Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Monday, May 27, 2013

Lagu Rindu


Bintang malam sampaikan padanya
 Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
 Embun pagi katakan padanya 
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

Tahukah engkau wahai langit 
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
 Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
 Hanya untuk dirinya
 
 Lagu rindu ini kuciptakan 
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta 
Walau hanya nada sederhana
 Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan


Salut sama mereka yang LDR-an, Kang.
Sayah mah ga mau.
Bukan karena anak-anak rewel.
Alhamdulillaah, mereka baik-baik aja.
Tadi pagi, pas aku pake kerudung, ternyata kakak pake sepatu dan kaos kaki sendiri. Masya Allah.
Sampai terharu. Bangga banget, deh, sama kakak.

Cuma ya kerasa aja
Bangun tidur ga ada Kakang.
Janji, ya.
Ninggalin kami cuma sekarang ini aja, khusus wamil.
Besok-besok ga boleh ninggalin kami lagi...

Kalo kakang tau, gimana tangisan anak-anak kemarin...
Hati ikutan berasa teriris...
Mungkin, kakak terkesan menangisi si OK
tapi sebetulnya, dia cari Kakang...
waktu kuliatin foto kakang pas abis potong rambut, kakak bilang, "papa pangkas rambut"

Adek malahan senyum-senyum tersipu, seakan lagi ketemu papanya.

Baik-baik di camp, ya, kang.
Nikmatin seminggu tanpa suara bawel istrimu, atau suara ledakan tangis dan rewel anak-anakmu.
Hihihi...

Miss you soooo much!

Tuesday, July 10, 2012

Misteri Ms. R

Sejak mulai dekat, saya dan Pa il jarang sekali ikut campur urusan masing-masing. Sebelum menikah, memang sih, kami suka bertukar password email. Tapi itu semata-mata untuk beberapa urusan. Sebab, waktu itu buat pasang internet di rumah, harganya mahal banget. Jadi, kalo kebetulan saya di warnet, saya suka buka akun email Pa il dan membantu mengunduhkan sisipan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, nanti kami bertemu, bertransaksi bertukar disket. Jadul banget, ya...

Begitu juga setelah kami menikah. Boleh dibilang, baik saya maupun Pa il, jarang dengan sengaja mengecek ponsel pasangan. Entah itu ngecek kotak masuk atau call log. Rasanya, kok, kayak yang nggak percaya sama pasangan sendiri kalo sampai berniat begitu. Apalagi sejak Pa il pake BB. Sering banget BB-nya bunyi. Trang tring trung. Pasti itu notifikasi ada BBM yang masuk. Apakah saya berminat mengecek BBM yang masuk? Kalo nurutin curiousity sih, mungkin iya. Siapa, sih, yang tengah malem iseng kirim BBM? Nggak tidur apa? Tapi, toh, Pa il nggak pernah terbangun hanya gara-gara ada BBM masuk.

Tapi pernah, nih, beberapa tahun yang lalu, sebelum Pa il mulai pakai BB, malah, ada hal yang membuat saya gelisah dan curiga. Setiap Pa il sedang main sama anak-anak atau sedang di kamar mandi, atau sedang tidur bahkan, suka ada telepon masuk. Lihat dari Caller ID-nya sih, namanya Ms. R. Sering banget sih, Ms. R ini nelpon Pa il? Tapi nggak saya angkat. Saya biarkan saja.

Belum lagi, kalo ada telpon masuk dari Ms. R itu ketika Pa il siap siaga nerima panggilan telepon, Pa il mengambil ponselnya, lalu menjauh dari kami dan berbicara dengan lawan bicaranya di luar ruangan. Kadang di luar rumah. Demi mendapat sinyal yang bagus atau supaya nggak terdengar oleh saya?

Ah, dasar, ya. Rasa penasaran mulai menggelitik hati saya. Padahal, sikap Pa il nggak ada yang berubah. Konon, kalo suami sudah mulai doyan perempuan lain, sikapnya berubah total. Entah itu lebih cuek atau justru makin mesra sama istrinya supaya nggak ketahuan belangnya. Katanya, lho... Amit-amit, deh, kalo sampai ngalamin mah! *ketok meja*

Setelah beberapa hari mendapati kejadian seperti itu, saya mulai mengendap-endap ngecek ponsel Pa il. Yang pasti, ketika saya melakukannya, keringat dingin mengucur. Degdegan nggak kentara. Takut ketahuan, lalu Pa il marah. Atau malah sebaliknya. Saya justru takut mendapati hal-hal yang saya "inginkan". Maksudnya, hal-hal yang saya "inginkan" ini adalah hal-hal yang saya takuti dan menghantui saya selama ini. Bukan ingin beneran, lho.

Saya mulai menelusuri Inbox dan Sent Message di ponsel Pa il. Padahal waktu itu masih ponsel jadul. Belum pake BB. Saya betul-betul membuka semua pesan dari seseorang bernama Ms. R. Duh. Memang, sih, nggak ada pesan mesra. Tapi, kayaknya mereka janjian di suatu tempat. Pesannya singkat-singkat aja. Kayak di folder Sent Message, pesan yang ditulis Pa il kurang lebih: “iya”, “sebentar lagi”, “ditunggu”, “tunggu sebentar, ya”. Sementara di Inbox, saya nemu SMS yang ditulis Ms. R ini juga singkat. Kayak kode gitu. Misalnya, “bagaimana?”, “sudah di mana?”, “masih lama?”. Hueeeeh. Istri mana yang bisa tenang – yang udah lah penasaran terus pas bekerja menjadi detektif – malah nemuin pesan-pesan kayak begini?

Siapa ini Ms. R? Dan kenapa nggak ditulis dengan jelas R-nya siapa. Ini kan justru membuat saya curiga. Saya memikirkan semua nama perempuan yang mungkin untuk “R”-nya ini. Rina, Rani, Reni, Reti, Rima, Rida, Rila, Runi, Risma, Resti, Revi, Rini, Rika, Rose, Raya. Argh! Kayaknya belum pernah dengar nama perempuan teman kantor Pa il berawalan “R” selain “Revi”, yang saya kenal. Eh, lagian, Revi udah nggak di kantor Pa il sejak lama, kok. Dia hanya beberapa bulan aja di kantor Pa il. Lalu kenapa “R”-nya ini disembunyikan?

Hingga suatu hari, seperti biasanya, hari Sabtu adalah hari di mana Pa il bermain futsal dengan teman-teman kantornya. Hari itu, nggak tahu kenapa, Ilman rewel banget. Intinya Pa il dibuat kesiangan berangkat ke lapangan oleh kami berdua, saya dan Ilman. Dan saya sengaja menyembunyikan ponsel Pa il. Soalnya, pagi-pagi, saya sempat lihat Pa il terima telepon dari Ms. R ini. Jangan-jangan nanti mereka ketemuan di lapangan futsal? Hedeeeh! Anak istri di rumah mendambakan bisa berakhir pekan sama dia, ini kok malah janjian sama cewek lain, sih!

Pokoknya, rasakan, Ms. R! Nanti kalo Ms. R ini nelpon, bakalan saya damprat habis-habisan. Sembarangan banget ganggu suami orang, hah! Benak saya sibuk menyusun kata-kata penuh emosi untuk mendamprat Ms. R ini. Huh! Belum tahu, ya, Ms. R ini, kalo “Judes” adalah nama tengah saya?

Ternyata benar! Voila! Sekitar jam 9 pagi, ponsel Pa il berdering. Ya! Tebakanmu benar! Ms. R yang nelpon! Dengan rasa percaya diri (padahal sumpah, deg-degan banget waktu itu, sampai gemetaran), saya tekan tombol “answer” dan saya buat suara seelegan mungkin untuk menyapa dia yang ada di seberang sana. “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Selamat pagi. Dengan istri Bapak Nasrudin Fahmi di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Dalam hati saya berujar, mampus, lu. Bentar lagi gue semprot. Jangan berharap yang jawab ini telepon adalah suami gue, ya!

Dijawablah dari seberang sana, “Wa ‘alaikum salaam. Bu, Pak Fahmi-nya ada?”

Eh? Sebentar.... Kok, suara laki-laki yang jawab?

“Pak Fahmi sedang ke lapangan futsal, Pak...”

“Oh, sudah berangkat, ya. Sudah lama? Kenapa belum muncul aja, ya?”

“Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi sampai, Pak. Kalo nggak macet.”

“Oh, ya udah atuh, Bu, kalo gitu, mah. Saya tunggu aja di sini.”

“Maaf, Pak. Ini dengan siapa, ya?” Pertanyaan bodoh, saya akui. Tapi saya harus tahu siapa nama penelepon. Siapa tahu, orang ini pinjam ponsel Ms. R atau disuruh Ms. R buat nelpon ke ponsel Pa il. Mungkin saja, Ms. R ini tiba-tiba merasa kalo saya sudah mencurigainya sejak lama, jadi meminta orang lain yang notabene laki-laki, menelepon Pa il.

“Ini dengan Pak Mis, Bu. Ya sudah, saya tunggu Pak Fahmi di lapangan kalo begitu. Terima kasih, ya, Bu. Assalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam.”

Ms. R itu laki-laki? Tapi dasar, ya. Saya masih nggak percaya. Saya beneran nunggu Pa il pulang siang itu.

Sepulangnya Pa il dari lapangan futsal, mandi, makan siang dan mulai nonton TV, saya dekati Pa il sambil nyerahin ponselnya. “Papa, tadi pagi ada telpon. Dari Ms. R. Tapi suaranya kok, suara laki-laki, ya?”

“Oh, dari Pak Mis. Iya, kan, main futsalnya se-tim sama Papa.” Pa il menjawab dengan lempeng jaya. Iyalah, lempeng. Orang emang nggak ada yang sedang ditutup-tutupi. Dan dia memang sedang bicara jujur.

“Terus, kenapa itu ditulisnya Ms? Bukan Mis? Kayak perempuan aja.”

“Hmmm. Papa buru-buru waktu itu. Kan emang lagi sibuk nyiapin tender, Bun... Terus ya kelupaan mau ngedit. Toh, yang penting sudah jelas nomernya siapa.”

“........”

Saya jadi malu. Sudah curiga pada Pa il yang sejak dulu sayang saya apa adanya nggak pakai syarat apa pun. Nggak pernah menaruh curiga pada saya, meski saya sering cerita tentang semua sahabat saya yang rata-rata laki-laki. Dan nggak pernah menginterogasi saya setiap kali menerima telepon curhat dari beberapa sahabat laki-laki saya. Huhuhu. Maafkan Bunda, ya, Papa...

Friday, April 20, 2012

I'm Full of Fuel and Ready to Fire!

Bu....
Udah lamaaaaaa sekali, ya, aku nggak nulis surat buat Ibu...

Pagi ini, aku mulai hari dengan bacain komen-komen yang masuk di postinganku di Multiply. Hehe. Sekarang, Multiply jadi sahabatku lagi, gara-gara aku kehilangan banyak momen dan menyesal ketinggalan banyak di sana. Padahal, banyak teman baikku di sana. Hiks. Ini semua gara-gara microblogging dan Facebook. Salahkan mereka! Padahal, aku juga udah jarang bikin status di Facebook. Kenapa? Mengingat kontakku yang banyak dan belum ada waktu untuk memilah mana yang berhak baca status-statusku dan mana yang nggak, membuatku berpikir ulang untuk posting status di sana. Akhirnya, account Facebook-ku cuma buat jadi tempat persinggahan cross posting dari Instagram atau Path, bahkan dari Multiply.

Bu, aku lagi "full of fuel and ready to fire". Nggak tahu kenapa. Barusan, lagi serius ngobrol sama Nurul - karyawan kantor sebelah yang curhat rumahnya kemalingan tadi - malah dikagetin sama bu Ucu. dan aku ternyata meledak, marah. Marahin bu Ucu yang umurnya jauh lebih tua. Hiks. Kenapa aku kayak binatang gini, Bu? Aku malu sama diriku sendiri. Aku benci sama diriku yang begini. Really.

Aku pengen belajar sabar kayak Ibu. Yang tabah jalani hari-hari terakhir ibu bernapas. Meski tubuh Ibu udah nggak kuat lagi menopang nyawa Ibu, Ibu masih bisa senyum. Meski kuku-kuku di jari tangan Ibu membiru, Ibu masih bisa senyum dan menyambutku sepulang sekolah. How I miss that moment, Bu.

Oya, aku pengen cerita juga. Aku senang sekali bisa main Treasure Hunt ala Ibu dulu. Sempet pengen melakukan hal yang sama untuk Ilman. Tapi sayang, situasinya nggak memungkinkan. Setiap Ilman pulang sekolah, kan, aku nggak ada di rumah karena harus bekerja di luar. Maybe someday, I can make the game for him and Zaidan.

Kami semua di rumah sehat, Bu. Alhamdulillaah. Cuma aku sama Fahmi masih harus belajar sabar lebih banyak lagi. Hehe. Ternyata bersabar dan meredam ego masing-masing itu termasuk sulit, ya. Apalagi kalo hati sama tubuh capek. Bukan karena kami berdua hobi berantem, kok, Bu. Lebih karena kami capek di luar rumah, trus menghadapi anak yang tantrum... PR luar biasa ternyata, ya, Bu, punya anak berbeda.

Nanti aku cerita banyak lagi, ya. Siang ini aku ada rapat progres mingguan. Besok juga harus lembur, ada yang mau taping. Oya, pengen bilang: aku menyayangimu dan selalu menyayangimu dan akan tetap menyayangimu. Aku juga merindukanmu, bu. Sangat. Semoga Allah selalu menerangi kubur ibu, memberi ibu pandangan surga dengan pandangan paling dekat. 

They say, writing can heal your sick mental. Hahaha. So, I start writing to you. I hope you don't mind, Bu. Love you soooo much. Muah!

-peni-
20 April 2010. 12.58 WIB

Tuesday, December 02, 2008

Meramal

Tulisan ini akhirnya turun juga, gara-gara kapan itu ada seorang yang sudah sangat lama tidak lagi saya temui menanyakan sesuatu tentang masa lalu saya, via Friendster.

"Teh Peni, masih meramal?" GUBRAK!

Aih, itu kan udah jaman kapan taun...

Oke, saya cerita di sini.

Saya mulai meramal sejak kelas 3 SMP. Saya berlangganan majalah GADIS sejak kelas 2 SMP dan menemukan salah satu artikel lucu-lucuan buat mengisi liburan: MERAMAL, YUK!
Saya lupa ini edisi berapa tahun berapa, secara itu majalah udah nggak tahu ada di mana.
Nah, saya dan Asih, sepupu saya, belajar meramal dengan mengikuti petunjuk di majalah tersebut. Saya dan Asih memasukkan nama-nama kecengan kami ketika itu. Yah, namanya juga iseng, hasilnya kami buat ketawa-ketawa aja. Nggak ada yang bener-bener kami percayai.

Terus, gara-gara kesibukan menghadapi EBTA/NAS saya mulai melupakan permainan ramalan itu dan kartu remi saya juga hilang tercecer.

Kelas 2 SMA, saya menemukan lagi majalah dengan artikel "MERAMAL, YUK!" itu, dan iseng, sengaja beli kartu remi mini yang suka ada di pengecer SD-SD gitu deh. Dan mulailah saya meramal buat diri saya sendiri. Mempraktekkan yang sudah lama saya nggak praktekkan.
Waktu itu, saya ngeceng kakak kelas, yang sekarang malah tiap hari chatting... Hahahaha. Hasil ramalan itu bilang, kalo saya nggak akan jadian sama kakak kelas itu.

Dimulai dengan mengocok kartu sesuai jumlah huruf yang ada pada namanya. Kalo mau lengkap ya lama, kalo mau panggilannya aja, ya berarti cuma dikit.
Misalnya, kecengan saya namanya AFGAN. Nama lengkapnya MUHAMMAD AFGANSYAH. Saya bisa mengocok kartu sejumlah 5 atau 18 kali. Bebas. Sambil membayangkan wajah gantengnya Afgan kecengan saya itu. Setelahnya, saya spread si kartu jadi beberapa bagian dan seterusnya. Kalo nggak salah, yang saya lakukan itu ada 6 tahap sampai akhirnya tersisa 2 atau 4 kartu saja. 2 kartu As berlainan warna, menandakan jadian.
Kalo 2 kartu AS berwarna sama, bertepuk sebelah tangan. Kalo muncul 4 kartu, bisa jadian bisa nggak. Tergantung. Hahaha. Ngarang namanya juga

Trus, akhirnya, saya jadian, nggak sama Afgan? Hahahaha, nggak tuh! Saya akhirnya menikah dengan papa Ilman. Hihihi...

Back to meramal...
Di kelas, saya suka iseng meramal. Bahkan, saya nyaris nggak bisa menikmati waktu istirahat saya, gara-gara meramal teman-teman. Hihihi.
Ya, saya dulu agak terkenal dalam meramal. Ada banyak teman lain kelas yang suka antri minta diramal. Hahahaha. Bahkan, waktu sekolah mau bikin bazaar, saya tadinya disuruh jadi peramal, buat stand kelas mau bikin stand ramal aja. Gubrak, deh! Tapi, saya tolak. Lupa alasannya apa.

Kemudian muncul Dama, temen sekelas, yang "lebih jago" dalam meramal. Karena dia bisa baca kartu. Menurut saya, dia bukan bisa baca kartu, kebetulan aja dia perhatian, jadi dia bisa tau kecengan anu siapa dan fisiknya gimana. Hihihi...

Akhirnya pamor saya agak kalah sama Dama, saya bilang, mendingan Dama aja yang meramal, biar lebih afdol! Hihihi. Padahal saya sudah jenuh dengan meramal itu. Dan entah kenapa, pas kelas 3 surut begitu saja hasrat main ramal-ramalan.

Masuk ke jaman kuliah, saya mulai banyak bergaul dengan teman-teman yang hidup ngekost. Saya sering main ke salah satu kost teman saya, Ita, yang tetangganya banyak dan baik-baik. Waktu itu, saya nemu kartu remi di kamar kost
Ita. Iseng-iseng aja, saya main ramal-ramalan buat diri saya sendiri.

Ternyata, saya masih hafal step-stepnya! Wow! Kemudian, nggak lama, temen-temennya Ita, muncul dan mereka memerhatikan saya main ramalan. Eh, mereka memerhatikan ekspresi wajah saya! Katanya, wajah saya serius banget waktu meramal!
Satu persatu dari mereka minta diramal. Aih, ya sudah, saya ladeni deh. Iseng ini. Hari itu, saya meramal 5 orang sekaligus. Dan hari itu, saya mencoba sebuah eksperimen: Mengarang Bebas. Ceritanya saya baca kartu dan saya ungkapkan 'pengetahuan' saya atas kartu yang saya baca itu. Padahal, ngaraaaang! Hahaha....

Selama seminggu dari situ, saya belum ke kostannya Ita lagi, kalo nggak salah, lagi minggu tenang gitu. Seberes UAS, saya main ke kostan Ita dan curhat-curhatan sambil ledek-ledekan sama Ita, Didi dan Amel. Tiba-tiba, salah satu korban ramalan saya muncul dan menghambur ke pelukan saya.

Dia bilang, "ramalannya bener, saya rasa, saya nggak cocok sama dia. Akhirnya kami milih putus." Sejenak, saya, Didi, Ita, dan Amel berpandangan maksudnya-apa-sih.

"Oh, iya! Seminggu kemaren kan saya ramal! Eits, jangan percaya ramalan dooong! Itu kan cuma main-main!"

Dia bilang, "Nggak! Waktu itu kamu kan bilang, kalo antara aku sama dia ada kendala, keluarganya ga suka aku. ternyata benerrrr!!! Huhuhu..."

Saya cuma bisa melongo.

Dua bulan kemudian, waktu saya lagi bikin tugas di kamar kostnya Ita, korban kedua ramalan saya muncul, dengan wajah berseri-seri sambil menyerahkan sebatang Silver Queen almond.

"Teh Peni, ma kasih, ya, ramalannya jadi kenyataan. Waktu itu, Teteh kan bilang, saya bakalan jadian sama dia, ternyata iyaaa..." semburat merah muncul di wajahnya.
Lagi-lagi, saya cuma bisa melongo sambil berpandang-pandangan sama Ita. Dan si anak korban ramalan kedua saya ini bilang, kalo tiga korban ramalan saya yang lain, hasilnya bervariasi: ada yang awet dan sudah menikah, ada yang jadian trus putus lagi, ada yang nggak jadian sama sekali. DAN ITU SEMUA SESUAI HASIL RAMALAN KARTU REMI SAYA!!!
Jantung saya rasanya mau copot! Kok, tiba-tiba saya jadi seperti Permadi atau Mama Lorenz sih? Dulu, Mama Lorenz belum terkenal. Tapi, jaman itu, Permadi sudah terkenal.
Saya sampe dibilang, the next Permadi!

Huhuhuhu! Saya nggak mauuuu! Saya tahu, percaya ramalan itu dosa! Apalagi kalo sampai saya yang jadi peramalnya! Huhuhuhu... Sueerrrr... itu semua saya lakukan cuma buat main-main doaaaanggg!

Saat itu, saya langsung lari ke kamar mandi, ambil wudhu, dan shalat sunnah tasbih. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya takut. Takut sekali. Dan saya langsung bertobat. Saya berjanji untuk tidak akan meramal lagi!

Jadi, saat saya baca PM teman saya itu, saya ketik balasan, "NGGAK LAGI LAGI MAIN RAMALAN KARENA AKU TAKUT BERDOSA!" (sambil bersenandung lagu anak-anak beberapa tahun lalu, yang liriknya,"nggak lagi-lagi main denganmu, karena kamu anak pembohong!"

note: gambar minjem dari sini

Tuesday, October 07, 2008

Hiruk Pikuk Lebaran

Bagi yang merayakannya, momen lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang paling tepat atau mungkin satu-satunya waktu yang tepat buat bersilaturahmi dengan banyak orang, yang sudah lama tidak pernah ditemui, bahkan jadi satu-satunya waktu berkumpul dengan keluarga besar.

Waktu saya masih duduk di bangku SD sampai menjelang kuliah, saya sering menerima kiriman kartu lebaran. Bahkan, saya selalu menyiapkan setumpuk kartu lebaran di awal-awal bulan Ramadhan supaya saya bisa mendapatkan balasan kartu lebaran yang lebih banyak lagi. Hahaha...

Setelah saya memasuki masa puber, saya mulai hobi mengirim kartu lebaran pada cowok. Hahaha... mereka pun mengirim balasan... dan setiap lebaran, selalu saya pajang tuh, kartu-kartu lebaran di ruang tamu. Ckckckck... bikin penuh ruang tamu aja...

Seiring dengan perkembangan teknologi, cara mengirim kartu lebaran sudah makin bervariasi. Pake e-card via email sampai mms via handphone. Semakin ke sini, orang semakin berpikir untuk lebih mengirit: ganti simcard yang menawarkan program kirim sms gratis atau semurah-murahnya, hanya untuk mengirimkan ucapan selamat idul fitri lewat sms. Ketika nomor itu dibalas, sudah tidak dapat dihubungi lagi. *Sigh*

Lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya saya berlebaran di Garut, bersama papa dan ilman. Sudah dua tahun papa berlebaran di Bandung, saatnya saya untuk lebaran di Garut. Keberangkatan menuju Garut, menurut saya, kurang persiapan yang matang. Mulai dari nggak siap travel, maklum nggak punya mobil; mana kalo rental harus 7 hari; nggak mau naik bis, jadi agak panik juga. Hahaha...

Saya memutuskan buat berangkat tanggal 29 September aja, pagi-pagi gitu. Syukur-syukur bisa pake 4848. Ternyata, kalo mau pake 4848, harus datang dan nunggu di sana. Ini lebih nggak menjamin. Papa berinisiatif buat nelpon kakaknya dan syukurlah, ada mobil dan beliau mau jemput. Keberangkatan maju beberapa jam, berhubung mobilnya nggak ber-AC, jadi berangkat malam. Padahal, saat itu, saya ada acara buka puasa bersama milis outsiders di Sierra.

Berangkat ke Garut in a rush, membuat saya nggak ingat isi pulsa. Oke, pulsa saya masih banyak, masih cukup buat ngeplurk. Alhasil, selama dua hari di Garut, saya bisa dengan mudahnya ngeplurk dan baca detik. Bersamaan dengan datangnya hari lebaran, otomatis, saya menerima banyak sekali sms ucapan selamat lebaran. Tentu saja saya juga harus berbuat yang sama, toh?

Nah, itulah buah kebodohan nggak membuat persiapan banyak hal. Ada sangat banyak sms yang saya kirimkan nyangkut di outbox alias tidak bisa terkirim. Apa pasal? Ya, pulsa saya habis bis bis, sementara yang jualan pulsa pada lebaran semua. Siyal!!!!

Bodohnya lagi, saya belum ambil uang sampai hari Minggu sore. Dan tidak terpikir untuk coba online di rumah, buka internet banking dan beli pulsa. Nggak! Sama sekali tidak terpikir! Jadi, sampai sudah masuk kerja, itu sms yang nyangkut di outbox masih banyak.

Hal-hal sejenis beli pulsa emang tampak sepele. Tapi, kalo lagi butuh, mau hp dengan harga paling mahal juga kalo nggak ada pulsanya mah tetep aja nggak berguna buat menghubungi orang mah! Huh!!!!