya sendiri dengan menceritakannya pada sebagian orang secara langsung.

Saya juga bercerita pada si obyek, bahwa saya merasakan kehancuran setelah kami broke up. Tapi, saya pengen bangkit. Saya pengen membuang semua serpihan-serpihan kehancuran, sehingga apa yang sedang saya bangun sekarang, bisa berdiri kokoh, selamanya. Tak dinanya, setelah saya menceritakan semuanya padanya, saya merasakan kelegaan yang luar biasa.

Sekarang saya sedang memasuki tahap recovery. Recovery ini terasa sangat berat, tapi saya punya Fahmi yang ternyata sangat melindungi saya dengan keadaan saya ini. Dia begitu sabar menghadapi saya seperti ini.

Semua nasihat repetitif Fahmi langsung terngiang di telinga saya, "berharap pada manusia itu membuat sakit ketika kita ga dapat apa yang kita harapkan." Kalimat itu selalu menyejukkan hati saya dan membuat saya bangkit. Yes, Fahmi is my angel.

Saya selalu berdoa, di setiap akhir shalat saya, "Ya Rabbi, berikan saya hikmah untuk tetap bersyukur dan jadikanlah saya orang yang shalih."
Selepas saya bercerita pada mantan saya, semua berputar di benak saya, seperti saya sedang menonton obituary. Saya punya teman-teman baik ketika saya membutuhkan mereka. Saya punya suami yang juga sahabat saya.Saya punya sahabat-sahabat yang selalu memberikan segalanya untuk saya. Dan, mereka yang berbagi pengalaman serupa dengan saya. Akh, betapa saya diberi hikmah untuk bersyukur ini begitu besar!
So, apa lagi sih, yang saya cari untuk melengkapi perdamaian dengan diri saya sendiri? Kenapa saya harus takut menatap ke depan?

Baiklah, sekarang saya sudah berdamai dengan diri sendiri, walau itu perlu hampir 5 tahun untuk melakukannya. Saya sudah siap dengan semua resolusi tahun baru 2009 saya. Hahaha...

Oya, lewat pictures ini, saya pengen ngucapin ma kasih banyak buat beberapa orang dari kalian, atas komentar kalian di sini.... Sangat membantu saya...

I promise to make you a scrapbook for you each, tapi belum selesai semua. Jadi saya upload yang digabung aja dulu, ya... Thanks, ibu, for the chance!

3 comments:

Anonymous said...

themenya lutcu bgt... dpet dari mana?

smangat 2009! pokoknya harus lebih baik dari sebelumnya..

how writing said...

themenya lucu bgt dapet darimana.?
semangat taun baru ya...

peni nasrudin fahmi said...

theme nya bikin sendiri! hehe..