Friday, December 12, 2008

Selamat Jalan, Pak Ali


Kaget juga dengar berita Pak Ali Alatas berpulang..

Saya mengagumi beliau sejak beliau jadi Menteri Luar Negeri (zaman saya sekolah mah, hafal, kan masih dalam masa kepemimpinan Orde Baru) efek bagusnya dari hafal nama-nama menteri, rasanya saya jadi tahu personal tiap menteri di masa itu, termasuk bapak Ali Alatas ini.
Saya sangat suka lihat liputan tentang beliau yang ternyata dapat julukan "singa tua diplomasi".
Selamat jalan, Pak Ali. Semoga semua amal ibadahmu menjadi jalan penerang menuju sisiNYA. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik di sisiNYA.
Sudah pasti saya nggak akan pernah lihat pak Ali lagi di tv, kecuali liputan tentang mengenangmu.
Innalillaahi wa inna ilaihi raji'uun. Semoga keluarga Pak Ali Alatas diberi kekuatan dan kesabaran

Tuesday, December 02, 2008

Meramal

Tulisan ini akhirnya turun juga, gara-gara kapan itu ada seorang yang sudah sangat lama tidak lagi saya temui menanyakan sesuatu tentang masa lalu saya, via Friendster.

"Teh Peni, masih meramal?" GUBRAK!

Aih, itu kan udah jaman kapan taun...

Oke, saya cerita di sini.

Saya mulai meramal sejak kelas 3 SMP. Saya berlangganan majalah GADIS sejak kelas 2 SMP dan menemukan salah satu artikel lucu-lucuan buat mengisi liburan: MERAMAL, YUK!
Saya lupa ini edisi berapa tahun berapa, secara itu majalah udah nggak tahu ada di mana.
Nah, saya dan Asih, sepupu saya, belajar meramal dengan mengikuti petunjuk di majalah tersebut. Saya dan Asih memasukkan nama-nama kecengan kami ketika itu. Yah, namanya juga iseng, hasilnya kami buat ketawa-ketawa aja. Nggak ada yang bener-bener kami percayai.

Terus, gara-gara kesibukan menghadapi EBTA/NAS saya mulai melupakan permainan ramalan itu dan kartu remi saya juga hilang tercecer.

Kelas 2 SMA, saya menemukan lagi majalah dengan artikel "MERAMAL, YUK!" itu, dan iseng, sengaja beli kartu remi mini yang suka ada di pengecer SD-SD gitu deh. Dan mulailah saya meramal buat diri saya sendiri. Mempraktekkan yang sudah lama saya nggak praktekkan.
Waktu itu, saya ngeceng kakak kelas, yang sekarang malah tiap hari chatting... Hahahaha. Hasil ramalan itu bilang, kalo saya nggak akan jadian sama kakak kelas itu.

Dimulai dengan mengocok kartu sesuai jumlah huruf yang ada pada namanya. Kalo mau lengkap ya lama, kalo mau panggilannya aja, ya berarti cuma dikit.
Misalnya, kecengan saya namanya AFGAN. Nama lengkapnya MUHAMMAD AFGANSYAH. Saya bisa mengocok kartu sejumlah 5 atau 18 kali. Bebas. Sambil membayangkan wajah gantengnya Afgan kecengan saya itu. Setelahnya, saya spread si kartu jadi beberapa bagian dan seterusnya. Kalo nggak salah, yang saya lakukan itu ada 6 tahap sampai akhirnya tersisa 2 atau 4 kartu saja. 2 kartu As berlainan warna, menandakan jadian.
Kalo 2 kartu AS berwarna sama, bertepuk sebelah tangan. Kalo muncul 4 kartu, bisa jadian bisa nggak. Tergantung. Hahaha. Ngarang namanya juga

Trus, akhirnya, saya jadian, nggak sama Afgan? Hahahaha, nggak tuh! Saya akhirnya menikah dengan papa Ilman. Hihihi...

Back to meramal...
Di kelas, saya suka iseng meramal. Bahkan, saya nyaris nggak bisa menikmati waktu istirahat saya, gara-gara meramal teman-teman. Hihihi.
Ya, saya dulu agak terkenal dalam meramal. Ada banyak teman lain kelas yang suka antri minta diramal. Hahahaha. Bahkan, waktu sekolah mau bikin bazaar, saya tadinya disuruh jadi peramal, buat stand kelas mau bikin stand ramal aja. Gubrak, deh! Tapi, saya tolak. Lupa alasannya apa.

Kemudian muncul Dama, temen sekelas, yang "lebih jago" dalam meramal. Karena dia bisa baca kartu. Menurut saya, dia bukan bisa baca kartu, kebetulan aja dia perhatian, jadi dia bisa tau kecengan anu siapa dan fisiknya gimana. Hihihi...

Akhirnya pamor saya agak kalah sama Dama, saya bilang, mendingan Dama aja yang meramal, biar lebih afdol! Hihihi. Padahal saya sudah jenuh dengan meramal itu. Dan entah kenapa, pas kelas 3 surut begitu saja hasrat main ramal-ramalan.

Masuk ke jaman kuliah, saya mulai banyak bergaul dengan teman-teman yang hidup ngekost. Saya sering main ke salah satu kost teman saya, Ita, yang tetangganya banyak dan baik-baik. Waktu itu, saya nemu kartu remi di kamar kost
Ita. Iseng-iseng aja, saya main ramal-ramalan buat diri saya sendiri.

Ternyata, saya masih hafal step-stepnya! Wow! Kemudian, nggak lama, temen-temennya Ita, muncul dan mereka memerhatikan saya main ramalan. Eh, mereka memerhatikan ekspresi wajah saya! Katanya, wajah saya serius banget waktu meramal!
Satu persatu dari mereka minta diramal. Aih, ya sudah, saya ladeni deh. Iseng ini. Hari itu, saya meramal 5 orang sekaligus. Dan hari itu, saya mencoba sebuah eksperimen: Mengarang Bebas. Ceritanya saya baca kartu dan saya ungkapkan 'pengetahuan' saya atas kartu yang saya baca itu. Padahal, ngaraaaang! Hahaha....

Selama seminggu dari situ, saya belum ke kostannya Ita lagi, kalo nggak salah, lagi minggu tenang gitu. Seberes UAS, saya main ke kostan Ita dan curhat-curhatan sambil ledek-ledekan sama Ita, Didi dan Amel. Tiba-tiba, salah satu korban ramalan saya muncul dan menghambur ke pelukan saya.

Dia bilang, "ramalannya bener, saya rasa, saya nggak cocok sama dia. Akhirnya kami milih putus." Sejenak, saya, Didi, Ita, dan Amel berpandangan maksudnya-apa-sih.

"Oh, iya! Seminggu kemaren kan saya ramal! Eits, jangan percaya ramalan dooong! Itu kan cuma main-main!"

Dia bilang, "Nggak! Waktu itu kamu kan bilang, kalo antara aku sama dia ada kendala, keluarganya ga suka aku. ternyata benerrrr!!! Huhuhu..."

Saya cuma bisa melongo.

Dua bulan kemudian, waktu saya lagi bikin tugas di kamar kostnya Ita, korban kedua ramalan saya muncul, dengan wajah berseri-seri sambil menyerahkan sebatang Silver Queen almond.

"Teh Peni, ma kasih, ya, ramalannya jadi kenyataan. Waktu itu, Teteh kan bilang, saya bakalan jadian sama dia, ternyata iyaaa..." semburat merah muncul di wajahnya.
Lagi-lagi, saya cuma bisa melongo sambil berpandang-pandangan sama Ita. Dan si anak korban ramalan kedua saya ini bilang, kalo tiga korban ramalan saya yang lain, hasilnya bervariasi: ada yang awet dan sudah menikah, ada yang jadian trus putus lagi, ada yang nggak jadian sama sekali. DAN ITU SEMUA SESUAI HASIL RAMALAN KARTU REMI SAYA!!!
Jantung saya rasanya mau copot! Kok, tiba-tiba saya jadi seperti Permadi atau Mama Lorenz sih? Dulu, Mama Lorenz belum terkenal. Tapi, jaman itu, Permadi sudah terkenal.
Saya sampe dibilang, the next Permadi!

Huhuhuhu! Saya nggak mauuuu! Saya tahu, percaya ramalan itu dosa! Apalagi kalo sampai saya yang jadi peramalnya! Huhuhuhu... Sueerrrr... itu semua saya lakukan cuma buat main-main doaaaanggg!

Saat itu, saya langsung lari ke kamar mandi, ambil wudhu, dan shalat sunnah tasbih. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya takut. Takut sekali. Dan saya langsung bertobat. Saya berjanji untuk tidak akan meramal lagi!

Jadi, saat saya baca PM teman saya itu, saya ketik balasan, "NGGAK LAGI LAGI MAIN RAMALAN KARENA AKU TAKUT BERDOSA!" (sambil bersenandung lagu anak-anak beberapa tahun lalu, yang liriknya,"nggak lagi-lagi main denganmu, karena kamu anak pembohong!"

note: gambar minjem dari sini

Thursday, November 13, 2008

saya juga udah ngerjain PR, tuh!

ditag sama nyi romlah, biasanya saya suka ga sempet bikin PR, sekarang saya sempetin, deh... hehehe... nuhun, nyi, dah ditag....
berapa jumlah buku milikmu? nggak tau, ga pernah ngitung. rak udah pada penuh, belum kebeli rak baru... heuheu... buku yang terakhir dibeli? komik Yotsuba! jilid 1-6, Drunken Molen, Ocehan si Mbot, Mother Keder, Cooking with Love buku-buku yang terakhir dibaca? masih Yotsuba! dan Drunken Molen.
lima buku yang sangat berarti untukmu? kalo satu seri bisa dianggap satu buku, ndak apa2, yaaa... hahaha... Totto Chan Hai Miiko (anggap cuma satu buku, hahaha) Drunken Monster dan Drunken Molen (anggap cuma satu buku, hahaha) Charlie and the Chocolate Factory Harry Potter (anggap semuanya satu buku juga)
bacaan sampingan?
tabloid, koran, blogs, e-book, katalog minimarket dan supermarket, koran, iklan, brosur...

Sekarang, saya mau mentag

1.
Fahmi (Papa Ilman)
2. Ummu Sa
3. Penyiar nyentrik nan genjring, jeng Popi

Our 3rd Anniversary



Seharusnya diposting kemaren...
gara-gara MP diblock admin, khusus di IP addressku di kantor aja, saya jadi postingnya subuh hari ini... heuheu... tapi sekalian dah ada fotonya, sih... 13 November 2008, 3 tahun usia pernikahan saya dan Fahmi... saya ga pede bikin puisi, jadi saya contek lagunya the Beatles aja, yang selalu jadi favorit saya sepanjang masa....


Here, There and Everywhere

To lead a better life
I need my love to be here...
Here, making each day of the year
Changing my life with a wave of her hand

Nobody can deny that there's something there

There, running my hands through her hair

Both of us thinking how good it can be

Someone is speaking but she doesn't know he's there

I want her everywhere and if she's beside me

I know I need never care

But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies

Watching her eyes and hoping I'm always there

I want her everywhere and if she's beside me

I know I need never care

But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies

Watching her eyes and hoping I'm always there

To be there and everywhere
Here, there and everywhere
happy anniversary, papa!

credits on layout:
papers and elements by Edeline Marta Design - Forever Love, you can buy them here
song lyrics taken from here

Tuesday, October 07, 2008

Hiruk Pikuk Lebaran

Bagi yang merayakannya, momen lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang paling tepat atau mungkin satu-satunya waktu yang tepat buat bersilaturahmi dengan banyak orang, yang sudah lama tidak pernah ditemui, bahkan jadi satu-satunya waktu berkumpul dengan keluarga besar.

Waktu saya masih duduk di bangku SD sampai menjelang kuliah, saya sering menerima kiriman kartu lebaran. Bahkan, saya selalu menyiapkan setumpuk kartu lebaran di awal-awal bulan Ramadhan supaya saya bisa mendapatkan balasan kartu lebaran yang lebih banyak lagi. Hahaha...

Setelah saya memasuki masa puber, saya mulai hobi mengirim kartu lebaran pada cowok. Hahaha... mereka pun mengirim balasan... dan setiap lebaran, selalu saya pajang tuh, kartu-kartu lebaran di ruang tamu. Ckckckck... bikin penuh ruang tamu aja...

Seiring dengan perkembangan teknologi, cara mengirim kartu lebaran sudah makin bervariasi. Pake e-card via email sampai mms via handphone. Semakin ke sini, orang semakin berpikir untuk lebih mengirit: ganti simcard yang menawarkan program kirim sms gratis atau semurah-murahnya, hanya untuk mengirimkan ucapan selamat idul fitri lewat sms. Ketika nomor itu dibalas, sudah tidak dapat dihubungi lagi. *Sigh*

Lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya saya berlebaran di Garut, bersama papa dan ilman. Sudah dua tahun papa berlebaran di Bandung, saatnya saya untuk lebaran di Garut. Keberangkatan menuju Garut, menurut saya, kurang persiapan yang matang. Mulai dari nggak siap travel, maklum nggak punya mobil; mana kalo rental harus 7 hari; nggak mau naik bis, jadi agak panik juga. Hahaha...

Saya memutuskan buat berangkat tanggal 29 September aja, pagi-pagi gitu. Syukur-syukur bisa pake 4848. Ternyata, kalo mau pake 4848, harus datang dan nunggu di sana. Ini lebih nggak menjamin. Papa berinisiatif buat nelpon kakaknya dan syukurlah, ada mobil dan beliau mau jemput. Keberangkatan maju beberapa jam, berhubung mobilnya nggak ber-AC, jadi berangkat malam. Padahal, saat itu, saya ada acara buka puasa bersama milis outsiders di Sierra.

Berangkat ke Garut in a rush, membuat saya nggak ingat isi pulsa. Oke, pulsa saya masih banyak, masih cukup buat ngeplurk. Alhasil, selama dua hari di Garut, saya bisa dengan mudahnya ngeplurk dan baca detik. Bersamaan dengan datangnya hari lebaran, otomatis, saya menerima banyak sekali sms ucapan selamat lebaran. Tentu saja saya juga harus berbuat yang sama, toh?

Nah, itulah buah kebodohan nggak membuat persiapan banyak hal. Ada sangat banyak sms yang saya kirimkan nyangkut di outbox alias tidak bisa terkirim. Apa pasal? Ya, pulsa saya habis bis bis, sementara yang jualan pulsa pada lebaran semua. Siyal!!!!

Bodohnya lagi, saya belum ambil uang sampai hari Minggu sore. Dan tidak terpikir untuk coba online di rumah, buka internet banking dan beli pulsa. Nggak! Sama sekali tidak terpikir! Jadi, sampai sudah masuk kerja, itu sms yang nyangkut di outbox masih banyak.

Hal-hal sejenis beli pulsa emang tampak sepele. Tapi, kalo lagi butuh, mau hp dengan harga paling mahal juga kalo nggak ada pulsanya mah tetep aja nggak berguna buat menghubungi orang mah! Huh!!!!



Monday, October 06, 2008

Mohon Maaf Lahir dan batin, yaaa

bunda dan papa ilman, serta ilman mengucapkan


Monday, September 15, 2008

Quote of The Day (15 September 2008)

Pagi ini, saya dikirimi tabloid al-hikmah dari dompet dhuafa. Saya menemukan sebuah kolom kecil dengan tag MUSLIMAH, judulnya menarik juga: PESAN UNTUK PARA ISTRI.

Berikut saya kutip, ya...

"Jika engkau melihatku marah, maka redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis. Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah".

Nice, mudah-mudahan berguna bagi saya dan suami... hihihi....