Showing posts with label about me. Show all posts
Showing posts with label about me. Show all posts

Tuesday, July 10, 2012

Misteri Ms. R

Sejak mulai dekat, saya dan Pa il jarang sekali ikut campur urusan masing-masing. Sebelum menikah, memang sih, kami suka bertukar password email. Tapi itu semata-mata untuk beberapa urusan. Sebab, waktu itu buat pasang internet di rumah, harganya mahal banget. Jadi, kalo kebetulan saya di warnet, saya suka buka akun email Pa il dan membantu mengunduhkan sisipan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, nanti kami bertemu, bertransaksi bertukar disket. Jadul banget, ya...

Begitu juga setelah kami menikah. Boleh dibilang, baik saya maupun Pa il, jarang dengan sengaja mengecek ponsel pasangan. Entah itu ngecek kotak masuk atau call log. Rasanya, kok, kayak yang nggak percaya sama pasangan sendiri kalo sampai berniat begitu. Apalagi sejak Pa il pake BB. Sering banget BB-nya bunyi. Trang tring trung. Pasti itu notifikasi ada BBM yang masuk. Apakah saya berminat mengecek BBM yang masuk? Kalo nurutin curiousity sih, mungkin iya. Siapa, sih, yang tengah malem iseng kirim BBM? Nggak tidur apa? Tapi, toh, Pa il nggak pernah terbangun hanya gara-gara ada BBM masuk.

Tapi pernah, nih, beberapa tahun yang lalu, sebelum Pa il mulai pakai BB, malah, ada hal yang membuat saya gelisah dan curiga. Setiap Pa il sedang main sama anak-anak atau sedang di kamar mandi, atau sedang tidur bahkan, suka ada telepon masuk. Lihat dari Caller ID-nya sih, namanya Ms. R. Sering banget sih, Ms. R ini nelpon Pa il? Tapi nggak saya angkat. Saya biarkan saja.

Belum lagi, kalo ada telpon masuk dari Ms. R itu ketika Pa il siap siaga nerima panggilan telepon, Pa il mengambil ponselnya, lalu menjauh dari kami dan berbicara dengan lawan bicaranya di luar ruangan. Kadang di luar rumah. Demi mendapat sinyal yang bagus atau supaya nggak terdengar oleh saya?

Ah, dasar, ya. Rasa penasaran mulai menggelitik hati saya. Padahal, sikap Pa il nggak ada yang berubah. Konon, kalo suami sudah mulai doyan perempuan lain, sikapnya berubah total. Entah itu lebih cuek atau justru makin mesra sama istrinya supaya nggak ketahuan belangnya. Katanya, lho... Amit-amit, deh, kalo sampai ngalamin mah! *ketok meja*

Setelah beberapa hari mendapati kejadian seperti itu, saya mulai mengendap-endap ngecek ponsel Pa il. Yang pasti, ketika saya melakukannya, keringat dingin mengucur. Degdegan nggak kentara. Takut ketahuan, lalu Pa il marah. Atau malah sebaliknya. Saya justru takut mendapati hal-hal yang saya "inginkan". Maksudnya, hal-hal yang saya "inginkan" ini adalah hal-hal yang saya takuti dan menghantui saya selama ini. Bukan ingin beneran, lho.

Saya mulai menelusuri Inbox dan Sent Message di ponsel Pa il. Padahal waktu itu masih ponsel jadul. Belum pake BB. Saya betul-betul membuka semua pesan dari seseorang bernama Ms. R. Duh. Memang, sih, nggak ada pesan mesra. Tapi, kayaknya mereka janjian di suatu tempat. Pesannya singkat-singkat aja. Kayak di folder Sent Message, pesan yang ditulis Pa il kurang lebih: “iya”, “sebentar lagi”, “ditunggu”, “tunggu sebentar, ya”. Sementara di Inbox, saya nemu SMS yang ditulis Ms. R ini juga singkat. Kayak kode gitu. Misalnya, “bagaimana?”, “sudah di mana?”, “masih lama?”. Hueeeeh. Istri mana yang bisa tenang – yang udah lah penasaran terus pas bekerja menjadi detektif – malah nemuin pesan-pesan kayak begini?

Siapa ini Ms. R? Dan kenapa nggak ditulis dengan jelas R-nya siapa. Ini kan justru membuat saya curiga. Saya memikirkan semua nama perempuan yang mungkin untuk “R”-nya ini. Rina, Rani, Reni, Reti, Rima, Rida, Rila, Runi, Risma, Resti, Revi, Rini, Rika, Rose, Raya. Argh! Kayaknya belum pernah dengar nama perempuan teman kantor Pa il berawalan “R” selain “Revi”, yang saya kenal. Eh, lagian, Revi udah nggak di kantor Pa il sejak lama, kok. Dia hanya beberapa bulan aja di kantor Pa il. Lalu kenapa “R”-nya ini disembunyikan?

Hingga suatu hari, seperti biasanya, hari Sabtu adalah hari di mana Pa il bermain futsal dengan teman-teman kantornya. Hari itu, nggak tahu kenapa, Ilman rewel banget. Intinya Pa il dibuat kesiangan berangkat ke lapangan oleh kami berdua, saya dan Ilman. Dan saya sengaja menyembunyikan ponsel Pa il. Soalnya, pagi-pagi, saya sempat lihat Pa il terima telepon dari Ms. R ini. Jangan-jangan nanti mereka ketemuan di lapangan futsal? Hedeeeh! Anak istri di rumah mendambakan bisa berakhir pekan sama dia, ini kok malah janjian sama cewek lain, sih!

Pokoknya, rasakan, Ms. R! Nanti kalo Ms. R ini nelpon, bakalan saya damprat habis-habisan. Sembarangan banget ganggu suami orang, hah! Benak saya sibuk menyusun kata-kata penuh emosi untuk mendamprat Ms. R ini. Huh! Belum tahu, ya, Ms. R ini, kalo “Judes” adalah nama tengah saya?

Ternyata benar! Voila! Sekitar jam 9 pagi, ponsel Pa il berdering. Ya! Tebakanmu benar! Ms. R yang nelpon! Dengan rasa percaya diri (padahal sumpah, deg-degan banget waktu itu, sampai gemetaran), saya tekan tombol “answer” dan saya buat suara seelegan mungkin untuk menyapa dia yang ada di seberang sana. “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Selamat pagi. Dengan istri Bapak Nasrudin Fahmi di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Dalam hati saya berujar, mampus, lu. Bentar lagi gue semprot. Jangan berharap yang jawab ini telepon adalah suami gue, ya!

Dijawablah dari seberang sana, “Wa ‘alaikum salaam. Bu, Pak Fahmi-nya ada?”

Eh? Sebentar.... Kok, suara laki-laki yang jawab?

“Pak Fahmi sedang ke lapangan futsal, Pak...”

“Oh, sudah berangkat, ya. Sudah lama? Kenapa belum muncul aja, ya?”

“Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi sampai, Pak. Kalo nggak macet.”

“Oh, ya udah atuh, Bu, kalo gitu, mah. Saya tunggu aja di sini.”

“Maaf, Pak. Ini dengan siapa, ya?” Pertanyaan bodoh, saya akui. Tapi saya harus tahu siapa nama penelepon. Siapa tahu, orang ini pinjam ponsel Ms. R atau disuruh Ms. R buat nelpon ke ponsel Pa il. Mungkin saja, Ms. R ini tiba-tiba merasa kalo saya sudah mencurigainya sejak lama, jadi meminta orang lain yang notabene laki-laki, menelepon Pa il.

“Ini dengan Pak Mis, Bu. Ya sudah, saya tunggu Pak Fahmi di lapangan kalo begitu. Terima kasih, ya, Bu. Assalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam.”

Ms. R itu laki-laki? Tapi dasar, ya. Saya masih nggak percaya. Saya beneran nunggu Pa il pulang siang itu.

Sepulangnya Pa il dari lapangan futsal, mandi, makan siang dan mulai nonton TV, saya dekati Pa il sambil nyerahin ponselnya. “Papa, tadi pagi ada telpon. Dari Ms. R. Tapi suaranya kok, suara laki-laki, ya?”

“Oh, dari Pak Mis. Iya, kan, main futsalnya se-tim sama Papa.” Pa il menjawab dengan lempeng jaya. Iyalah, lempeng. Orang emang nggak ada yang sedang ditutup-tutupi. Dan dia memang sedang bicara jujur.

“Terus, kenapa itu ditulisnya Ms? Bukan Mis? Kayak perempuan aja.”

“Hmmm. Papa buru-buru waktu itu. Kan emang lagi sibuk nyiapin tender, Bun... Terus ya kelupaan mau ngedit. Toh, yang penting sudah jelas nomernya siapa.”

“........”

Saya jadi malu. Sudah curiga pada Pa il yang sejak dulu sayang saya apa adanya nggak pakai syarat apa pun. Nggak pernah menaruh curiga pada saya, meski saya sering cerita tentang semua sahabat saya yang rata-rata laki-laki. Dan nggak pernah menginterogasi saya setiap kali menerima telepon curhat dari beberapa sahabat laki-laki saya. Huhuhu. Maafkan Bunda, ya, Papa...

Wednesday, June 27, 2012

Apresiasi Bernama `Like`

Mungkin saya termasuk telat baru bahas ini. Dan tadinya saya pikir juga nggak perlu bahas ini. Siapa tahu di luar sana sudah banyak yang bahas. Tapi entah kenapa, belakangan ini saya tergelitik ingin membahasnya. Sudah gatal aja kali, ya...

Di sebuah jejaring sosial yang dipakai banyak orang – bahkan sepertinya semua orang wajib punya account di sana – kalo nggak mau ketinggalan, ada fasilitas bernama Like. Apa itu? Sebuah tombol dengan tulisan Like dan bila kita sudah meninggalkan jejak dengan menekan tombol itu, akan muncul icon thumb up di postingan tersebut.



Beberapa orang menganggap dengan menekan tombol Like itu artinya menghargai postingan. Ada yang menganggap juga bahwa orang yang memberikan jempol mereka untuk postingan itu sebagai pengganti komentar. Bahkan, di sebuah forum game online yang saya ikuti, L/C alias Like/Comment adalah bagian dari ucapan terima kasih. Sehingga, ketika ada yang mengambil gift atau reward dari game yang dishare oleh salah satu teman tanpa meninggalkan jejak semisal menekan tombol Like atau meninggalkan komentar di sana, dianggap “tuyul”. Mengambil barang tanpa permisi. Hihi.

Kebanyakan yang ketahuan begitu sih, biasanya diban. Dengan cara diunfriend atau bahkan diblok oleh yang merasa dicolong. Terkadang, sanksi sosialnya lebih kejam lagi. Dibuatkan print screen-nya, lalu disebarluaskan ke teman-teman lain dan dianggap sebagai “makhluk berbahaya” – karena mengambil barang tanpa izin.

Padahal, ketika saya masih bermain game online tersebut, saya pernah pakai fasilitas collect gift automatically, yang membuat sulit terlacak saya ngambil gift dari mana. Kadang, tombol Like otomatisnya nggak berpengaruh. Jadi, siapa tahu, saya pernah jadi tuyul juga, kan? Maaf, ya, teman-teman, kalo saya pernah jadi tuyul. Salahkan saja fasilitas collect gift automatically plus lemotnya internet di sini :D

Saya sering sekali membaca komentar dari empunya posting, ketika para “jempolers” memberikan jempol mereka untuk postingannya, “nuhun jempolers”, “ma kasih buat jempolnya, yaaa...”. Saya sendiri mendapati banyak jempol yang hadir untuk beberapa postingan saya di sana. Tapi saya nggak pernah berterima kasih untuk jempol mereka. Kenapa, ya?

Sampai suatu ketika, teman-teman saya pernah mempertanyakannya. “Sebetulnya, perlu nggak, sih, kalo ada yang kasih jempolnya di postingan kita, terus kita bilang terima kasih?” Saya pribadi jawab, “nggak perlu.” Tapi ada yang misuh-misuh jawab, “harus. Itu kan bentuk kepedulian orang lain terhadap postinganmu.” errr sebenernya sih nggak gini amat nulisnya, cuma ketangkap saya gitu, lah, kurang lebih.

Laluuu... mata saya tertumbuk pada beberapa orang yang curhat di status mereka tentang kesedihan atau derita yang mereka alami. Bukan doa, lho, ya. Banyak yang berkomentar mendoakan supaya masalahnya segera selesai. Tapi, yang bikin kaget, banyak yang nge-Like. Kadang, ada juga yang nggak berperasaan, upload foto-foto menyedihkan lalu diLike banyak orang. Errr....

Like itu kan suka. Kok, ada ya, yang suka sama penderitaan orang lain? Atau itu yang disebut sebagai pengganti komentar? Menunjukkan rasa simpati? Kayaknya ada yang harus diluruskan, deh... Udah nggak bener, nih, urusannya.... Nah, bagaimana dengan Anda?

Gambarnya nyolong dari sini. Maaf, ya, Mas.. minjem :D

Wednesday, April 25, 2012

empati

dear ibu...

baru-baru ini aku abis ketiban masalah. sepele di mata orang lain, tapi lumayan berat buatku, bu. berat banget. tapi, kan, ketahanan tiap orang dalam menghadapi masalah beda-beda, kan, ya... *cari pembenaran*

abis itu, aku ketimpa masalahyang lebih gedeeeeeeeeeee lagi. tapi aku nggak bisa cerita di sini. minimal, aku udah ketemu psikologku yang baik hati itu. dan dia udah kasih aku semacam step by step buat mengurai semua masalahku. and I feel so much better today. meski masih nyesek juga, sih... hehe....

yang sedih, orang-orang yang kucurhatin itu, kok, kayak yang nggak ada yang peka. ada, sih, ikut berduka. satu orang aja. sisanya, menganggap bahwa itu semua biasa. menganggap enteng masalah itu. lalu, ketika orang-orang itu punya masalah yang lebih sepele dari masalahku, merasa bahwa masalahnya paling berat di dunia ini. hehehe... itulah dunia sekarang ini, bu. nggak tahu juga kalo sewaktu ibu masih hidup dulu, dunia yang ibu jalani kayak apa...

belakangan ini, dengan semakin majunya teknologi, empati mengalami kemunduran. banyak orang ga peduli sama sekitarnya: yang-penting-gue-nyaman. titik. :(

jadi ingat, waktu aku hamil adek, sekitar 8 bulanan gitu, ya, aku pulang senam hamil dan naik angkot. angkotnya penuh gitu, bu. aku naik dan duduk di bangku pengantin. kecil banget dan udah gitu, perut aku ditinjuin pake lutut anak SMA yang duduk di sebelah kananku. pengen nangis dan marah waktu itu, tapi yang meluncur dari mulutku cuma, "adek, sabar, ya... nanti kalo adek udah gede, adek harus bisa mengerti kesulitan ibu hamil yang duduk dalam posisi ini..."

belakangan ini, aku makin peduli sama anak-anak berkebutuhan khusus. memang belum banyak yang bisa aku lakukan, tapi paling nggak, sekarang cara aku memandang mereka udah berubah. kalo baca curhatan para orangtua ABK, sedih juga, bu. masalah mereka beraaaaaaaaaaaat banget. jauh lebih berat dibanding masalahku. tapi mereka kuat!

bu, ada yang menarik perhatianku beberapa hari ini. anak-anak punk yang banyak beredar di perempatan jalan. orangtua mereka mana, ya, bu? mereka kenal bangku sekolah, nggak? mereka punya cita-cita, nggak? kadang, aku pengen banget, bisa ngobrol sama mereka, trus ngasih lapangan kerjaan ke mereka. tapi, apa? aku belum punya usaha yang bisa melibatkan mereka. trus, kalo aku jadi nyonya kaya nanti, apakah aku masih peduli sama mereka? naik angkot atau jalan kaki ke mereka. berhenti di depan mereka. buka toples isi kue. trus makan bareng mereka dan ngobrol sama mereka. ini salah satu mimpiku, bu. aku pengen tahu, mereka punya cita-cita apa nggak. mereka punya tujuan hidup apa nggak?

mengingat aku yang dibesarkan oleh orangtua yang penuh kasih sayang, aku miris lihat kehidupan mereka di jalan, bu. apakah mereka suka dipukuli orangtuanya kalo nakal? atau mereka jadi gini karena mereka nggak peduli sama orangtuanya? alhamdulillaahi rabbil 'alamiin... aku terlahir dari keluarga yang meski nggak berlimpah secara materi, tapi berlimpah dalam kasih sayang....

kalo udah gini, aku selalu malu mengingat ayat-ayat di surat Ar-Rahmaan, yang selalu Allah ulangi. "fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan... -- maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

ma kasih, ya, bu. meski kebersamaan kita nggak lama, semua yang kita lalui masih teringat di kepalaku. bagaimana ibu mendongengi aku sebelum tidur. bagaimana ibu selalu mengutus keluarga awan untuk mengawasiku setiap ibu bepergian. bagaimana ibu bisa melihat melalui belakang kepala ibu. dan waktu kita jalan pagi buat mengumpulkan bunga-bunga tanjung untuk dirangkai jadi kalung. aku tahu, aku nggak akan pernah bisa mengulangi momen itu dengan ibu. tapi momen itu selalu ada di hatiku. selalu ada di mimpiku.

aku kangen ibu. aku sayang ibu. selalu sayang ibu. ibu selalu hadir di hatiku....

sun sayang,
-peni-
25.04.2012. 10.33 WIB
PS: tanggal segini, jam segini, setahun kemarin. aku mulai merasakan mules karena adek mau keluar dan udah lewat due date... hihihi....

Friday, April 20, 2012

I'm Full of Fuel and Ready to Fire!

Bu....
Udah lamaaaaaa sekali, ya, aku nggak nulis surat buat Ibu...

Pagi ini, aku mulai hari dengan bacain komen-komen yang masuk di postinganku di Multiply. Hehe. Sekarang, Multiply jadi sahabatku lagi, gara-gara aku kehilangan banyak momen dan menyesal ketinggalan banyak di sana. Padahal, banyak teman baikku di sana. Hiks. Ini semua gara-gara microblogging dan Facebook. Salahkan mereka! Padahal, aku juga udah jarang bikin status di Facebook. Kenapa? Mengingat kontakku yang banyak dan belum ada waktu untuk memilah mana yang berhak baca status-statusku dan mana yang nggak, membuatku berpikir ulang untuk posting status di sana. Akhirnya, account Facebook-ku cuma buat jadi tempat persinggahan cross posting dari Instagram atau Path, bahkan dari Multiply.

Bu, aku lagi "full of fuel and ready to fire". Nggak tahu kenapa. Barusan, lagi serius ngobrol sama Nurul - karyawan kantor sebelah yang curhat rumahnya kemalingan tadi - malah dikagetin sama bu Ucu. dan aku ternyata meledak, marah. Marahin bu Ucu yang umurnya jauh lebih tua. Hiks. Kenapa aku kayak binatang gini, Bu? Aku malu sama diriku sendiri. Aku benci sama diriku yang begini. Really.

Aku pengen belajar sabar kayak Ibu. Yang tabah jalani hari-hari terakhir ibu bernapas. Meski tubuh Ibu udah nggak kuat lagi menopang nyawa Ibu, Ibu masih bisa senyum. Meski kuku-kuku di jari tangan Ibu membiru, Ibu masih bisa senyum dan menyambutku sepulang sekolah. How I miss that moment, Bu.

Oya, aku pengen cerita juga. Aku senang sekali bisa main Treasure Hunt ala Ibu dulu. Sempet pengen melakukan hal yang sama untuk Ilman. Tapi sayang, situasinya nggak memungkinkan. Setiap Ilman pulang sekolah, kan, aku nggak ada di rumah karena harus bekerja di luar. Maybe someday, I can make the game for him and Zaidan.

Kami semua di rumah sehat, Bu. Alhamdulillaah. Cuma aku sama Fahmi masih harus belajar sabar lebih banyak lagi. Hehe. Ternyata bersabar dan meredam ego masing-masing itu termasuk sulit, ya. Apalagi kalo hati sama tubuh capek. Bukan karena kami berdua hobi berantem, kok, Bu. Lebih karena kami capek di luar rumah, trus menghadapi anak yang tantrum... PR luar biasa ternyata, ya, Bu, punya anak berbeda.

Nanti aku cerita banyak lagi, ya. Siang ini aku ada rapat progres mingguan. Besok juga harus lembur, ada yang mau taping. Oya, pengen bilang: aku menyayangimu dan selalu menyayangimu dan akan tetap menyayangimu. Aku juga merindukanmu, bu. Sangat. Semoga Allah selalu menerangi kubur ibu, memberi ibu pandangan surga dengan pandangan paling dekat. 

They say, writing can heal your sick mental. Hahaha. So, I start writing to you. I hope you don't mind, Bu. Love you soooo much. Muah!

-peni-
20 April 2010. 12.58 WIB

Saturday, October 31, 2009

....maluuu!! ^^'

Sebelumnya, saya udah pernah posting di plurk setelah kejadian. Biasalah, plurk kan tempat saya nulisin sampah-sampah penting ga penting. hihi...

Tapi lama-lama ga tahan juga buat nulis di sini....




Kebiasaan saya setiap makan siang di kantor adalah sambil nonton. Nonton apapun. Mau nonton My Neighbor Totoro yang udah ratusan kali saya tonton, mau nonton Upin dan Ipin sampai saya hafal semua kalimatnya, atau film-film baru hasil donlotan temen. Hihihi.


Siang itu, saya makan siang ditemani The Proposal. Saya ga pernah nonton sampai 2 jam penuh, karena istirahat makan siang saya kan cuma satu jam, itupun dipotong shalat dzhuhur. Paling saya cuma nonton setengah jam paling lama.

Salah satu senior saya masuk ke ruangan dan nanya, "Peni, mic di headsetnya bisa dipake buat merekam?"
Saya: "Umm... ga tau, sih, Mas. Belum pernah coba. Mau coba pake?"
Senior: "Iya, aku coba dulu, deh. Soalnya mic di studio rekaman ga tau kenapa, ga masuk suaranya pas aku coba rekam."
Saya:"Oh, okay."

Saya pun mencabut headset dari deskbook saya. Tiba-tiba suara teriakan para perempuan dari dalam deskbook saya membahana. So outloud!

Senior: "Wah, apa tuh?"
Saya:*pucat pasi* "Hehe, lagi nonton, mas..."

Saya buru-buru berusaha me-mute suara, tapi ga tau kenapa tiba-tiba si mouse jadi dodol dan susah digerakkan. Alhasil itu teriakan dan backsound plus suara-suara lain yang ganjen itu masih membahana dengan kerasnya.

Ya, pas senior saya masuk itu, tepat di adegan si cowok penjaga tokoh yang aneh itu *yang kemudian jadi pendeta di pernikahan* nari striptis ga penting!!!

Saya panik. No! No! No! Soalnya orang-orang dari ruangan lain sudah mulai bertanya-tanya suara apakah itu gerangan... Kyaaaaaaa!!! Saya tambah panik karena mouse betulan ga bergerak!!! Gosh... Mau saya matikan deskbooknya, masih ada kerjaan di notepad yang belum ter-save. Sampai akhirnya adegan striptis kelar, mouse baru bisa saya kendalikan. Saya segera klik tombol MUTE. Saya close program windows media player. Saya selesaikan sisa makan siang saya tanpa nonton lagi... >_<

gambar ngembat dari sini

Friday, December 19, 2008

How Are You, Mom?

Assalaamu 'alaikum...

Apa kabar, Bu? Hmm, hari ini, 19 Desember 2008. Means udah 25 tahun lebih sehari, ibu pergi meninggalkan dunia ini. Ibu baik-baikkah di sana? Peni kirim doa, Bu, sampai, kan? Katanya, doa anak yang shalih akan membuat semua amalan ibu selama ibu hidup terus bermanfaat. Aamiin. Mudah-mudahan Peni anak yang shalih, ya, Bu?


Eh, iya, Bu.. udah lama, ya, Peni nggak cerita-cerita sama Ibu. Ada banyaaaaaaak banget yang pengen Peni ceritain. Awal November kemaren, Peni, Fahmi dan Ilman pergi ke Jakarta, dalam rangka menghadiri nikahannya Anggia. Peni ketemu semua saudara Ibu. Bahagiaaa banget bisa ketemu mereka. Cuma, kondisi Ilman sempet bikin Peni dan Fahmi clash berat. Mungkin Ilman kecapekan, jadi rewel terus, ya, Bu...

Oya, Bu. Asih udah punya baby sekarang. Peni ikut nungguin waktu Asih melahirkan. Ih, kesel banget sama dokternya. Masa Asih sampe harus dijahit dua kali, udah gitu bengkak pula daerah bekas jahitannya sampe ada darah beku dan harus dioperasi? Argh! Ibu kan dulu ngasuh Asih bareng-bareng Peni, ya. Ibu pasti kesel juga kalo tahu ini. Alhamdulillah, bayinya sehat. Jadi, kami nggak mengkhawatirkan dua-duanya. Haha, cucu Ibu jadi 5 sekarang. Ada Bei dan Aska anaknya Gia, ada Ilman, ada Dafa anaknya Didot dan ada Erin anaknya Asih.


Bu, kami semua di rumah sehat-sehat aja. Bapak kan rutin bikin acara dzikir bersama di rumah dan kemarin rasanya gimanaaaa gitu. Karena kemarin kan 25 tahun Ibu pergi meninggalkan kami semua, jadi suasananya haru biru gitu, deh... Ah, Ibu... tapi Peni nggak mau berandai-andai, kok. Ibu sudah ada di tempat yang tenang, jadi Ibu nggak perlu pake tabung oksigen lagi kalo Ibu sesak nafas. Badan Ibu nggak perlu biru-biru lagi karena kurangnya asupan oksigen. Ibu nggak harus disuntik atau minum obat lagi. Ibu nggak harus makan cuma makan kentang rebus yang menurut Peni rasanya bener-bener hambar.


Peni tuh saluuuut banget sama Ibu. Ibu tabah dan kuat. Sayang, diary Ibu nggak Peni pegang, waktu itu diselamatkan bulik Yati dan hancur karena badai. Padahal, Peni pengeeeen banget baca tulisan Ibu. Peni kan cuma kenal Ibu 6 tahun. Astri malah nggak pernah ketemu Ibu. Dia bener-bener nggak tahu Ibu. Kali ini Peni berandai-andai, seandainya di tempat bulik Yati nggak pernah terjadi badai, pasti Peni dan Astri udah semakin kenal sama Ibu, lewat tulisan-tulisan Ibu. Argh! Haruskah Peni mengutuk badai itu? Nggak boleh, kan, Bu.. itu pasti sudah kehendak Allah. Atau jangan-jangan, itu tanda dari Allah, kalo manusia sekarang udah makin jahat sama alam, makanya Allah kirim badai.


Banyaaaak banget yang terjadi belakangan ini. Peni tersambung lagi sama temen-temen lama Peni. Inget aja, waktu Ibu meninggal, yang nganter Ibu.... Subhanallaah... banyaaaaaaaaaaaaak banget, Bu! Pasti Ibu dulu orang yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat baik. Buktinya banyak yang kehilangan Ibu. Oya, waktu ketemu Eyang Nduk dan dia tau ini Peni, tau, nggak, Bu? Beliau langsung dekap Peni, lamaaaaaaaaaa banget. Ada apa, ya, Bu? Apa beliau kangen Ibu? Tapi wajah Peni kan ga mirip sama Ibu, ya.. huhuhu... Peni lebih mirip sama bapak atau campuran keduanya.


Ilman makin hari makin besar dan makin cerdas. Ibu pasti bakalan ketawa kalo Ibu lihat kelakuannya. Penemuan terbaru Ilman: kalo dia ngacak-ngacak buku di kamar, trus Peni matiin lampunya biar dia keluar dari kamar dan nggak ngacak-ngacak buku di kamar, dia nggak marah, Bu. Tapi, dia bawa buku keluar dan baca di luar kamar yang terang. Hahaha... Amazing banget, ya, cucu Ibu.

Peni inget, dulu Peni dimanjain sama buku, makanya, Peni juga mau manjain Ilman dengan buku. Hasilnya? Wah, dia sangaaaat suka semua hal berbau tulisan dan gambar. Seperti brosur sampe buku-buku tebal punya Fahmi. Haha.. Oya, Peni juga inget, dulu Ibu suka ngajak Peni main harta karun dan kasih kejutan. Peni udah mulai ngikutin Ibu, loh! Mungkin kalo Ilman sudah lebih besar, akan diajak main cari harta karun. Peni baru suka kasih kejutan buat Fahmi. Menantu Ibu itu, orangnya kereeeeeeeen banget! Baik, shalih, penyabar, perhatian....! Ah, nggak salah Peni pilih Fahmi. Ibu bisa tenang deh, jadinya. Ya, kan?

Peni kemaren bikin cupcake. Ilman bantuin juga, Bu. Hehe. Ibu Yayah selalu ngakak lihat kelakuan Ilman. Peni yakin, kalo Ibu masih ada juga, pasti bahagia dan bangga punya cucu seperti Ilman. Yah, nenek mana sih yang nggak bangga sama cucu sendiri? Hahaha....
Bu, kucing-kucing Peni pada nemenin Ibu, ga? Kei, Keiko, Choki dan Chiko? Peni udah bilang mereka, kalo mereka mati, mereka harus temenin Ibu. Kucingnya Bulik Yati juga, tuh, Salju, udah ketemu Ibu, kan?

Wah, dengan adanya internet, Peni ketemu banyaaaak orang yang udah lama ga Peni temui. Andai bisa ya, pake internet kita chatting. Hahaha. Mumpung mimpi, muluk aja sekalian. Peni paling titip pesen aja sama Allah buat Ibu. Karena Peni tahu, Allah Maha Baik. Dia sayaaang banget sama Ibu, makanya Ibu dipanggil pulang, biar Ibu nggak sakit lagi. Peni pengen bisa kayak Ibu. Dulu, almarhumah Eyang Putri Sakri, kalo ketemu Peni tuh selalu bilang, "Nduk, kamu mesti bisa mencontoh ibumu. Ibumu tuh orang yang baik. Dia mau melakukan apa saja untuk membantu orang lain.
Ya, Bu, Peni bisa merasakan kalo Ibu tuh orang super baik. Sampai sekarang, masih ada saja orang yang mengenang Ibu... Pasti, Ibu orang yang super menakjubkan!

Eh, iya, Bu. Sudah pagi, Peni harus segera mandiin Ilman. Kalo terlambat berangkat kerja, nanti Fahmi sedih. Apalagi kemaren terhambat macet. Mudah-mudahan hari ini nggak macet, ya, Bu... Nanti kita ketemu lagi dalam doa-doa Peni. Peni cuma pengen Ibu tahu, kalo Peni tuh sayaaaaaaaaaaaaaaaaang banget sama Ibu dan Peni kangeeeeeeeeeeeeeeeeen banget sama Ibu... Love you sooooo much, Bu! Million kisses for you! Mmmmmmmuahhh!!! Pamit, nggih, Bu....


wassalaamu'alaikum,
with love,

Peni

Thursday, December 18, 2008

Proklamasi Cinta #1



Ini sebuah kisah kasih di sekolah. Di mana tokoh utamanya adalah seorang cewek berusia 16 menuju 17 tahun, yang 14 tahun lalu itu kelas 2 SMA. Untuk selanjutnya, cewek ini kita namai cewek #1.

Alkisah, sejak kelas 1 SMA, cewek #1 selalu jadi objek penderita ketika ia melewati kelas seorang cowok -yang kemudian kita namai dengan cowok #1- yang seangkatan dengannya. Setiap cewek #1 lewat kelasnya, pasti disorakin. Dan cowok #1, cuma bisa salah tingkah tiap cewek #1 berjalan melewati kelasnya. Padahal, nggak pernah ada firasat apalagi rasa suka yang tertanam di antara keduanya. Bahkan, entah skenario apa yang sedang disiapkan Tuhan, keduanya ber'jodoh' di kelas bio dua. Maksudnya, mereka sama-sama ditampung di kelas bio dua.


Gosip tentang mereka di kelas 1 yang tadinya sudah akan di'putih'kan cewek #1, malah makin meledak. Karena ada oknum tidak bertanggung jawab lain kelas yang malah menyebarkan gosip tak benar ini.
Dan begitulah, kemudian nasib bukan sepasang anak manusia yang sebetulnya nggak pernah saling suka ini kemudian selalu jadi subjek bahasan di kelas, manakala guru perlu subjek dalam menjelaskan sesuatu. Terutama untuk mata pelajaran reproduksi, yang kalo di kelas biologi, pertemuannya lebih banyak dibanding anak fisika apalagi sosial. *sigh*

Dan bukan sepasang anak manusia ini di'jodoh'kan teman-teman sekelas mereka dengan mengatur bangku supaya kedua anak ini tetap berdekatan. Hingga tiba hari itu.

Seorang cewek lain, sebut saja cewek #2, mengajak cewek #1 untuk berbicara serius.

cewek #2: "neng, gue mau cerita. semalem, cowok#1 nelpon gue. dia curhat."

cewek #1: ...... (dalam hati sih bilang, "trus hubungannya apa sama gue?")

cewek #2: "dia tanya gue, dia pengen nembak kamu."
cewek #1: ..... (dalam hati, kok, curhatnya sama dia siy? @#$^&%!!!!)

cewek #2: "dia minta gue yang bilang sama kamu. kamu mau, nggak pacaran sama dia?"
cewek #1: "... ng...ng.... kayaknya nggak!"

cewek #2: "lho, kenapa? bukannya kalian dah akrab? dah deket? tiap hari saling cela-cela gitu! itu namanya kalian saling suka!"
cewek #1: "sok tau! nggak ada apa-apa di antara kami, titik!"

cewek #2: [meraih bahu cewek #1, menatapnya dalam-dalam] "ini... persoalan... serius, tau!"

cewek #1: "kenapa serius? kalo serius, kenapa dia ngomong sama kamu? kenapa dia ga langsung ngomong sama aku, seperti kalo dia ngajakin aku ke hotel?"
cewek #2: "kalo ngajakin kamu ke hotel pan maen-maen. kalo soal nembak ini, serius, beneran." cewek #1 memandang cewek #2. ia merasakan bahwa cewek #2 memang serius dengan ucapannya.
cewek #1: "duh, buah simalakama, euy, kalo jadian sama dia, teeehhhh..."
cewek #2: "kenapa?"

cewek #1: "dia pan omes (otak mesum). kalo aku jadian sama dia, berarti sama aja aku menyerahkan masa depanku pada kehancuran. kalo nolak, rusak persahataban. padahal, dua-duanya penting buat aku!"
cewek #2: "dia udah janji, kooook, kalo misalnya jadian sama kamu, dia akan lebih kalem dan ga omes lagi... tapi langsung praktek!"
cewek #1: "huwaaaa! ga mau! tidak! tidak! tidak!"
cewek #2: "ayolaah... gue tadi becanda soal praktek! serius, kok. dia mau berubah."

si cowok #1 berjalan melewati mereka berdua dan cewek #1 memang merasa hari itu si cowok #1 sangat pendiam, nggak seperti hari-hari biasanya yang selalu mengajaknya berantem.
dan keadaan itu membuat si cewek #1 percaya, kalo tengah terjadi sesuatu di diri si cowok #1.

cewek #1: "ada yang nyatain ke aku, seminggu kemaren dan baru mau kujawab dua hari lagi, biar tanggalnya cantik kalo jadian. kalo aku nerima si cowok #1, apa aku nggak mengkhianatinya?"
cewek #2: "yaa... terserah... tapi enaknya kan kamu jadian sama orang yang udah kamu kenal lama... si cowok #2 baru deket sekarang ini aja, ya, kan?"

cewek #1: ..... (tapi dalam hatinya bilang, 'cowok #2 jauuuuuh lebih keren daripada cowok #1')

cewek #2: "gini aja, deh... sebentar aja, cobain aja dulu. mau, ya?"

cewek #1: "sembarangan pake percobaan!"
cewek #2: "ayolaaah... kalo ternyata dalam dua hari dia nggak berubah, putusin juga nggak apa-apa. dia udah nerima itu sebagai konsekuensinya, kok!"
cewek #1: "kok bisa ngobrol sejauh itu?"

cewek #2: "ya, kan, untuk berbagai kemungkinan, dear... ya udah jawab aja, buat sehari aja gitu?"

cewek #1: "apaan jadian sehari? emangnya test drive? aku baru mau sama dia kalo udah nggak ada cowok lagi di dunia ini!"

cewek #2: "give him chance, please..."
cewek #1: "argh!"

cewek #2: [memelas, pandangan memohon] "pleaaseee...."

lima menit terberat pertama mulai dirasakan cewek #1 karena dia harus membuat keputusan besar dalam hidupnya.

cewek #1: "oke, pake syarat dan harus ikutin syaratku!"

cewek #2: "syaratnya apa?"

cewek #1: "oke, jadian sama cowok #1 cuma seminggu aja, udahnya aku jadian sama anak kelas sebelah. dan tolong, ga disebar ke mana-mana kalo aku jadian sama cowok #1. ngerti?"

cewek #2: [melompat kegirangan dan meluk-meluk cewek #1] "whoaaa...! asiiik!!! ma kasih, yaaa!"


cewek #2 lalu berdiri, dan melingkarkan jarinya membentuk corong di sekitar mulutnya sambil berteriak "WOOOOOOOOIIIIIIIIIIIIII! PENGUMUMAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNN! CEWEK #1 MAU JADIAN SAMA COWOK #1!!! HOREEEEEEEEEEE!!!" kelas yang tadinya sedikit hening, mendadak ramai. semua teman-teman cewek #1 dan cowok #1 ini sudah lama menanti akhir dari usaha mereka.

Usaha menjodohkan sepasang anak manusia ini.
mereka tampak bahagia mendapati usaha mereka menjodoh-jodohkan dan menjadikan sepasang bukan kekasih ini subjek penderita, tidak sia-sia. tinggal yang jadi objeknya bengong, terutama cewek #1. keringat dingin, deg-degan dan merasa jadi selebritis langsung meradang. rasa geram mulai menguasai diri cewek #1. 'katanya ga bilang-bilang? kok malah diumumin? dasar sinting!' @#$%^&*($%^)!!!!

5 menit kemudian, cewek #2 berdiri lagi dan mengumumkan, "INI SEMUA CUMA APRIL MOP! Hahahahaha!" beban yang menimpa si cewek #1 langsung terbang, cewek #1 merasa sangaaaaaaaaaat lega. dan sujud syukur! 5 menit tadi adalah 5 menit terlama kedua yang dialami si cewek #1.

Dua hari kemudian, 03-04-94, cewek #1 ini jadian sama cowok #2.
cewek #1 dan cowok #1 sampai kini tetap bersahabat, nggak pernah pacaran apalagi praktek ke-omesan bersama-sama. Mereka menikah dengan pasangan mereka masing-masing dan cewek #1 punya hidup yang normal. Entah dengan cowok #1. Haha

Note: to tell you the truth, cewek #1 itu adalah saya. Hehehe....

Tuesday, December 16, 2008

Move On!


Saya percaya, seorang iwanaries bakalan ketawa guling-guling baca jurnal saya yang ini. Bukan karena tulisan ini lucu. Lebih dikarenakan he knew what just happened behind this story. Tapi, saya ga peduli! Diketawain juga nggak apa-apa. Mudah-mudahan tulisan ini kepake buat siapa aja yang udah baca. Hahaha... Singkat cerita, beberapa minggu ini, saya tiba-tiba kasuat-suat akan seseorang di masa lalu. Ada pencetusnya? Antara ada dan nggak ada. Kenapa? Saya cuma kebetulan lihat lagi picturenya. Itu aja. Dan semua membangkitkan ingatan saya akan apa yang sudah pernah saya lalui bersamanya beberapa tahun sebelum saya menikah. Sakit? Ya. Saya rasakan sangat sakit ketika mengingat lagi apa yang terjadi hingga kami broke up. Sakit yang saya rasakan beberapa minggu ini, ternyata adalah akumulasi semua perasaan saya padanya selama 5 tahun muncul semua ke permukaan. I need therapy!

Jika ada yang mencibir jika baca tulisan ini, saya sudah siap. Secara, saya sudah 3 tahun menikah, kok, masih inget masa lalu. Ini memang kebodohan saya. Seharusnya saya selesaikan dulu masalah saya yang satu ini dari dulu. Saya tau, saya sudah get in dan ga bisa come out. Tapi, pasti ada cara untuk membuat semua itu menghilang perlahan. Kesalahan saya, saya menyimpannya di dasar hati saya bertahun-tahun, when something came out dan mengaduk-aduk hati saya, dia akan kembali muncul ke permukaan. Seharusnya, saya biarkan saja semuanya di permukaan dan lalu biarkan menguap.
Ada yang bilang, karena saya sedang settle, trus saya berusaha cari sesuatu yang menantang saya. Nggak juga, kok. Karena selama bertahun-tahun saya biarkan dia mengendap, makanya bisa tiba-tiba muncul ke permukaan. Seorang teman yang lain bilang, ini cuma godaan. Sementara temen yang satunya lagi bilang, ini ujian. Baiklah, saya mencatat ini sebagai ujian, godaan sekaligus tantangan. Kekuatan saya hanya satu, saya punya komitmen dengan apa yang sudah saya jalani sekarang. Dan saya berjalan di atas semua konsekuensi atas komitmen yang sudah saya pegang. Saya percaya betul, Allah SWT tidak akan menguji saya di luar kemampuan saya. Setiap DIA kasih saya soal, DIA akan kasih saya solusinya. Dan ketika kemarin pagi, saya menangis di pojokan, tanpa disangka-sangka 6 orang muncul via Y!M memberi saya support segede-gedenya dan membuat saya akhirnya bisa move on perlahan-lahan.

Hikmah dari apa yang saya alami sekarang adalah, ketika kita patah hati, jangan kubur dalam-dalam. Jangan endapkan. Biarkan saja dia mengapung dan akhirnya menguap. Kalopun dia jatuh lagi ke kita, mungkin sudah tercampur dengan yang lain, sehingga nggak akan lagi jatuh persis sama seperti waktu kita biarkan dia menguap. Berpegang teguh pada komitmen juga membantu menguatkan kita buat move on. Satu hal lagi, doa itu penting. Persahabatan mungkin akan menjadi salah satu jawaban buat doa kita.

Saya betul-betul merasakan kasih sayang semua sahabat saya di seluruh dunia saat ini. Thank you for making me feel warmer.... Love you all, guys.
Love you, papailman who always make me strong, love you, Ilman.... Ya, saya akan mulai move on perlahan-lahan. Saya nggak akan supress masalah ini seperti yang sudah saya lakukan hampir 5 tahun ini. Dan hari ini saya sudah merasa jauh lebih baik dibanding hari kemarin.



gambar minjem dari sini