Friday, April 20, 2012

I'm Full of Fuel and Ready to Fire!

Bu....
Udah lamaaaaaa sekali, ya, aku nggak nulis surat buat Ibu...

Pagi ini, aku mulai hari dengan bacain komen-komen yang masuk di postinganku di Multiply. Hehe. Sekarang, Multiply jadi sahabatku lagi, gara-gara aku kehilangan banyak momen dan menyesal ketinggalan banyak di sana. Padahal, banyak teman baikku di sana. Hiks. Ini semua gara-gara microblogging dan Facebook. Salahkan mereka! Padahal, aku juga udah jarang bikin status di Facebook. Kenapa? Mengingat kontakku yang banyak dan belum ada waktu untuk memilah mana yang berhak baca status-statusku dan mana yang nggak, membuatku berpikir ulang untuk posting status di sana. Akhirnya, account Facebook-ku cuma buat jadi tempat persinggahan cross posting dari Instagram atau Path, bahkan dari Multiply.

Bu, aku lagi "full of fuel and ready to fire". Nggak tahu kenapa. Barusan, lagi serius ngobrol sama Nurul - karyawan kantor sebelah yang curhat rumahnya kemalingan tadi - malah dikagetin sama bu Ucu. dan aku ternyata meledak, marah. Marahin bu Ucu yang umurnya jauh lebih tua. Hiks. Kenapa aku kayak binatang gini, Bu? Aku malu sama diriku sendiri. Aku benci sama diriku yang begini. Really.

Aku pengen belajar sabar kayak Ibu. Yang tabah jalani hari-hari terakhir ibu bernapas. Meski tubuh Ibu udah nggak kuat lagi menopang nyawa Ibu, Ibu masih bisa senyum. Meski kuku-kuku di jari tangan Ibu membiru, Ibu masih bisa senyum dan menyambutku sepulang sekolah. How I miss that moment, Bu.

Oya, aku pengen cerita juga. Aku senang sekali bisa main Treasure Hunt ala Ibu dulu. Sempet pengen melakukan hal yang sama untuk Ilman. Tapi sayang, situasinya nggak memungkinkan. Setiap Ilman pulang sekolah, kan, aku nggak ada di rumah karena harus bekerja di luar. Maybe someday, I can make the game for him and Zaidan.

Kami semua di rumah sehat, Bu. Alhamdulillaah. Cuma aku sama Fahmi masih harus belajar sabar lebih banyak lagi. Hehe. Ternyata bersabar dan meredam ego masing-masing itu termasuk sulit, ya. Apalagi kalo hati sama tubuh capek. Bukan karena kami berdua hobi berantem, kok, Bu. Lebih karena kami capek di luar rumah, trus menghadapi anak yang tantrum... PR luar biasa ternyata, ya, Bu, punya anak berbeda.

Nanti aku cerita banyak lagi, ya. Siang ini aku ada rapat progres mingguan. Besok juga harus lembur, ada yang mau taping. Oya, pengen bilang: aku menyayangimu dan selalu menyayangimu dan akan tetap menyayangimu. Aku juga merindukanmu, bu. Sangat. Semoga Allah selalu menerangi kubur ibu, memberi ibu pandangan surga dengan pandangan paling dekat. 

They say, writing can heal your sick mental. Hahaha. So, I start writing to you. I hope you don't mind, Bu. Love you soooo much. Muah!

-peni-
20 April 2010. 12.58 WIB

Wednesday, April 18, 2012

Perjalanan Masih Panjang...

Masih pengen lanjutin cerita ini. Dan emang nggak akan pernah selesai nulis di sini, kayaknya. Hari ini saya lagi pengen menjauh sebentar dari kerjaan. Pengen mendistraksi diri dengan bercengkrama sama MP

Sejak 4 Oktober 2010, Ilman tercatat jadi murid di SLB dan Rumah Terapi Solalin. Tempatnya di Sarijadi, dekat dengan rumah yangkung dan yangti. Jangan bayangkan SLB - Sekolah Luar Biasa yang terdiri dari orang-orang tuna rungu, tuna netra, dll, ya. Memang, sih, tiap orang yang denger kata SLB keluar dari saya, pasti langsung protes. Kenapa Ilman harus masuk SLB? Gitu...


Yes, Solalin itu bukan sekolah biasa. Di dalamnya berisi anak-anak luar biasa. Gurunya juga. Subhanallaah! Kalo punya lima jempol, kuacungin semua, deh! Untuk kesabaran mereka, untuk dedikasi mereka terhadap anak-anak kami yang berkebutuhan khusus. Berkebutuhan khusus dalam hal apa? Di antaranya, mereka menangani anak-anak autis, asperger, speech delayed, ADHD, dan lain-lain.

Progres perkembangan Ilman sejak sekolah di sana, boleh dibilang hebat banget. Mulai dari masih bubbling di usianya yang sudah menjelang empat tahun ketika itu dan sewaktu mulai masuk sekolah, sudah mulai terdengar beberapa kosa kata, seperti "pinjam", "bunda", dan lainnya.

Sekarang? Ilman bahkan sudah jadi copy cat untuk banyak kalimat. Baik itu yang dia dengar dari kami - orangtuanya, gurunya, bahkan dari film yang disukainya. Apakah perjalanan kami selesai sampai di sini? Jawabannya: nggak.

Beberapa waktu lalu, saya masuk jadi anggota grup LRD Member di facebook *saya masih belum tahu apa itu LRD sampai sekarang* dan membaca banyak pengalaman orang-orang yang memiliki anak berkebutuhan khusus di sana. Bahkan, ada ibu yang autis dan punya anak autis pula menjadi anggota di sana.

Setiap kali saya baca postingan mereka di sana, air mata saya selalu berderai. Saya nggak tahu kenapa. Apakah karena saya merasa "nelangsa", kenapa harus anak saya yang mengalami ini? Apakah karena saya mulai capek padahal saya belum ngapa-ngapain untuk meningkatkan kemampuan anak saya? Apa karena saya tahu, karena asperger bukan sebuah penyakit, melainkan diagnosa seumur hidup jadi nggak pernah tahu kapan "sembuh"nya. Saya sempat kecewa, karena ternyata Ilman bukan hanya "speech delayed".  

Sering sekali, tenggorokan saya tercekat, setiap ada pertanyaan, "sampai kapan Ilman sekolah di Solalin?"

Tapi... Kenapa juga saya harus merasa nelangsa? Di grup LRD itu, banyak yang jauh lebih nelangsa daripada saya, tapi mereka "biasa" aja. Mereka tegar. Kuat. Bahkan, saat ngumpul sama para orangtua murid Solalin sekalipun, ternyata masalah mereka jauuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih berat daripada yang saya alami. Ilman dinyatakan asperger, dari hasil diagnosa tim dokter psikiatri anak dan remaja RSHS Bandung. Tapi asperger yang disandang Ilman termasuk ringan. Nggak sampai perlu terapi obat-obatan seperti yang lain. Nggak ada alergi tertentu. Kebetulan memang anaknya aja yang memang terlalu pemilih dalam makanan, jadi agak susah ngasih banyak makanan ke dia. Jadi, kenapa saya harus merasa sengsara? Harus merasa sendirian? I am not alone in this world, right? Saya bukan orang paling menderita di dunia ini, kan? Lalu, kenapa saya harus merasa seperti itu? Wake up!

Sewaktu lihat postingan teman-teman saya akan prestasi anak mereka, terkadang hati saya mencelos. Saya juga pengen banget "pamer" karya anak saya. Tapi, pernah, nih, waktu saya bilang, "alhamdulillaah... kakak Ilman sekarang sudah bisa pakai baju sendiri..." ada yang komentar, "hah? Lima tahun baru bisa pakai baju sendiri? Yang bener aja! Nggak pernah diajarin, ya?"


Waktu Ilman tiba-tiba tiduran di lantai mini market, saya mendapat lirikan tajam dari beberapa pengunjung mini market. Mungkin, mereka pikir Ilman gila, kali, ya.

Oke. Ilman memang termasuk anak berkebutuhan khusus. Asperger namanya. Tapi bukan berarti dia idiot yang nggak bisa diajari apa-apa. Bukan berarti dia gila. Ilman baik-baik aja. Kalopun dia berulah seperti anak nakal, dia nggak pernah menginginkan itu. Kami nggak pernah membiarkan dia untuk seperti itu. Trust me. Kami juga pengen dia bisa bertingkah seperti layaknya anak normal kebanyakan, kok. Dan kami juga yakin, Ilman sendiri pasti menginginkan itu. Itulah sebabnya, kenapa Ilman nggak kami masukkan ke sekolah biasa. Kami mencari sekolah pendampingan seperti Solalin. Supaya Ilman juga nggak jadi korban bullying. Supaya Ilman bisa optimal saat harus bersosialisasi atau belajar mata pelajaran akademik.

Waktu Ilman mau tampil di panggung saat pentas seni akhir tahun 2011 lalu, saya nggak bisa berhenti merasa terharu. Ilman menyanyikan lagu "Rukun Islam" dan "Satu-satu Aku sayang Ibu" yang liriknya dia ganti dengan "satu-satu aku sayang bunda... dua-dua juga sayang papa..."

Ilman sekarang bisa nyanyi beberapa nusery rhymes, seperti "Come swim with me" atau "Vinko the Dancing Bear", "Colors"-nya Barney Dinosaurus, dan lain-lain. Dia pun sekarang bilingual - bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setiap kata, pasti diikuti bahasa Inggris. Misalnya, "kucing - cat", "kuda - horse". Terkadang, Ilman juga mengajari gurunya di Solalin menyanyikan lagu yang saya ajarkan padanya. Untuk akademikpun, kemajuan Ilman jauh melampaui target. Begitu laporan dari guru Ilman. Sekarang, Ilman sedang diajari kemandirian, seperti makan sendiri atau membasuh diri sendiri. Ilman sudah bisa merecoki kami di dapur, setiap dia mau makan.

Perjalanan masih panjang. Panjaaaang banget supaya Ilman bisa betul-betul mandiri. Seperti Osha yang sekarang kuliah di Yogya, padahal mamanya di Bekasi. Seperti anak-anak berkebutuhan khusus lain yang berprestasi.

Setiap saya menyadari batas kesabaran saya atau papanya pada Ilman ketika dia tantrum, saya selalu berpikir, seandainya bukan eyang Ilman yang ngasuh saat kami bekerja. Apa yang akan diperbuat oleh pengasuhnya, ya, saat Ilman tantrum? Disiksakah? Dipukulikah? Sebab terkadang, kami aja - orangtuanya - suka nggak sadar melayangkan tangan kami di salah satu bagian tubuhnya, setiap dia tidak terkendali. Kami bersyukur, mesti kedua orangtua saya sudah tua, mereka sabar sekali menghadapi Ilman. Saya nggak tahu dan nggak berani membayangkan, seandainya Ilman pakai pengasuh. Lihat tetangga depan rumah, yang anak-anaknya nggak pernah ngadat, masih dihukum di dalam kamar mandi, kok, sama pembantunya.

Saya percaya, Allah Maha Baik. Saya nggak mungkin dititipi anak spesial, kalo bukan karena saya istimewa. Saya harus belajar banyak dari anak saya. Keadaan ini membuat saya makin kompak dengan suami juga anggota keluarga lain. Saya makin peduli dengan autisme. Dan inipun yang membuat saya nggak akan pernah berhenti mengedukasi orang-orang yang masih seenaknya menggunakan kata "autis" sebagai bahan candaan.

I love you, Ilman. Ilman jantung bunda. Ajari bunda selalu untuk menjadi ibu yang baik buat Ilman, ya..

Oleh-oleeeeh....

Ini murni curhat pribadi. Kalo ada yang tersinggung, mohon maap Anda nggak boleh tersinggung . Karena emang nggak bermaksud menyinggung siapapun dan bukan lagi ngegosip . Cuma curhat pribadi, tapi pengen dibaca orang laen. #eh

Setiap saya baca postingan tentang seseorang yang mau traveling, entah itu di plurk, twitter, pesbuk, di manapun, komen saya cuman satu: "oleh-oleeeeeeeeeh."

Buat saya pribadi, komentar "oleh-oleh" itu ya cuma komentar sebagai bentuk kepedulian saya karena kebetulan saya baca postingannya. Sama sekali nggak pernah bermaksud minta oleh-oleh beneran. Yah, apalagi kalo belum pernah ketemu atau jarak saya dengan orang tersebut memang jauh, gimana ceritanya mau ngoleh-olehin?

Saya tetap konsisten dengan komentar itu pada posting siapapun nggak pandang bulu. Sampai suatu ketika ada yang berceletuk, "teh Peni minta oleh-oleh melulu, ih..." heuheu... Saya kesinggung di situ? Tentu tidak. Biarin, itu jadi ciri khas komentar saya *segitu pengennya punya ciri khas, yak... hahaha*

Lalu, apakah sekarang saya masih berkomentar seperti itu setiap ada yang posting mau bepergian? Tidak. Saya bahkan nggak pernah komen apapun lagi pada posting semacam itu, gara-gara saya pernah menemukan postingan di twitter yang bilang kurang lebih seperti ini, "kenapa, sih, harus minta oleh-oleh setiap ada yang mau pergi? bukannya bilang, `selamat menikmati perjalanan` atau gimana lah, ini malah nagih oleh-oleh..."

Kebetulan, bukan satu orang yang ngetwit seperti itu. Tapi tiga. Memang, nggak pada saat yang bersamaan dan mungkin juga bukan ditujukan ke saya. Cuma, saya tiba-tiba merasa nggak enak aja dengan tulisan seperti itu, kok, kayak nampar saya gitu... hihihi...

Kalo seandainya orang tersebut nanya balik ke saya ketika saya berkomentar "oleh-oleh" itu dengan pertanyaan, "mau oleh-oleh apa?" biasanya saya akan jawab, "dirimu pulang kembali ke sini dengan utuh. sehat wal afiat. itu oleh-oleh terbaik." *lirik seseorang yang sering dapat jawaban ini dari saya*.

Saya mencoba berpikir positif, mungkin orang itu nggak mau terbebani dengan dimintai oleh-oleh. Cuma pengen jalan-jalan atau menikmati liburan aja, kok, harus bawa oleh-oleh. Mungkin, lho, ya... Tapi, ya, sudah ditampar tiga kali begitu, membuat saya berpikir. Walau tulisan itu nggak ditujukan ke saya (sebab memang no mention juga sih), bisa jadi banyak orang yang nggak suka dikomentari "oleh-oleh" ketika mereka hendak bepergian.

Jadi sekarang, saya sering nggak peduli dengan orang yang ngetwit atau posting mau bepergian. Takut keceplosan minta oleh-oleh lagi... hihihi....

Tuesday, July 12, 2011

keresahanku - 2

Baiklah, saya akan melanjutkan cerita lalu...

Seorang teman menawarkan bantuannya untuk terapi okupasi. Sebetulnya ini sudah pernah dilakukan beberapa kali sebelumnya. Tapi, karena saya pengen cari another opinion, akhirnya saya memutuskan untuk menyetujui tawarannya. Untuk itu, saya dan pa il harus bela-belain pergi ke Cibubur. Hehe... Padahal sih, cuma lembaga terapi kecil-kecilan aja, belum setingkat profesor gitu.

Selama terapi okupasi itu, lagi-lagi Ilman masuk ke sebuah ruangan di mana saya dan pa il selaku orangtuanya cuma bisa ngintip dari sepetak jendela. Tentu saja saya bisa mendengar jeritan dan tangisan Ilman. FYI, meski nggak diapa-apain, Ilman kalo udah nangis banjir air mata juga ludah dan memilukan untuk didengar. Rasanya pengen seketika itu juga (untuk ke sekian kalinya) menerjang pintu ruangan di mana Ilman sedang menjalani terapi okupasi dan meraihnya, lalu membawanya pergi dari situ. Tapi tentu saja itu tidak saya lakukan.

Ketika sesi terapi okupasi selesai, Ilman akhirnya keluar dan saya lap mukanya yang sudah bersimbah air mata dan ludah. Saya peluk-peluk, sesudahnya Ilman main di halaman lembaga terapi itu.

Terapis yang melakukan observasi tadi bilang, masalah Ilman adalah "speech delayed" dan salah satu alternatif terapi yang bisa dilakukan adalah dengan disekolahkan, untuk sosialisasi. Diharapkan jika Ilman bersosialisasi, akan muncul kata-kata yang sudah direkam di otaknya, melalui mulutnya. Memang belum masuk ke spektrum ADHD, tapi kalo melihat beberapa gejala ADHD, ada beberapa indikasi yang bisa mengarah ke sana dan kalo nggak segera diterapi atau diambil tindakan, bisa mengarah ke sana.

Tentu saja saya berpikir, nggak mungkin Ilman dimasukkan di sekolah non inklusi atau sekolah biasa aja. Saya mesti giat cari informasi tentang sekolah inklusi yang lokasinya mudah dijangkau dari rumah orangtua saya di Sarijadi. Kalo bisa sih, lokasinya di Sarijadi aja. Kenapa? Supaya Ilman nggak kelelahan. Terkadang, capek membuatnya tantrum. Ilman kalo sudah tantrum, jeduk-jedukin kepalanya ke tembok atau lantai. Perasaan saya selalu hancur kalo melihat Ilman tantrum.

Oke, saya masih mentok. Karena setiap saya survey ke beberapa lembaga terapi, hampir semua sama caranya. Harganya juga alakazam. Saya mulai frustasi. Lalu saya dengar, ada terapis yang bisa dipanggil ke rumah. Tapi, belum sempat saya hubungi orang tersebut, pa il sakit dan itu cukup menyita konsentrasi saya. Setelahnya, ilman sakit dan semuanya mengakibatkan pekerjaan saya di kantor menumpuk. Akhirnya saya mulai melupakan hasrat menghubungi terapis yang katanya bisa dipanggil ke rumah itu.

Waktu terus bergulir, bahkan saya melewatkan pendaftaran siswa baru untuk TK. Sampai akhirnya, libur lebaran 2010 lalu, bapak saya memberi tahu saya bahwa ada rumah terapi atau sekolah luar biasa di Sarijadi, yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Hmm.., apakah bapak saya akhirnya menyadari dan bisa menerima kenyataan bahwa Ilman seorang anak berkebutuhan khusus a.k.a special needs kid? Sebelumnya, bapak kan sama sekali menolak deskripsi saya dan pa il bahwa Ilman termasuk anak berkebutuhan khusus. Tapi saya anggap ini sebuah jalan. Ketika orangtua sudah menerima kenyataan dan merestui, mungkin memang terbuka jalan lebar menuju solusi, termasuk untuk Ilman.

Saya datangi sekolah luar biasa itu. Setelah ngobrol dengan kepala sekolahnya, beliau meminta Ilman untuk mereka observasi selama tiga hari. Mereka minta saya membekali Ilman buku tulis untuk menjadi buku penghubung. Setelah observasi selama tiga hari, saya langsung mendaftarkan Ilman di sana. Kepala sekolahnya kaget, karena tidak merasa memaksa Ilman untuk sekolah di situ. Beliau bilang, "Ibu betulan mau menyekolahkan Ilman di sini?" Hahaha.. kaget saya mendengar pertanyaan polos ibu kepala sekolah ini. Kok, kayak yang nggak pede. Saya jawab, "Iya. Saya cukup cocok dengan tempat ini. Dan saya akan memercayakan Ilman ke Ibu dan para guru lainnya di sini. Mohon bantuannya."

Maka, sejak 4 Oktober 2010, Ilman mulai sekolah di rumah terapi. Di situ, Ilman termasuk anak bawang, umurnya paling kecil. Kebanyakan sudah usia SD dan SMP. Waktu Ilman masuk, muridnya ada 17 orang dan gurunya 13 orang. Sistem pengajaran mereka adalah satu guru versus satu murid. Setiap murid punya penanggung jawab program, tapi yang ngajar bisa bergantian gurunya.

Seminggu Ilman sekolah, mulai terdengar nyanyian dari mulutnya, lagu alfabet, baik versi bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Sampai sebulan, hanya lagu itu yang dia mau nyanyikan. Padahal, saya mengajarkan sangat banyak lagu. Bosan dengan lagu alfabet, dia mulai nyanyi Cicak di Dinding. Meskipun artikulasinya belum jelas, tapi dia sudah bisa menyanyikannya secara lengkap. Makin lama, kosa kata Ilman makin berkembang.

Ilman sangat menyukai gadget, apapun itu. Mulai dari komputer, laptop, handphone bahkan ebook reader. Ya, dia suka mengutak atik. Setelah empat bulan sekolah, Ilman mulai merekam judul-judul lagu yang sering diputarkan untuknya. Di antaranya Everything - Michael Buble, Haven't Met You Yet - Michael Buble.

Suatu ketika, saya melihat ada tulisan "Everything", "Lucky", "LOVE", "Michael", "bingo", "coklut", "tango" di ponsel saya. Saya takjub. Ilman yang mengetiknya. Saya kirim sms itu ke eyangnya. Saya katakan bahwa itu Ilman yang ngetik. Saya juga kirim ke gurunya. Ternyata, ketika akhirnya dia berhasil merampas ponsel gurunya, dia mengetikkan kata-kata itu di ponsel gurunya. Jadi, ya, gurunya percaya kalo Ilman lah yang mengetik. Kalo dia main mini game di laptop pun, dia sering menggunakan "Everything", "LOVE" atau "Lucky" sebagai user name 

Sekarang, Ilman sudah sembilan bulan bersekolah di sana. Sudah mulai diinklusikan ke TK juga yang memang bekerja sama dengan rumah terapinya. Perkembangan kosa kata Ilman sudah cukup pesat. Dari awal, target saya, pa il dan kepala sekolahnya adalah komunikasi dua arah untuk Ilman. Komunikasi dua arah, seperti meminta, Ilman belum memenuhi itu. Dan kami (saya, pa il juga pihak sekolah) masih berupaya untuk meningkatkan kemampuan Ilman dalam komunikasi dua arah. Namun sejauh ini, saya cukup bahagia dan bangga dengan prestasi Ilman yang bahkan sudah bisa mengucapkan "bunda" dengan jelas, meski kadang-kadang setelah mengucapkan kata "bunda" dia menunjuk pundaknya dan bilang "punda"...hihi.. Begitu juga dengan lagu "topi saya bundar..." disambung dengan kalimat "dua-dua juga sayang papa..." hahaha...

Berkat doa dan dukungan teman-teman semua, insya Allah, saya dan pa il akan terus belajar bersabar menghadapi Ilman. Seperti yang pernah dikatakan ibutio pada saya, "Special kids for special parents". Mudah-mudahan, kami yang dikaruniai anak yang berkebutuhan khusus memang adalah orangtua pilihan. Kesannya menghibur diri, ya..hehe... tapi sungguh, memang tidak mudah menjadi orangtua, apalagi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus. Karenanya, saya sangat bisa merasakan perasaan orangtua yang memiliki anak dengan autisme ataupun anak dengan ADHD. Saya akan terus memberikan dukungan pada mereka, terutama dukungan moral. Karena, saya mengalaminya juga. Saya tidak akan pernah iri dengan "kehebatan" anak-anak "normal", karena saya adalah orangtua spesial.

Doakan kami terus, ya... Terutama supaya kami tetap sabar ketika Ilman mengamuk karena hal-hal yang tidak dapat kami pahami. Juga agar kami tetap sabar ketika menghadapi orang yang memandang seolah-olah Ilman itu aneh 

Monday, January 31, 2011

Keresahanku

Ketika saya aktif di PAS dulu dan sesudahnya, banyak yang berkonsultasi soal kegiatan untuk anak-anak pada saya. Misalnya, "kak, punya ide apa, nih, buat bikin acara anak-anak yang dibawa ke arisan?" atau "Kak, bahan finger painting apa, sih?" atau "Kak, ada ide ga? Mau bikin acara buat anak-anak, lokasinya di sini, tempatnya begini dan begitu... bla bla bla..."

Biasanya, saya tokcer kasih mereka ide dan gampang sekali menjawab. Bahkan meski saya sudah bertahun-tahun jadi alumni PAS, masih aja ada yang sms sekedar nanya ide itu. Tidak sedikit juga, beberapa ibu yang anak-anaknya dulu saya mentorin, berkeluh kesah pada saya, minta dibantu cari jalan keluarnya, kalo mereka punya masalah komunikasi dengan anak mereka, seakan-akan saya sangat mengenal anak mereka atau jangan-jangan mereka nyangka saya ini psikolog perkembangan anak, ya? Hihi... Ada tampang gitu? :p

Beberapa waktu lalu, saya bertanya pada salah satu teman lama yang pernah aktif di PAS juga, nanyain, "eh, kegiatan apa, ya, yang bikin anak kita betah mengerjakannya?" Dia lalu menjawab, "Lah? Kak Peni kan jagonya? Kok malah nanya saya? Biasanya, kan, saya yang tanya sama Kak Peni?" Jujur, saya terhenyak. Kalo dia nggak balik bertanya seperti itu, saya sudah betul-betul lupa seperti apa saya di masa lalu. Haha. Kenapa? Mungkin ada sesuatu yang membuat saya resah, lalu membuat saya abai soal kreativitas buat anak, meski saya punya anak balita. Well, baiklah, saya akan ceritakan keresahan saya ini...

Dua tahun lalu, ketika Ilman mulai memasuki usia 2 tahun, pas kami bertiga mengunjungi ibu mertua di Garut, kakak nomer dua pa il tiba-tiba bilang ke pa il, "Mi, parioskeun Ilman, bisi aya nanaon." (Mi, periksain Ilman, takut ada apa-apa). Saya tersentak. Memangnya, Ilman ada masalah apa? Kok, sampai harus diperiksakan? Maksudnya kenapa, nih? Sakit parah juga nggak pernah, kok, mesti diperiksain. Saya betul-betul nggak ngerti, tapi saya diam saja.

Sampai di Bandung, saya nggak tahan lagi, saya langsung tanya sama pa il. "Maksud aa tadi bilang gitu ke papa, apa?" Pa il jawab, "Iya, Ilman kan belum ada tanda-tanda bisa bicara, jadi ya disaranin biar diperiksain, takutnya ada apa-apa."

Saya langsung ketus menjawab, "Ilman nggak kenapa-kenapa, kok! Dia baik-baik aja. Aa kan jarang ketemu Ilman, tahu apa dia soal Ilman?" Pa il yang lelah dan nggak mau ribut cuma jawab, "Iya, Bunda tahu lebih banyak dari papa bahkan aa. Bunda kan ibunya, Bunda lebih tahu apa yang terjadi pada Ilman."
Saya nggak puas, saya bilang lagi, "Keponakan Papa kan ada yang baru bisa bicara setelah lepas tiga tahun! Buktinya, keponakan Papa itu sekarang seneng bicara. Bisa jadi, Ilman seperti itu juga, kan?"
Pa il menghela napas dan menjawab, "Iya."
End of conversation.

Ya, gimana saya ga "menolak" anggapan kakak ipar, umur 5 bulan, Ilman udah bisa manggil "buah" *maksudnya bunda* ke saya. Udah bisa panggil papa. Meski itu bubbling. Udah bisa bilang "ha" "da" dan beberapa konsonan lainnya, di masa-masa bubbling itu. Umur dua tahun sudah kenal konsep huruf. Sudah bisa baca ba bi bu be bo sampai za zi zu ze zo, meski untuk beberapa konsonan, ga keluar. Sudah bisa menirukan perintah, semacam "tepuk tangan" ketika saya menyanyi "if you're happy and you know it clap your hand!" dst dst... Dan Ilman sudah bisa main ponsel juga ngoprek radio dan dvd player sejak 2 tahun. Wajar, kan, kalo saya agak tersinggung dengan label macam itu pada Ilman?

Tapi, terus terang, kalimat kakak ipar saya terus menerus menghantui saya. Apa iya, Ilman berbeda dengan anak-anak lain? Ah! Saya jadi gelisah! Sampai suatu ketika, saya ketemu di Y!M dengan salah satu kakak kelas saya di SMA *jauh, sih, kakak kelasnya, beda 4 angkatan, ga ketemu jadinya* yang kebetulan punya anak penyandang autism.

Saya ngobrol banyak dengan beliau, sambil nanya-nanya gejalanya apa. Saya mulai memberanikan diri untuk browsing tentang anak dengan ADHD. Beliau bahkan memberikan saya "tes" berupa beberapa pertanyaan dasar untuk melihat kemungkinan apakah ada ADHD yang menempel pada Ilman. Setelah menjawab beberapa pertanyaan beliau, saya lega, karena beliau bilang, "kayaknya Ilman ga autistik, Teh. Tapi, jangan santai dulu, kayaknya ada gangguan perkembangan lain. Jadi, ya, saran saya, tetap dibawa ke dokter spesialis tumbuh kembang."

Keresahan ini saya ungkapkan pada kedua orangtua saya. Tentu saja mereka bereaksi seperti halnya reaksi awal saya dulu. Nggak terima kalo Ilman tidak seperti anak kebanyakan. Walau mereka memang sering bertanya-tanya, "Kok, Ilman ga bisa dibujuk dengan 'nanti dibeliin balon' saat dia nangis? Atau 'ya, nanti dibeliin permen, cup jangan nangis'." Dan terkadang, orangtua saya kuatir tiba-tiba Ilman bilang, "Minta uang buat jajaaaan..." lalu nangis guling-guling. Karena hal itu biasanya sudah terjadi pada anak usia dua tahun, kan? Dan Ilman tidak melakukan itu.

Saya mulai memberanikan diri bicara dengan pa il soal itu. Ternyata, pa il memang sudah melakukan riset terlebih dulu, tanpa bicara sama saya. Intinya, ya, itu. Dia takut saya tersinggung atau marah lagi. Hehe. Pa il lalu kasih saya tautan tentang photography memory. Ya, saya ingat, Ilman punya itu. Suatu ketika, saya minum jamu sakit bulanan Ki***ti di depannya, lalu dia mengamati botolnya langsung merebutnya. Begitu si botol sudah di tangannya, dia langsung melarikan botol itu ke ruang TV, mencari-cari. Saya ikuti, dan Ilman menarik kaleng wafer Ta**o dari kolong meja, lalu menjejerkan dua produk berbeda itu. Ternyata dia menemukan logo yang sama, "OT". Saya tersentak. Tidak terpikir oleh saya yang orang dewasa untuk mengamati hal remeh temeh seperti itu, sementara untuk anak sekecil dia, yang usianya waktu itu belum dua tahun, sudah bisa memperhatikan hal-hal seremeh itu. Amazing ada. Takut juga ada.

Terus, pa il nyuruh saya buka wikipedia tentang anak autism. Di sana, saya mendapati gambar seorang anak yang tertidur di depan mobil-mobilan yang dijejer sangat panjang. Lagi-lagi napas saya tercekat. Ilman sering menjejerkan mobil-mobilan seperti itu. Tapi, awalnya saya pikir, karena dia sering lihat mobil banyak di parkiran. Begitu juga dengan magnet lemari es. Ilman sering menyusunnya menjadi barisan yang panjang. Juga masalah sepeda. Ilman lebih suka memutar rodanya dengan cara membalikkan sepedanya, ketimbang sepeda itu dinaikinya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis saya. Apakah Ilman punya gejala itu?

Akhirnya, saya sepakat dengan pa il, untuk membawa Ilman ke dokter tumbuh kembang. Awalnya, saya minta teman pa il, yang kebetulan berprofesi sebagai terapis autistik, untuk "melihat", kira-kira Ilman ada gejala itu atau tidak, hanya dengan sekelebatan mata saja. Karena, orang ini pernah bilang, dia bisa melihat seorang anak dengan autis atau tidak hanya dengan sekali menatap matanya saja. Cuma, waktu sama Ilman, dia bilang, "Ilman ga autis, Pen. Dia mah genius, pinter teuing. Jadi, ngerasa sudah bisa melakukan segala sesuatu, jadi kayak ga butuh orang lain." Percaya nggak percaya, ya. Lalu dia melanjutkan, "yah, kalo ga percaya sih, bawa aja ke dokter. Atau, sebelum dibawa ke dokter, kamu bikin catatan aktivitas dia selama 2 minggu, tiap hari 24 jam, jangan pernah putus, termasuk dietnya, segala macam. Jadi, pas kamu ketemu ahlinya, kamu udah punya catatan pengamatan selama 2 minggu itu, buat jadi referensinya."

Sayangnya, sampai sekarang, si catatan 2 minggu itu belum juga terkerjakan. Saya dan pa il akhirnya memilih buat langsung menemui dokter tumbuh kembang. Sebetulnya, saya punya banyak teman dengan latar belakang pendidikan psikologi, tapi TIDAK SATUPUN yang mengambil bidang Psikologi Perkembangan Anak! *keluh*

Lalu, saya dan pa il bawa Ilman ke salah satu pusat tumbuh kembang di daerah Bagusrangin. Di sana, Ilman diobservasi selama 1 jam oleh dokter tumbuh kembang. Dokternya bilang, "Anak ini tidak memiliki ciri-ciri autisme, Bu. Terapi wicara saja sepertinya cukup. Tapi, dia harus diobservasi lebih lanjut oleh psikolog. Sabtu ini dicoba saja. Sama sekalian tes berra (tes pendengaran), mungkin ada suara-suara yang tidak dia dengar." Hari Sabtu yang dijanjikan itupun, Ilman diobservasi. Sebelumnya, Ilman dicobakan terapi wicara dulu, di lembaga yang sama. Hasilnya, selama sesi terapi wicara, Ilman malah nangis melulu. Yah, gimana ga nangis. Ruangan tempat terapi wicaranya sempit, agak gelap dan spooky, sama orang asing yang ga dia kenal. Saya rasa, itu bukan cuma masalah anak berkebutuhan khusus kalo harus langsung adaptasi tempat macam gitu. Saya aja yang normal (mungkin) butuh waktu buat adaptasi ada di ruangan macam gitu.

Selama observasi oleh psikolog perkembangan anak dan terapis itu, Ilman nangis melulu. Soalnya, Ilman memang ga mau disuruh. Sebelumnya, sang dokter sempat bilang, kalo Ilman nih "stubborn" dan mau-maunya sendiri aja. Sayangnya nggak ada catatan tertulis dari si psikolog, dia cuma bilang, kalo Ilman butuh terapi perilaku. Begitu saya lihat biayanya, lutut langsung lemes. Asli ga akan kebayar dengan tarif ajaib ini. Saya sempat down, kenapa sih, buat anak-anak berkebutuhan khusus seperti Ilman dan teman-temannya, biayanya nggak sedikit? Uang dari mana? Oke, saya dan pa il memang kerja. Tapi kalo kami cuma fokus bayar sekolah Ilman, kebutuhan-kebutuhan pokok lain ga mungkin terpenuhi. Belum lagi masalah "siapa yang bakalan antar jemput Ilman?", karena nggak ada jadwal yang available buat kami berdua. *keluh*

Akhirnya, Ilman "dibiarkan" dulu, sambil kami berdua berusaha mencari tahu semoga bisa ditemukan cara terapi yang mudah dan berbiaya tidak banyak.

Selama itu, orangtua saya masih sulit buat menerima kalo Ilman harus diterapi. Kadang, ibu saya menyalahkan saya. Mulai dari karena saya terkena radiasi komputer selama hamil lah, apa lah. Belum lagi, beberapa teman yang tahu ini, malah menyalahkan karena saya kerja, jadi Ilman kurang perhatian. Grr... sotoy banget, sih! Tahu apa mereka? Terus terang, ini membuat saya down banget. Udah mah harus bisa nerima kenyataan bahwa anak saya berbeda dari anak-anak kebanyakan, dapat tuduhan dari sana sini... Yeah... memang, kalo nggak ada di posisi orang yang mengalami, orang yang ngasih advice tuh lebih cenderung sotoy (eyerolling).

Sementara itu, saya sering bertanya pada ibu-ibu yang anaknya sebaya Ilman, "gimana sih, caranya biar anak tuh cepet ngomong?" Jawaban mereka sama semua, "Sering diajak ngobrol, Bu..." Wew.. ga salah, tuh? Semua orang juga tahu saya ini bawelnya parah... Mana mungkin Ilman ga diajak ngobrol. Dan sekeluarga saya semuanya suka sekali ngobrol.. jadi, kayaknya kalo masalahnya ga pernah diajak ngobrol... saya ga bisa terima, deh! Hahaha...

*bersambung*

Friday, January 28, 2011

Rapor 2010

Mungkin saya memang telat, baru bikin rapor 2010 hari gini. Hihi. Abisnya, di akhir tahun, kerjaan numpuk, trus didukung rasa malas, akhirnya ga jadi-jadi deh, rapornya.
Tapi, toh, masih Januari juga... cuek aja, deh, telat banget juga...

Mulai dari mana, ya, tapinya?

Pertemanan
Tahun ini, saya mesti melepas beberapa (yang tadinya) teman baik. Alasannya, karena beberapa orang itu ternyata tidak membawa kebaikan buat saya. Malah sempat membuat hubungan saya dengan suami berantakan gara-gara mereka. Nggak hanya itu, nggak begitu banyak pengaruh baik dari mereka untuk saya, karena kebetulan cara bicara mereka kasar dan kerap membawa energi negatif bagi saya dan ga bawa manfaat. Sebetulnya berat melepas teman, but it's for my own sanity, juga kebaikan keluarga saya. Tapi ga sedikit juga saya dapat teman baru, sebagai gantinya. Hehe.


Baca
Trus soal baca. Niat sih menggebu-gebu, ye... Tapi trus karena mulai sibuk, akhirnya bacanya banyakan ngadat. Apalagi pas awal-awal hamil, sama sekali nggak kuat baca. Tapi pas akhir tahun, mulai baca lagi, deh.


Motret
Huhuhu... ini kisah tragis. Pengennya motret sehari satu trus diaplot. Menjelang akhir Januari 2010 lalu, pa il tiba-tiba sakit. Otomatis, energi tercurah buat ngurusin beliau. Motret pun terbengkalai. Perlu waktu 2 minggu untuk sehat! Mestinya itu nggak menyurutkan langkah saya, tapi ngaplot foto untuk 2 minggu, bukan hal yang mudah buat saya. Hehe. Soalnya, kebetulan juga, di saat pa il sakit, saya ngurus sendirian. Ibu dan bapak lagi out of town ketika itu. Ya ngurus ilman yang lagi masa-masanya butuh perhatian besar, papanya pun demikian.

Tapi di luar project 365 days, saya tetep motret walau semangat langsung drop, gara-gara ada seseorang yang bilang, foto-foto saya sampah semua. Hiks... Asli sakit hati, masa iya, anak saya *yang sering jadi objek foto saya* adalah sampah. Meski banyak yang menghibur, saya tetep bete. Hahaha...

Cuma, ada "prestasi" yang boleh dibilang bikin saya senang tahun lalu itu. Foto saya menang di detikhealth.com ketika itu. Hehe... Yah, hadiahnya sih ga seberapa, kalo beli barang-barang itu ga nyampe 300rebu *sesuai janjinya*. Tapi, ya sudahlah, buat saya yang nubie, saya cukup senang.

Scrapbook
Don't ask me about it. Saya sudah dipecat beberapa desainer kit gara-gara ga bisa ngerjain layout tepat waktu. Koneksi internet yang bermasalah juga mood yang entah kenapa sulit sekali saya kumpulkan jadi kendala utama. Tapi masih ada satu designer yang baik banget, mau nerima saya kembali tahun ini. Mungkin akan dicoba mulai Maret nanti. Hehe...

Nulis
Justru malah makin jarang aja nyentuh blog. Bahkan untuk blog walking sekalipun!


Ada banyak yang saya resolusikan, terutama soal pengendalian diri. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya malah dikasih banyak masalah yang berhubungan dengan temperamen, yang ternyata berhasil membentuk karakter saya. Apa saya masih pemarah? Hmm.. mungkin, meledak-ledaknya pas saya belum siap nerima semua masalah itu, plus masalah hormonal trimester awal. Tapi, setelah trimester awal terlalui, saya udah mulai reda dan bahkan udah mulai mengabaikan segala sesuatu yang bisa menjadi penyulut kebakaran emosi itu. Hehe... Mudah-mudahan sih, seterusnya.


Lalu, tahun ini? Apa saya bikin resolusi? Nggak. Saya nggak bikin resolusi apa-apa. Saya ingin menjalankan hidup sesuai dengan yang sudah ditentukanNYA, berusaha sebaik-baiknya menjalaninya. Klise? Ya, itu benar. Hehe. Yang susah kan konsistensi menjalankannya dengan baik.

Boleh dibilang, tahun 2010 adalah tahun terburuk soal pertemanan. Kalo karir sih, saya memang nggak punya niat buat ngoyo jadi seseorang dengan jabatan tertentu kalo harus mengorbankan waktu pribadi dan keluarga. Saya butuh kerja, iya. Tapi saya ga (atau belum?) butuh jabatan tertentu sebagai achievement. Yang saya tahu, saya cuma ingin berkarya, takutnya kalo saya duduk di jabatan tertentu, saya lupa sama idealisme saya untuk berkarya. *ngomong apa sih, ini?*

Rencana buat kasih ilman adik di tahun 2010, memang alhamdulillaah dikabulkan, tapi waktunya memang sedikit bergeser. Maksudnya, lahirnya baru tahun berikutnya. Hehe. Doakan saja, ya...

Mungkin saya memang nggak perlu bikin resolusi. Yang penting jalankan saja hidup dengan baik dan benar tanpa perlu ngoyo. Yang penting semua well organized dan bukan berarti sangat nyantai. Hohoho... Soal ilman gimana? Nanti saya postkan di tulisan berikutnya... Alhamdulillaah, masih diberi kesempatan buat memperbaiki diri di tahun berikutnya. Semoga.

Friday, November 26, 2010

Senang Melihatmu Seperti Sekarang Ini...

Beberapa hari yang lalu, waktu ngecek friend request di pesbuk, seperti biasa, saya masih mendapati akun pesbuk yang memang dipake buat jualan. Dan seperti biasa, nggak saya confirm tapi nggak juga saya ignore. Termasuk yang satu ini. Saya diinvite oleh akun pesbuk make-up artist gitu. Waktu saya klik mutual friendnya, cuma salah satu teman SMP juga teman arsitek teman SMA saya. Intinya, sudah saya ga pedulikan, sampai di folder inbox, ada message dari yang bersangkutan.

Isinya seperti ini:
`Hi... Saya masih ingat, Peni dulu teman saya di kelas 2E SMPN 26 Bandung ya? Saya murid baru dan cuma kelas 2 aja di SMPN 26 Bandung.. Kls 3nya saya dilain sekolah.. Saya masih ingat ada guru pengajar PKL/KKN namanya Pak Chepi Kurniawan..  Masih ingat saya? Pasti udah lupa.. Hehehehe Saya Kaka  Sukses selalu ya...  `

Saya berusaha keras memeras ingatan ke masa lalu. Siapa, ya? Profile picture-nya juga wajah orang dengan make-up hasil garapannya. Bukan mukanya. Trus, tiba-tiba saya teringat. Dia pasti Kaka yang dulu saya panggil Asep, yang saking ngefans ama tulisan tangan saya, sampai niru-nuru tulisan dan tanda tangan saya sampai miriiiip banget. Hihihi.

Dan dia juga sampai niru penampilan pak Chepi itu dengan memangkas rambut bergaya rambut pak Chepi juga pakai kacamata yang persis banget modelnya yang dikenakan beliau. Hmmm... Kaka yang saya ingat, sosoknya dulu tinggi kurus dan gayanya terlalu melambai untuk seorang cowok. Ga macho gitu.

Dari sikapnya yang sering copy cat itu dan juga kegemulaiannya, nggak jarang dia diejek oleh cowok-cowok atau cewek-cewek di sekolah ketika itu. Didikan orangtua saya yang cukup keras dalam hal tidak boleh pilih-pilih teman, membuat saya tetap mau menemaninya dan sering membelanya ketika dia diejek "banci" oleh teman-teman kami dulu. Saya merasa beruntung karena orangtua saya kerap memberi contoh untuk nggak pilih-pilih teman, sehingga teman dalam bentuk bagaimanapun, tetap bisa jadi teman saya, kecuali kalo udah teruji dia annoying buat saya.

Saya ingat, saya pernah dipanggil guru BP beberapa kali, gara-gara saya nampar yang ngejek si Kaka ini. Dan gara-gara itu juga, saya pun diejek kalo saya dan Kaka pacaran. Apapun itu bentuk ejekan, saya tetap nggak suka teman saya diejek. Apalagi, meskipun Kaka jarang curhat, saya bisa tahu bahwa dia pun nggak suka dengan keadaannya dan nggak tahu mesti gimana untuk bisa "sama" dengan yang lainnya.

"Kekurangan" Kaka yang lain adalah... dia nggak begitu bisa mengikuti pelajaran di kelas. Nggak ada yang memotivasinya buat bisa mengejar prestasi di bidang akademik. Kelihatan banget, kalo Kaka ini benar-benar butuh sosok yang bisa dia tiru. Dan prestasi akademik yang bahkan di bawah nilai rata-ratapun nggak menggugahnya buat berusaha lebih keras. Meskipun dia main dengan saya dan teman sekelompok saya yang ketika itu dapat ranking do-re-mi di kelas, dia ga juga termotivasi. Hasilnya, dia nggak naik ke kelas 3.

Berbagai upaya pendekatan dilakukan oleh orangtuanya, supaya Kaka bisa naik kelas 3. Tapi wali kelas saya ketika itu keukeuh, menyatakan bahwa Kaka nggak layak naik ke kelas 3. Diapun kembali pindah sekolah. Saya dan tiga teman saya dalam kelompok saya ketika itu, merasa sangat sedih dan kuatir. Nanti, siapa yang bakalan belain dia di sekolah baru, kalo ada yang ngejek dia lagi? Kami berempat berteman sama dia bukan karena dia suka traktir kami. Sayangnya, dia berusaha keras membeli hati teman-teman supaya nggak ngejek dia dengan mentraktir. Itu yang kami berempat kuatirkan tentangnya. Jujur aja, kami berempat ga pernah mau ditraktir sama dia.

Dan kisah tentangnya putus seiring kepergiannya meninggalkan sekolah kami. Sampai akhirnya, tas! Dia nge-add saya di pesbuk beberapa waktu lalu dan bilang kalo sekarang dia punya salon dan juga seorang make-up artist.

Terus terang, saya bahagia mendengarnya. Karena finally, dia sudah menentukan jalan hidupnya sendiri. Hilang sudah kekuatiran saya soal "masa depannya". Waktu kami sempat chat beberapa waktu lalu, dia bilang ma kasih ke saya, karena saya selalu membelanya ketika dia diejek. Hahaha... ternyata saya pernah bermental preman rupanya....


Yah, Kaka... saya senang melihatmu seperti sekarang ini... semoga kamu selalu bisa menemukan jalan hidupmu dan membuktikan bahwa belum tentu yang ngejek kamu dulu, sekarang hidupnya lebih hebat darimu.

note: tadinya mo ngambil foto dia lagi make-up orang gitu, tapi saya ga niat publish dia di sini... jadi yaaa... saya pinjam foto deh dari sini aja....