Showing posts with label lagipengencurhat. Show all posts
Showing posts with label lagipengencurhat. Show all posts

Monday, May 27, 2013

Lagu Rindu


Bintang malam sampaikan padanya
 Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
 Embun pagi katakan padanya 
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

Tahukah engkau wahai langit 
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
 Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
 Hanya untuk dirinya
 
 Lagu rindu ini kuciptakan 
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta 
Walau hanya nada sederhana
 Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan


Salut sama mereka yang LDR-an, Kang.
Sayah mah ga mau.
Bukan karena anak-anak rewel.
Alhamdulillaah, mereka baik-baik aja.
Tadi pagi, pas aku pake kerudung, ternyata kakak pake sepatu dan kaos kaki sendiri. Masya Allah.
Sampai terharu. Bangga banget, deh, sama kakak.

Cuma ya kerasa aja
Bangun tidur ga ada Kakang.
Janji, ya.
Ninggalin kami cuma sekarang ini aja, khusus wamil.
Besok-besok ga boleh ninggalin kami lagi...

Kalo kakang tau, gimana tangisan anak-anak kemarin...
Hati ikutan berasa teriris...
Mungkin, kakak terkesan menangisi si OK
tapi sebetulnya, dia cari Kakang...
waktu kuliatin foto kakang pas abis potong rambut, kakak bilang, "papa pangkas rambut"

Adek malahan senyum-senyum tersipu, seakan lagi ketemu papanya.

Baik-baik di camp, ya, kang.
Nikmatin seminggu tanpa suara bawel istrimu, atau suara ledakan tangis dan rewel anak-anakmu.
Hihihi...

Miss you soooo much!

Friday, August 03, 2012

Special Parents for Special Kids

Seminggu yang lalu, saya berkutat di Wordpress dan sebuah milis. Kemudian, tulisan saya menuai tangisan ibu-ibu yang membaca, sehingga gelar Drama Queen kembali saya raih. Saya nggak sanggup menjangkau MP ketika itu.

Lalu, dua hari yang lalu, saya kembali berkutat di sana untuk menulis lagi. Lagi-lagi air mata saya terkuras. Yah, saya pasrah aja, deh, disebut Drama Queen (forever).

Sebelumnya, pernah curhat di plurk juga, kalo yang saya dapat informasinya dari teman lain, Abdullah menderita Diffuse Intrinsic Pontine Glioma. Apakah itu?
A Diffuse Intrinsic Pontine Glioma (DIPG) is a tumor located in the pons (middle) of the brain stem.

Diffuse pontine gliomas are located in the brainstem, at the base of the brain. They are usually diagnosed in children aged 5 to 10. They are difficult to treat because the tumor cells grow in between and around normal cells. It is impossible to remove a tumor in this area because it interferes with the functioning of this critical area of the brain.

What causes a diffuse pontine glioma?

We don’t know what causes a diffuse pontine glioma. There is no way to predict that a child will get brain cancer and nobody is to blame if a child develops a tumor. Researchers have been studying whether environmental factors, such as radiation, food, or chemicals can cause brain cancer. At the moment, there is no definite proof that there is a connection.

What is the outcome for a child with a diffuse pontine glioma? 

Because they are difficult to treat, the outcome for brainstem gliomas is poor. After diagnosis, the survival time is on average 9 to 12 months. To improve the outcome, doctors have tried giving higher amounts of radiation, or using chemotherapy medicines to kill the tumor cells. Research is underway to achieve better results. When the tumor recurs, the focus of treatment is on managing symptoms to make sure the child is as comfortable as possible.
Apakah kita sanggup membayangkan kesakitan yang lebih lama pada Abdullah?

Begitu saya tahu bahwa penyakit ini yang diderita, saya hanya bisa mendoakan semoga Ranny dan Dadan mengikhlaskan putranya. Saya nggak bisa membayangkan kalau Abdullah bangun dari komanya, hidupnya akan seperti apa.

Ternyata, ketika saya menemui Ranny di rumah sakit, saat kami menunggu jenazah dibawa ke rumah duka, dia sudah sangat siap dengan kemungkinan itu. Kemungkinan kalau hidup anaknya nggak akan lama lagi. Atau kalaupun hidup, kemungkinan besar akan cacat yang justru membuat kita akan semakin iba. Belum lagi rasa sakit yang harus ditanggungnya. Keyakinan inilah, yang membuat Ranny mengikhlaskan seandainya Abdullah dijemput Allah. Ranny juga yang membujuk suaminya untuk mengikhlaskan Abdullah. Sebab janji Allah akan surga.

Peristiwa seminggu ini benar-benar telah banyak mengubah hidup saya. Saya teringat akan awal ayat terakhir (286) Surat Al Baqarah. Laa yukallifullaahu nafsaan illaa wus 'ahaa. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Saya percaya, Ranny dan Dadan adalah orang yang tangguh sehingga dia mendapatkan ujian sehebat ini. Mereka berdua adalah special parents. Punya anak sehebat Abdullah.

Sewaktu saya berpelukan dengan Ranny di dekat ruangan tempat di mana jenazah Abdullah berbaring, Ranny mengatakan, "perjuanganmu masih panjang, Pen! Kamu juga orang terpilih!"

Saya? Orang terpilih? Oh, iya. Saya dan Pa il adalah special parents. Saya berjanji akan menjalankan amanah saya sebaik-baiknya sebagai special parents.

Lalu, saya katakan pada Ranny, "selamat, ya, Ran! Kamu dan Dadan udah dapat kunci pintu surga. Tinggal meneruskan jalan yang sudah dikasih Abdullah."

Innalillaahi wa inna ilaihi raji'uun. Allaahu Akbar!

Friday, May 11, 2012

Empati?

DISCLAIMER: Tulisan ini "galau" detected. Jadi, kalo ga mau ketularan galau, sebaiknya nggak usah baca. #eh

#1. Suatu hari, teman saya lagi PMS, jadi lagi mudah meledak. Berbeda dengan saya yang meledaknya bisa dua hal: marah-marah atau menangis, teman saya yang satu itu bakalan merepet curhat nggak berkesudahan. Kalo dituruti, 5 jam bisa habis waktu saya buat dengerin curhatan dia.. via telpon! Kebayang, nggak, panasnya si ponsel.. hihihi...
Selain sedang PMS, dia juga sedang punya banyak masalah. Sampai merasa dirinya adalah orang paling menderita sedunia.

Kebetulan, dia butuh merepet dan ingat pada saya, jadilah dia menelepon saya. Sayangnya, dia nggak nanya kabar saya dulu, apakah saya available atau tidak untuk dicurhati. Apakah saya sudah pasang shield tebal, dll. Dan waktu dia asik curhat, saya sedang terkapar lemah tak berdaya karena sakit. Apakah dia ngeh dengan suara saya yang cuma bisa bilang "hmm?" "oh, gitu.." "waduh..." dengan suara lemah? Dia terus merepet sampai batre ponsel saya habis dan percakapan terputus. Saya terlalu lemah buat ambil charger waktu itu, saya putuskan untuk tidur.

Apa yang terjadi ketika ponsel saya sudah nyala kembali? Dapat kiriman sms banyak banget, yang isinya marah-marah, karena saya memutuskan telepon dan nggak minta maaf!

#2. Kemarin pagi, masih sepi, ada asap rokok masuk ke ruangan saya. Biasanya kalo kipas di atas kepala saya dinyalakan, asap rokok nggak terlalu ngaruh di dalam ruangan saya. Tapi, kemarin itu nggak. Setelah saya telusuri, ternyata penjaga kantor sebelah lagi asik ngerokok di depan jendela ruangan saya. Karena saya merasa terganggu, saya bicara baik-baik pada beliau, "Pak, punten, ulah ngaroko di payuneun jandela ieu. Haseupna lebet ka ruangan saya, Pak. Saya janten sesek, teu tiasa napas. Nuhun, Pak" (Pak, maaf, jangan merokok di depan jendela ini. Asapnya masuk ke ruangan saya, Pak. Saya jadi sesak, nggak bisa napas. Ma kasih, Pak."

Apa reaksi orang ini? Matanya mendelik ke jendela saya, lalu bilang, "oh!" dan pasang ekspresi murka. Kemarin, saya sedang senang hati, jadi lihat reaksinya saya nggak berniat menggampar. Kalo kemaren mood saya lagi ancur, bisa saya labrak orang itu. Bukannya minta maaf! Yah! Saya tahu! Dia gengsi ditegur "anak buah" yang masih muda dan lucu ini. Heran saya. Ke tetangga sekitar, dia suka ngaku-ngaku "Manager" dan nunjuk kami-kami yang muda ini anak buahnya... *ngakak guling-guling*
Kalo tetangga di daerah kantor saya ini waras semua, pasti mereka nggak percaya. Mana ada manager kerjaannya nongkrong di depan teras, yes?

#3. Hari Jumat pagi, biasanya Eyiq senam pagi, seperti postingan-postingannya di hari-hari Jumat. Nah, Jumat itu (udah lama, sih), saya naik angkot dan mau ngetes sinyal GPRS. Saya ngirim iMessage ke Eyiq, soalnya kan paling cepet keliatan. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna hijau, berarti GPRS-nya nggak nyala alias terkirim sebagai SMS. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna biru, berarti GPRS-nya nyala dan terkirim sebagai iMessage.

Pesan saya waktu itu, "lagi senam, ya, Eyiq?" dan blup! Balon kata message di layar berwarna biru. Oke. Berarti sinyal GPRS saya lagi waras. Saya bisa plurk-an kalo gitu. Ternyata, Eyiq balas. Dia jawab, "lihat aja di Path."
Karena sinyal GPRS lagi asik, saya segera buka Path dan hati saya mencelos. Eyiq sedang berduka cita karena sepupunya yang masih bayi meninggal dunia. Dan Eyiq sedang berada di rumah duka.

Segera saja saya minta maaf sama Eyiq. Soalnya saya nggak ngecek dulu Eyiq ada di mana. Niat usil nyapa, malah membuat saya jadi manusia nggak peka. :(


#4. Sewaktu saya lagi sedih, karena iPod ilman hilang, saya cerita ke seorang teman. Ternyata di saat yang sama, seseorang yang saya ceritain itu lagi ada masalah juga. Jadinya, yah, dia meninggalkan percakapan dengan saya karena sedang marah entah sama siapa. Saya yang lagi down, tambah down aja, merasa nggak dipedulikan. Walau keesokan harinya, kemudian dia minta maaf karena merasa nggak peka.

Tapi, yah, ketika kita lagi ketiban musibah, biasanya kita bakalan merasa paling menderita sedunia dulu sih (reaksi umum), sebelum kemudian bisa berikhlas ria. Atau malah marah-marah pas dinasihati untuk mengikhlaskannya dengan komentar, "emangnya ikhlas itu gampang?"

"Lucu"nya lagi, waktu saya cerita ke seseorang yang lain, dia malah dengan santainya bilang, "ya udah, Bu.. beli aja lagi... gampang, kan?" *dalam hati, nih, saya ngedumel, "iya, situ punya duit kayak (maaf) b**ak! Ngegampangin aja!"*

#5. Kapan itu, sejak salah seorang teman saya tahu bahwa Ilman termasuk ABK, dia menjadi ekstra hati-hati pada saya. Alasannya, sih, takut saya tersinggung. Hubungan kami menjadi nggak seperti biasa lagi. Dia terlalu banyak hati-hati pada saya. Misalnya, kalo lagi ngumpul, trus ada yang "pamer" soal kehebatan anaknya, teman saya ini langsung memberi peringatan, "pssst" seraya matanya menunjuk saya diam-diam. Ya, Allah.. memangnya saya kenapa?

#6. Pernah, saya ngajak Ilman main ke rumah salah satu kenalan saya. Waktu itu, Ilman belum bisa bicara. Sementara anak kenalan saya ini sudah bisa ngobrol, padahal usianya dua tahun di bawah Ilman. Neneknya meraih cucunya sambil melirik Ilman dengan sudut matanya (kebeneran saya lihat banget) bilang, "Sini, cucu Oma yang pinter... udah pinter ngomong, abis ini pinter apa lagi ya..." *yah, mungkin saya lagi sensi... tapi, kalo dia sendiri yang ngalamin, bisa terima juga, nggak digituin?*

#7. Sewaktu saya berkomentar soal "lebay"nya pedangdut SJ pas kehilangan istrinya, teman saya tiba-tiba nyolot. "Peni nggak tahu, sih, rasanya kehilangan orang paling disayangi!!" *oke, waktu itu, ibu teman saya baru setahun meninggal. Jadi, dia masih dalam masa berduka.* Saya cuma bisa bilang, "Iya, saya tahu banget, kok. Saya ditinggal ibu yang melahirkan saya waktu saya masih kecil malahan.. hehe.." Tapi, yah, tetep. Saya dianggap nggak berempati.. ya sutra...

#8. Beredarnya joke sehubungan dengan tragedi jatuhnya Sukhoi. Ada yang bilang, "pilotnya kaget, lihat salak segede gunung" lah, juga joke-joke lain yang sama sekali nggak lucu untuk situasi berduka seperti itu. Nggak pada mikirin keluarga yang lagi berduka, apa? Kalo anggota keluarga atau sahabat kamu termasuk korban, masih mau terima orang lain bercanda, hah?

Kenapa, ya... giliran kita yang lagi punya masalah, banyak orang lain yang suka nggak berempati sama kita. Lah, giliran mereka yang punya masalah, mereka pengennya kita yang pakai sepatu mereka...

Wednesday, April 18, 2012

Perjalanan Masih Panjang...

Masih pengen lanjutin cerita ini. Dan emang nggak akan pernah selesai nulis di sini, kayaknya. Hari ini saya lagi pengen menjauh sebentar dari kerjaan. Pengen mendistraksi diri dengan bercengkrama sama MP

Sejak 4 Oktober 2010, Ilman tercatat jadi murid di SLB dan Rumah Terapi Solalin. Tempatnya di Sarijadi, dekat dengan rumah yangkung dan yangti. Jangan bayangkan SLB - Sekolah Luar Biasa yang terdiri dari orang-orang tuna rungu, tuna netra, dll, ya. Memang, sih, tiap orang yang denger kata SLB keluar dari saya, pasti langsung protes. Kenapa Ilman harus masuk SLB? Gitu...


Yes, Solalin itu bukan sekolah biasa. Di dalamnya berisi anak-anak luar biasa. Gurunya juga. Subhanallaah! Kalo punya lima jempol, kuacungin semua, deh! Untuk kesabaran mereka, untuk dedikasi mereka terhadap anak-anak kami yang berkebutuhan khusus. Berkebutuhan khusus dalam hal apa? Di antaranya, mereka menangani anak-anak autis, asperger, speech delayed, ADHD, dan lain-lain.

Progres perkembangan Ilman sejak sekolah di sana, boleh dibilang hebat banget. Mulai dari masih bubbling di usianya yang sudah menjelang empat tahun ketika itu dan sewaktu mulai masuk sekolah, sudah mulai terdengar beberapa kosa kata, seperti "pinjam", "bunda", dan lainnya.

Sekarang? Ilman bahkan sudah jadi copy cat untuk banyak kalimat. Baik itu yang dia dengar dari kami - orangtuanya, gurunya, bahkan dari film yang disukainya. Apakah perjalanan kami selesai sampai di sini? Jawabannya: nggak.

Beberapa waktu lalu, saya masuk jadi anggota grup LRD Member di facebook *saya masih belum tahu apa itu LRD sampai sekarang* dan membaca banyak pengalaman orang-orang yang memiliki anak berkebutuhan khusus di sana. Bahkan, ada ibu yang autis dan punya anak autis pula menjadi anggota di sana.

Setiap kali saya baca postingan mereka di sana, air mata saya selalu berderai. Saya nggak tahu kenapa. Apakah karena saya merasa "nelangsa", kenapa harus anak saya yang mengalami ini? Apakah karena saya mulai capek padahal saya belum ngapa-ngapain untuk meningkatkan kemampuan anak saya? Apa karena saya tahu, karena asperger bukan sebuah penyakit, melainkan diagnosa seumur hidup jadi nggak pernah tahu kapan "sembuh"nya. Saya sempat kecewa, karena ternyata Ilman bukan hanya "speech delayed".  

Sering sekali, tenggorokan saya tercekat, setiap ada pertanyaan, "sampai kapan Ilman sekolah di Solalin?"

Tapi... Kenapa juga saya harus merasa nelangsa? Di grup LRD itu, banyak yang jauh lebih nelangsa daripada saya, tapi mereka "biasa" aja. Mereka tegar. Kuat. Bahkan, saat ngumpul sama para orangtua murid Solalin sekalipun, ternyata masalah mereka jauuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih berat daripada yang saya alami. Ilman dinyatakan asperger, dari hasil diagnosa tim dokter psikiatri anak dan remaja RSHS Bandung. Tapi asperger yang disandang Ilman termasuk ringan. Nggak sampai perlu terapi obat-obatan seperti yang lain. Nggak ada alergi tertentu. Kebetulan memang anaknya aja yang memang terlalu pemilih dalam makanan, jadi agak susah ngasih banyak makanan ke dia. Jadi, kenapa saya harus merasa sengsara? Harus merasa sendirian? I am not alone in this world, right? Saya bukan orang paling menderita di dunia ini, kan? Lalu, kenapa saya harus merasa seperti itu? Wake up!

Sewaktu lihat postingan teman-teman saya akan prestasi anak mereka, terkadang hati saya mencelos. Saya juga pengen banget "pamer" karya anak saya. Tapi, pernah, nih, waktu saya bilang, "alhamdulillaah... kakak Ilman sekarang sudah bisa pakai baju sendiri..." ada yang komentar, "hah? Lima tahun baru bisa pakai baju sendiri? Yang bener aja! Nggak pernah diajarin, ya?"


Waktu Ilman tiba-tiba tiduran di lantai mini market, saya mendapat lirikan tajam dari beberapa pengunjung mini market. Mungkin, mereka pikir Ilman gila, kali, ya.

Oke. Ilman memang termasuk anak berkebutuhan khusus. Asperger namanya. Tapi bukan berarti dia idiot yang nggak bisa diajari apa-apa. Bukan berarti dia gila. Ilman baik-baik aja. Kalopun dia berulah seperti anak nakal, dia nggak pernah menginginkan itu. Kami nggak pernah membiarkan dia untuk seperti itu. Trust me. Kami juga pengen dia bisa bertingkah seperti layaknya anak normal kebanyakan, kok. Dan kami juga yakin, Ilman sendiri pasti menginginkan itu. Itulah sebabnya, kenapa Ilman nggak kami masukkan ke sekolah biasa. Kami mencari sekolah pendampingan seperti Solalin. Supaya Ilman juga nggak jadi korban bullying. Supaya Ilman bisa optimal saat harus bersosialisasi atau belajar mata pelajaran akademik.

Waktu Ilman mau tampil di panggung saat pentas seni akhir tahun 2011 lalu, saya nggak bisa berhenti merasa terharu. Ilman menyanyikan lagu "Rukun Islam" dan "Satu-satu Aku sayang Ibu" yang liriknya dia ganti dengan "satu-satu aku sayang bunda... dua-dua juga sayang papa..."

Ilman sekarang bisa nyanyi beberapa nusery rhymes, seperti "Come swim with me" atau "Vinko the Dancing Bear", "Colors"-nya Barney Dinosaurus, dan lain-lain. Dia pun sekarang bilingual - bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setiap kata, pasti diikuti bahasa Inggris. Misalnya, "kucing - cat", "kuda - horse". Terkadang, Ilman juga mengajari gurunya di Solalin menyanyikan lagu yang saya ajarkan padanya. Untuk akademikpun, kemajuan Ilman jauh melampaui target. Begitu laporan dari guru Ilman. Sekarang, Ilman sedang diajari kemandirian, seperti makan sendiri atau membasuh diri sendiri. Ilman sudah bisa merecoki kami di dapur, setiap dia mau makan.

Perjalanan masih panjang. Panjaaaang banget supaya Ilman bisa betul-betul mandiri. Seperti Osha yang sekarang kuliah di Yogya, padahal mamanya di Bekasi. Seperti anak-anak berkebutuhan khusus lain yang berprestasi.

Setiap saya menyadari batas kesabaran saya atau papanya pada Ilman ketika dia tantrum, saya selalu berpikir, seandainya bukan eyang Ilman yang ngasuh saat kami bekerja. Apa yang akan diperbuat oleh pengasuhnya, ya, saat Ilman tantrum? Disiksakah? Dipukulikah? Sebab terkadang, kami aja - orangtuanya - suka nggak sadar melayangkan tangan kami di salah satu bagian tubuhnya, setiap dia tidak terkendali. Kami bersyukur, mesti kedua orangtua saya sudah tua, mereka sabar sekali menghadapi Ilman. Saya nggak tahu dan nggak berani membayangkan, seandainya Ilman pakai pengasuh. Lihat tetangga depan rumah, yang anak-anaknya nggak pernah ngadat, masih dihukum di dalam kamar mandi, kok, sama pembantunya.

Saya percaya, Allah Maha Baik. Saya nggak mungkin dititipi anak spesial, kalo bukan karena saya istimewa. Saya harus belajar banyak dari anak saya. Keadaan ini membuat saya makin kompak dengan suami juga anggota keluarga lain. Saya makin peduli dengan autisme. Dan inipun yang membuat saya nggak akan pernah berhenti mengedukasi orang-orang yang masih seenaknya menggunakan kata "autis" sebagai bahan candaan.

I love you, Ilman. Ilman jantung bunda. Ajari bunda selalu untuk menjadi ibu yang baik buat Ilman, ya..

Oleh-oleeeeh....

Ini murni curhat pribadi. Kalo ada yang tersinggung, mohon maap Anda nggak boleh tersinggung . Karena emang nggak bermaksud menyinggung siapapun dan bukan lagi ngegosip . Cuma curhat pribadi, tapi pengen dibaca orang laen. #eh

Setiap saya baca postingan tentang seseorang yang mau traveling, entah itu di plurk, twitter, pesbuk, di manapun, komen saya cuman satu: "oleh-oleeeeeeeeeh."

Buat saya pribadi, komentar "oleh-oleh" itu ya cuma komentar sebagai bentuk kepedulian saya karena kebetulan saya baca postingannya. Sama sekali nggak pernah bermaksud minta oleh-oleh beneran. Yah, apalagi kalo belum pernah ketemu atau jarak saya dengan orang tersebut memang jauh, gimana ceritanya mau ngoleh-olehin?

Saya tetap konsisten dengan komentar itu pada posting siapapun nggak pandang bulu. Sampai suatu ketika ada yang berceletuk, "teh Peni minta oleh-oleh melulu, ih..." heuheu... Saya kesinggung di situ? Tentu tidak. Biarin, itu jadi ciri khas komentar saya *segitu pengennya punya ciri khas, yak... hahaha*

Lalu, apakah sekarang saya masih berkomentar seperti itu setiap ada yang posting mau bepergian? Tidak. Saya bahkan nggak pernah komen apapun lagi pada posting semacam itu, gara-gara saya pernah menemukan postingan di twitter yang bilang kurang lebih seperti ini, "kenapa, sih, harus minta oleh-oleh setiap ada yang mau pergi? bukannya bilang, `selamat menikmati perjalanan` atau gimana lah, ini malah nagih oleh-oleh..."

Kebetulan, bukan satu orang yang ngetwit seperti itu. Tapi tiga. Memang, nggak pada saat yang bersamaan dan mungkin juga bukan ditujukan ke saya. Cuma, saya tiba-tiba merasa nggak enak aja dengan tulisan seperti itu, kok, kayak nampar saya gitu... hihihi...

Kalo seandainya orang tersebut nanya balik ke saya ketika saya berkomentar "oleh-oleh" itu dengan pertanyaan, "mau oleh-oleh apa?" biasanya saya akan jawab, "dirimu pulang kembali ke sini dengan utuh. sehat wal afiat. itu oleh-oleh terbaik." *lirik seseorang yang sering dapat jawaban ini dari saya*.

Saya mencoba berpikir positif, mungkin orang itu nggak mau terbebani dengan dimintai oleh-oleh. Cuma pengen jalan-jalan atau menikmati liburan aja, kok, harus bawa oleh-oleh. Mungkin, lho, ya... Tapi, ya, sudah ditampar tiga kali begitu, membuat saya berpikir. Walau tulisan itu nggak ditujukan ke saya (sebab memang no mention juga sih), bisa jadi banyak orang yang nggak suka dikomentari "oleh-oleh" ketika mereka hendak bepergian.

Jadi sekarang, saya sering nggak peduli dengan orang yang ngetwit atau posting mau bepergian. Takut keceplosan minta oleh-oleh lagi... hihihi....

Friday, October 15, 2010

ketika teman menjadi bumerang

Siapa yang nggak senang ketemu dengan teman lamanya? Semua pasti senang, apalagi kalo teman lama itu sudah belasan nggak kita temui dan kita dulunya dekat dengan teman kita ini. Lumayan dekat. Pastinya semua cerita dibagi, dengan asumsi dia pasti masih sama seperti yang dulu.

Nah, saya ketemu teman sebangku waktu masih duduk di kelas 3 SMP. Meskipun kami ga kayak lem, karena dia dan saya sama-sama sibuk, tapi dulu kami sering berusaha ber-quality time dengan ngerjain PR sama-sama. Perpisahan terjadi (halah) waktu kami mulai masuk SMA. Kami melanjutkan sekolah di SMA yang berbeda. Udah gitu, jam sekolahnya beda plus kegiatan masing-masing, membuat jarak makin terbentang di antara kami.

Jadi, waktu setahun lalu saya ketemu dia lagi, saya dan dia tentu sama-sama senang. Semua cerita belasan tahun saling dibagi. Sayangnya, beberapa lama setelah sering saling berbagi itu, mulai keliatan anehnya. Misalnya, kalo lagi pengen cerita, ntar dia nanya, "ada apa lagi?" Sementara giliran dia yang butuh saya, misalnya, tengah malam dia bakalan sms saya, nyuruh saya nyalain YM... Waktu itu sih no complain, pengen aja jadi temen berbagi... Dan saya pun pernah kehilangan momen ngumpul sama tetangga sekompleks awal tahun, gara-gara mesti dengerin dia curhat selama 3 jam via telpon, dari jam 9 ampe jam 12 malem! Pa il jelas lah manyun.

Saking dekatnya (mungkin) jadi malah sering bergesekan. Apalagi makin ke sini, makin jelas terlihat perbedaan di antara kami. Selain minat dan hobi kami yang berbeda, ternyata cara bercandanya pun sudah di luar batas toleransi saya. Errr... menurut saya, candaan dia lumayan kasar.

Dia pernah ngatain saya "penjelajah cinta" waktu dia tahu teman dekat saya banyak cowok. Entah sependek apa pola pikirnya, tapi saya betul-betul punya beberapa sahabat cowok yang sampai sekarang belum pernah ada masalah hati di antara saya dengan mereka. Dan dia nggak percaya, maunya dia tuh, saya mengakui bahwa saya pacaran sama mereka.

Dan dia pernah juga bilang, "hebat ya, lu bisa laku kawin. Lu jaman SMP kan geek abis. Boro-boro nengok cowok atau ditengok cowok, menarik juga nggak. Ke mana-mana bawanya bukuuu aja... hahahaha..."

Banyak sih, ledekan-ledekan dia yang lain yang nggak pengen saya ceritain. Tapi terakhir, yang benar-benar bikin saya murka, ketika dia ngatain saya "jablai". Kok bisa?

Ceritanya gini. Ada playboy cap kuku semut jaman SMP, ngegodain saya beberapa waktu lalu. Waktu temen saya itu negur si playboy, mau melindungi saya sih ceritanya mah, si playboy malah balik ngerayu temen saya. Tau apa yang diucapkan teman saya buat bela diri? "Eh! Sori, ya! Rayuan lu ga mempan! Gue ga kayak peni yang jablai!"

Kebetulan, dia ngopas cetingannya sama si playboy ke saya. Kontan saya ternganga waktu dapat cap jablai darinya. Saya sempet nanya ke dia, "maksud lo gue jablai apa?" Dia jawab, "oh, gue cuma bercanda, kok. Ga ada maksud apa-apa..."

Saya lalu nyolot, "selama ini, lo mau ngatain gue apa aja silakan. Tapi lo udah lihat sendiri gimana hubungan gue ama laki gue gimana. Gue ga terima lo katain jablai. Lo yang jelas-jelas punya masalah sama suami lo dan berkali-kali ngomong ke gue kalo lo pengen cerai, nggak sampai hati lo gue katain jablai!"

Dia minta maaf dan berusaha klarifikasi ke si playboy soal kata "jablai" tadi. Cuma, menurut saya, percuma aja. Si playboy malah jawab yang nggak nyambung, nggak ada hubungannya sama klarifikasi itu.

Dan dia dengan seenaknya aja ngatain pa il patung ganesha. Oke, pa il memang pendiam. Tapi bukannya semua orang kalo di lingkungan baru yang dia ga nyambung, bakalan pendiam juga? Toh, suaminya juga sama pendiamnya sama pa il. Kenapa dia seenaknya aja ngatain pa il "patung ganesha"? 

Yang bikin saya terusik lagi, ketika saya akhirnya mundur teratur darinya (karena percuma protes atau ngasih masukan sama dia, toh, dia selalu merasa dirinya benar), dia nulis notes di pesbuk, temanya disuruh berdamai, yang ditag saya, si playboy dan ada seorang cewek. Kontan si playboy kalang kabut karena banyak yang nanya, "heh! kamu ngapain si peni?" gara-gara tag notesnya itu. Lalu dia nulis notes-notes lain yang semuanya tentang cinta tak sampai, di mana saya satu-satunya orang yang ditag. Oh, my God!

Ketika saya nggak komen, dia menghujani saya dengan PM di pesbuk, isinya semua notesnya yang dia tag ke saya itu. Makin saya diam, makin dia menggila. Lalu dia mulai mendekati pa il. Segala aktivitas pa il di pesbuk, dikomentarinya. Bahkan, mulai berani nulis di wall pa il, untuk menunjukkan keakrabannya dengan pa il. (Lupa, ya, yang lo deketin itu katanya "patung ganesha"?). Saya sempet ribut sama pa il soal itu. Tanpa ba bi bu lagi, pa il langsung remove dia.

Apa masalahnya selesai sampai di situ?

Kayaknya nggak. Dia keep on stalking me dengan mengadd banyak teman saya di pesbuk. Bahkan teman-teman dekat saya yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan dia. Dan yang lebih membuat saya ternganga lagi, perlahan-lahan, teman-teman sekelas saya waktu saya kelas 2 & 3 di SMA, dia add satu persatu, yang paling pendiam sekalipun. Sahabat-sahabat cowok saya dia add juga. Bahkan, teman-teman seorganisasi saya di PAS - Salman dulu, dia add juga! Crap!

Ternyata, ada yang ngalamin hal yang sama. Seseorang yang lain berbagi pada saya, orang ini pernah dicap gila sama teman saya, sudah berusaha menjauhinya ketika banyak tindak tanduk aneh pada diri teman saya itu. Ketika menjauh, semua teman-teman orang ini dia add, mau kenal atau nggak, mau nyambung atau nggak.

Kenapa saya ga remove dia dari pesbuk? Bakalan banyak masalah lagi yang sudah bisa saya prediksikan. Udah kelihatan polanya, soalnya. Saya cuma berusaha ngurangin kans untuk memperlebar masalah dengannya, pada teman-teman saya yang lain, dengan tidak meremovenya dari kontak saya di pesbuk.

Satu hal yang menggantung di kepala saya, kalo memang merasa populer-banyak teman-merasa cantik-merasa hebat, sementara saya geek-kuper-nggak gaul-ga populer, kenapa dia ngeadd banyak temen saya di pesbuk? Why she keeps on bugging me through my friends?

Kalian pasti akan bilang, kenapa nggak saya tanya langsung sama dia? Jawaban saya adalah: Malas. Saya sudah tahu jawabannya. Seperti biasa, dia merasa bahwa dirinya benar dan berhak melakukan apa saja pada saya, pada teman-teman saya, karena menurutnya saya adalah soulmatenya.