Wednesday, September 06, 2006

Kalo Sekantor ama Mantan Personel PeHaBe





Beberapa waktu yang lalu, saya postingin lagunya PHB (blum semuanya, sih) apaan sih, PHB itu? PHB singkatan dari Pemuda Harapan Bangsa, sejenis band yang bukan boyband, deh... alirannya ga banget Radja apalagi sampai /rif. Mereka sejenis band PSP (Pancaran Sinar Petromak) yang pernah hidup di jaman dulu kala, sebelum saya lahir... Keknya sih, mereka terinspirasi dari PSP ini... tapi, maaf, ya, gaya mereka sama sekali ga NAIF, lho! Jadi, aliran mereka gimana, ya? Susah buat jelasin, deh! Plek abis PSP juga nggak, soalnya kadang ada metal2nya dikid, meski dangdud aneh menyelubungi karya mereka... berikut manusia2 personelnya yang aneh2 juga..... selama ini, saya hidup di lingkungan yang... yah, boleh dibilang lurus2 aja.... dari SD sampai kuliah, saya jarang nemu orang2 aneh, meskipun ada, yang aneh2 menurut saya ini ternyata masih jauh sangat normal bila dibandingkan dengan makhluk2 PHB ini.... Waktu saya masih kuliah dan aktif di PAS - ITB (salah satu unit di Masjid Salman ITB), beberapa temen saya sering banget nyalain lagu2nya PHB waktu mereka baru2 aja muncul. Sebenernya, sih, buat kuping saya yang normal ini, lagu2 mereka termasuk aneh. Sumpe! Cuma, lama2 saya akhirnya terbiasa dengernya dan malah jadi doyan. Dan akhirnya ngefans sama mereka, deh..... Heuheu.... Dan, beberapa tahun kemudian, setelah saya terdampar di sini, saya malah sekantor dengan dua orang mantan personel PHB ini. Temtem alias Rama dan Della. Gaya kucluk mereka ga berubah, meski, yah, karena harus serius menggarap produk edukasi buat anak2, mau ga mau mereka rada2 berubah juga. Cuma, yaaaa, kalo dari cara ngobrol mereka, sih, masih aneh, lah, kata saya mah....
Dulu sih ngefans... sekarang???? huahahahaha.... kalo masih ngefans, ntar mereka ge-er berat....
Kadang, saya pusing dengan kekonyolan2 mereka (blum biasa, kali, yaaa) tapi, terus terang, keberadaan mereka dalam hidup saya membuat hidup saya jauuuuuuh lebih berwarna, sehingga saya bener2 tahu, bahwa hidup ini ga cuma hitam atau putih aja. Dari mereka lah saya belajar berpikir dari sudut pandang yang lain. Heuheu.... sebetulnya, dari Temtem juga, sih, saya belajar mengungkapkan sesuatu yang emang bener, jangan diam saja, karena dengan diam, ga akan ada yang berubah....tul, ga? Diam-diam saya bersyukur banget, bisa dipertemukan dengan orang2 yang edan2 seperti mereka... karena, saya jadi belajar banyak dari cara mereka berpikir. Makasih, ya, Tem, Del, sudah ikut mewarnai hidup saya...meski kalian sudah bukan personel PHB lagi, tapi, buktinya kalian masih diakui sama PHB....

foto1: Rama alias Temtem sekarang
foto2: Rama alias Temtem sebagai Mbak Temi yang saya yakin, pose ini bisa bikin Gya, anaknya, pingsan jika melihat pose papanya kek gini.....*kalo ntar Gya udah gede pastinya*
foto3: Della *mungkin pada saat saya belum lahir, hihihihi*
foto4: Della di video Klip Kamar Hitam

Wednesday, August 23, 2006

Long Wiken yang Cappeee deeehhhhhh

Di kalender versi Indonesia, tanggal 17 Agustus 2006 jatuh pada hari Kamis, ini jelas hari libur nasional. Dan, 21 Agustus 2006 yang jatuh pada hari Senin adalah hari peringatan Isra' Mi'raj, ini juga jelas, libur nasional. So, yang terjadi adalah.... a very long weekend, dunks!
Meski demikian, di kantor saya mah seperti biasa, kalo mau Kamis libur, Jumat masuk, atau kalo mau, Kamis masuk, Jumat libur sampai Senin.
Berhubung, kakang libur dari Kamis sampai Senin, dan saya sendiri sejak 8 Agustus 2006 sudah mendapat hak cuti tahunan, maka, saya segera mengisi form cuti tersebut pada hari Rabu, 16 Agustus 2006, sore hari, setelah "merampok" pak Agus (marketing and sales manager kantor kami) di Pizza Hut - Dago.
Tujuan saya ambil cuti bukan karena pengen cobain pake hak cuti, sih. Kasian kakang, kalo dia libur saya masih kerja juga. Pasti dia bengong dan buntutnya ngajak saya keluar kantor beberapa jam buat makan di luar. Dan saya sendiri sudah pasti tidak bersemangat bekerja di hari libur. Oh, plis, deh, mana enak kerja di suasana libur? Sebab, saya sudah mengalami ini beberapa kali.

Oke, petualangan liburan dimulai pada hari Kamis. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, untuk menyelesaikan pekerjaan menyetrika yang sudah sangat menggunung pada liburan kali ini. Jadi, hari Kamis pagi saya mulai dengan menyetrika pakaian.
Ternyata, sekitar jam 8 pagi, dari teras rumah saya terdengar suara ribut. Oooo, ternyata depan rumah saya mau dijadikan tempat lomba2 17 Agustusan RT. Sudah pasti, sebagian wilayah rumah saya pun dijadikan tempat masak dan naruh barang2 lomba. Saya cuma sanggup selesaikan setrikaan sampai jam 10an, karena setelahnya saya mendampingi kakang buat ikutan lomba2, sekalian nonton, deh!
Lomba2 itu selesai sekitar jam 2. Saya jadi inget, hari itu saya ada janji mau ketemu Tante Esther di rumah mertuanya, jam 4. Ya sudah, mandi dan sekitar jam 3 cabut dari rumah. Di jalan, kami berdua merasa lucu, karena cuma motor kami satu2nya kendaraan berletter D di jalanan. Lainnya? Letter B, dunks!
Kami sempet mampir dulu ke MM Dago, beli dua baju hamil, trus ke Salman shalat Ashar, dan cabut deh, ke Teuku Angkasa, tempat mertuanya Tante Esther.
Sampai di sana, kami berdua disambut dengan ramah. Tante Esther orangnya rame, kakang yang lumayan pendiam sampai bisa ikutan nimbrung....
Oya, kami diajak makan di sebuah pujasera yang ada di Dago, tadinya mau ke Toko You di daerah belakang Borromeus, berhubung tutup, jadinya kami ke Sam's Strawberry Corner, di area Uptown Factory Outlet. Sambil makan yamien, ngobrol seru ama Tante Esther. Obrolan diterusin sampai rumah mertua Tante Esther. Berhubung dah maghrib, kami berdua pamit, deh!

Besoknya, Jumat, saya mulai menikmati cuti saya. Hehehe. Saya lanjutkan pekerjaan menyetrika, sementara kakang yang ga bisa akses internet di rumah pake telkomnet instan terpaksa lari ke warnet sampai menjelang Jumatan, buat urusan kantor. Usai Jumatan dan makan siang, saya dan kakang pergi ke daerah Rajawali, nengok uwanya kakang. Sorenya berlanjut ke rumah adik almarhumah ibu saya di daerah Cijerah.

Sabtu, ada acara TEMIS alias kopdar milis yang saya moderatori, di Lembang Kencana. Jam 08.30 saya dan kakang sudah nangkring di sana. Acara berlangsung sampai jam 13.30. Tadinya mau kondangan sekalian, ada undangan resepsi pernikahan teman sekantor kakang di Gedung Wanita, jalan Riau. Hmmm... dengan tubuh kakang bersimbah keringat sehabis main bola dan masih ada di Lembang jam segitu, sementara undangan selesai jam 14.30??? Pasti ga mungkin banget pergi kondangan, kan? Akhirnya, kami memutuskan buat pulang.
Masya Allah, perjalanan Lembang-Bandung sedemikian macetnya. Padat merayap. Alhamdulillaah, kami pake motor. Kalo nggak? Hmmm... nggak nyampe2 kali, sampai sore. Saya dan kakang sampai ke rumah jam 14.30.

Sore itu, setelah istirahat sebentar, kakang melakukan tugasnya, mencuci baju dan saya meneruskan menyetrika yang tinggal dikit lagi. Tapi, badan rasanya capek, cuma sanggup setrika sekitar 2-3 potong aja. Kaki jadi gampang kesemutan dan punggung rasanya sakit banget. Akhirnya, saya memutuskan buat duduk2 aja sambil jalan2 sedikit di rumah.

Rencananya, Minggu pagi mau cabut ke Garut. Ternyata, keponakan ibu sambung saya datang dari Jakarta dan mengajak kami makan di luar. Siang itu, kami pergi ke Rumah Stroberi, di daerah Cihideung, sebelahnya The Peak. Waduh!!! Penuh banget itu tempat! Yang parkir juga letter B semuanya!!!

Ga dapet tempat duduk, kami mencari meja yang kira2 orang-orangnya bentar lagi udahan makannya
Hmpf!!! Akhirnya dapat juga! Kami makan nasi liwet dan gurame goreng juga jus stroberi (saya sih prefer minum lemon tea aja, deh!). Tentu saja ga bisa lama2 di situ, soalnya, meja tempat kami makan juga sudah diincar orang yang belum kebagian tempat duduk.

Kami sempat menengok kebun stroberi dengan pengumuman bahwa hari itu kami ga bisa panen.

Akhirnya, kami memutuskan buat pulang, dan pas lewat Ciwaruga, saya dan kakang minta diturunin di situ, karena kami mau terus ke Cicaheum.
Masya Allah... rasanya ga nyampe2, deh! Setelah dua jam terkatung-katung di angkot (padahal biasanya cuma 45 menit), akhirnya kami mencapai Terminal Bus Cicaheum. Alhamdulillaah, bis Karunia Bakti (satu2nya bis Bandung - Garut yang pake AC) masih ada meskipun harus nunggu penumpang penuh dulu.
Daaaannn.... perjalanan menuju Garut lumayan merayap. Bandung - Rancaekek yang bisa ditempuh kurang dari satu jam, ternyata memakan waktu dua jam! Belum lagi menuju Cicalengka, di mana sedang ada rehabilitasi jalan, sehingga jalan menuju arah Garut menjadi satu jalur saja. Belum lagi di daerah Cicalengka, ada truk kelebihan muatan, sehingga kami ikut terhambat.

Kami sampai di Garut jam 20.00, langsung ke Pasar Ceplak, butuh makan soalnya. Sempet mampir dulu ke Toserba Yogya, beli makanan buat oleh2 orang2 di rumah mertua. Nyampe rumah mertua jam 21.00.

Besoknya, cuma jalan pagi dan mampir ke rumah kakak ipar, trus pulang ke mertua dan saya tertidur. Asli, badan saya rasanya capeeek banget. Dan, jam 2 siang kami memutuskan buat pulang ke Bandung. Liburan sudah usai.

Saya sampai di terminal Cicaheum jam 17.00. Cuma dua jam perjalanan saja, dari Garut. Sangat kontras dengan sehari sebelumnya, di mana perjalanan Bandung - Garut bisa memakan waktu sampai 7 jam! Nyampe rumah, sempat mandi, makan malam dulu, shalat Isya, dan TIDUR.

Betapa melelahkannya liburan kali ini. Ga ada kesempatan sehari pun cuma buat bersantai di rumah atau balas dendam buat tidur. Sekarang, sudah dua hari sejak liburan itu berakhir, badan saya mulai terasa pegal2 dan mual2.

Hmpf!!! What a nice long weekend.....*tapi, aku kasian juga sama orang Jakarta, maksud hati liburan di Bandung, yang di dapet cuma macet dan macet lagi*

Wednesday, August 09, 2006

Di Balik "Kapan, Nih????"

Pernah dapet pertanyaan ini, ga? "Kapan, nih?"
maksudnya, kapan kamu lulus kuliah, kapan kamu nikah, kapan kamu punya anak, dll....

Jadi inget celetukan seseorang (saya lupa, yang pasti mah ada di bukunya Ninit Yunita yang judulnya Test Pack), itu pertanyaan lingkaran setan. Maksudnya, sebelum nikah pertanyaannya, kapan nikah? Setelah nikah, pertanyaannya, 'kapan punya anak?', setelah punya anak, pertanyaannya 'kapan dikasih adik?', setelah anaknya gede, pertanyaannya 'kapan mantu?' 'kapan punya cucu?' dst... dst......

Teringat ke pengalaman saya sendiri, waktu saya kuliah, dan tak kunjung menunjukkan akan segera lulus , pertanyaan yang jadi lalapan saya sehari-hari adalah,"Pen, dah lulus? Kapan sidang? Cepetan beresin, dong, TA-nya, biar cepet kerja, cepet nikah, dst..dst..."

Usai saya lulus kuliah (akhirnya), pertanyaan yang kemudian menghinggapi saya adalah,"Kapan nikah? Cepetan, dong...., kelamaan ntar bulukan loh!"

Daaaannnnn.... setelah saya nikah pun.... masih ada pertanyaan lain... "Udah isi???? Sengaja ditunda, yaaa?????"

kayaknya kalo nurutin orang lain mah ga ada puasnya dalam bertanya, yaaaaa......
saya sempet merasa stres dan bete berat waktu satu persatu orang yang nikah setelah saya menikah, hamil. bete. bete. bete. malah, beberapa malam kapan itu, tiap malam saya lalui dengan tangis. kesel, sih. malah, saya jadi sensi banget, deh!!! rasanya, tiap ada orang hamil yang lewat, atau iklan box beras yang saat itu lagi gencar2nya tayang *di iklan itu, si box beras ada timernya, nah, iklan itu cerita kalo si nyonya terakhir dapet haid pas ngisi beras dan setelah si beras abis si nyonya ini blum dapet haid juga*, kayak nyindir saya abis2an. blum lagi, di infotainment yang rajin diikuti orangtua saya, rame banget dengan seleb2 yang hamil....

pernah juga, setahun sebelum saya nikah, saya dan teman2 ngumpul di suatu acara yang tuan rumahnya adalah sepasang suami istri yang cukup lama menikah, namun belum dikasih momongan. salah satu tamunya bertanya pada si nyonya rumah,"mbak, sudah isi?"
ya, seperti biasa, jawaban si nyonya rumah adalah,"belum."
saya kira cuma sampai di situ, ternyata si tamu itu malah ngomong,"wah, udah lama nikah, kok, blum isi juga, ya? tetangga saya baru nikah dua bulan, sekarang sudah isi, lho... dia langsung isi..."

waaaa..... apa maksudnya si tamu ini ngomong begitu, sih???? hampir aja saya nyolot ke tamu itu, kalo ga inget, bukan saya tuan rumahnya dan tamu itu adalah seorang ibu yang anaknya udah beranjak dewasa (maksudnya orangtua getttoooo...)

apa urusannya, sih, pake ngomong2 kayak gitu??? bukankah soal rezeki, anak, jodoh, itu urusan Allah SWT!!! Bukan kita yang ngatur2. kalo emang blum dikasih Allah, ya mau apalagi?????

sekarang, setelah saya hamil, saya semakin melihat teman2 saya yang belum juga dikaruniai putra/putri meski usia pernikahan mereka sudah lebih dari setahun. mereka tampak tegar, tampak baik2 aja. mungkin mereka dah terbiasa dengan pertanyaan2 seperti itu, yaaaa.... *pasrah dot com*
lalu, saya juga kembali melihat teman2 saya seusia saya atau yang usianya lumayan jauh di atas saya, yang belum ketemu dengan jodohnya. mereka tampak tegar2 aja. atau mungkin mereka juga sedih, hanya saja, mereka sedang pasrah.

kenapa, sih, mereka ga didoakan aja, semoga mereka segera mendapat momongan? atau segera menemukan jodoh mereka??? daripada sekedar bertanya hal2 seperti itu yang justru menambah beban mereka???? saya yakin, dengan mendoakan mereka, akan mendatangkan kebaikan, ga cuma buat mereka tapi juga buat kita. tul, ga????

Friday, July 28, 2006

"dedeknya, kok, dimakan?"

ada seorang anak kecil naik kereta api sama orangtuanya.
di kereta api itu, dia ribuuuut banget ga bisa diem, lari sana lari sini. tanya-tanya segala macem sama orangtuanya dan yang pasti heboh banget, ngeberisikin seisi kereta.

ketika mereka sampai di sebuah stasiun, pas kereta berhenti, ada seorang ibu hamil naik, dan duduk di depan anak kecil itu.
si anak kecil ini terdiam, sambil memperhatikan ibu hamil itu.

penasaran, kali, karena perut si ibu hamil itu gede, dia nanya sama ibu hamil itu,"itu di perutnya ada apa?"
si ibu hamil itu jawab,"oh, di sini ada dedeknya."
anak kecil itu nanya lagi,"dedeknya nakal, ya?"
si ibu hamil itu jawab,"nggak, dedenya baik, kok.."
si anak itu dengan bingungnya bertanya lagi (matanya terbelalak),"kalo dedeknya baik, nggak nakal, kok, dimakan?!!!!"

Thursday, July 13, 2006

Payah, ah!!! Malu-maluiiiiinnnnnnn!!!!!!

baru tau, kalo Putri Indonesia yang sekarang (Nadine Chandrawinata) bahasa Inggrisnya balelol....hahahahaha....

sayang aja, sih, cantik, muka bule, tapiiiii..... kok, ga disiapin sebaik mungkin, gitu, bahasa Inggrisnya.... (iya, ngerti, dia bule Jerman, bukan bule Depok, hehehehe)

hmmm, kalo mau denger sendiri, silakan tengok di sini

sempet ada yang bilang, sih, yah, namanya juga kontes kecantikan, bukan cerdas cermat bahasa Inggris... tapi, yaaa, menurut saya, sih, namanya juga kontes sejagat gitu loh! Saya yang ngerasa ga jago bahasa Inggris aja merasa banyak yang ga becus dalam tatanan kata yang digunakannya pada saat interview tersebut....

kebetulan ada transkripnya:

What do you like to do in your spare time?


I like to do in my sparetime is going out with my
friends, with my family and sharing with the children
like doing some act.. doing some activities..

eh..eh..
in social work, like campaign for them and campaign
for against discrimination of women, something like
that.

What do you see yourself doing 10 years from now?

I see myself in 10 years a..eh. I see myself in 10
years later simply as a Nadine and eh..doing something
like or eh…being more mature and express or explore
myself and my potential and doing something for anyone
el.. doing something for me and everyone.. like I want
to work for the Unicef so i can be more active and
give more attention for them.

Who is your idol?

My admi.. my admirer is mother Theresa, because … she
is so humble for me and she had, she has a beautiful
or … wonderful personality. So I really .. adore at…
at her.. hehehe.

Your friends say you are…

My friends tells that I am friendly, easy going
person, just simply person, ordinary person and
patient.

What do you want the rest of the world to know about
your country?

Indonesia is a beautiful city.. so, you should go
there to visit by yourself, because we have a lot of
beautiful beaches and the spectacular mountain and…
dramatic of history and… so the people. Because people
of Indonesia is really… is really welcome eh.. and
really friendly because they like to know more about
other country, other belief, other ideas….so, come to
Indonesia and feel it and we open…we open our arms to
come to Indonesia.

Wednesday, July 12, 2006

Pahlawan dalam Hidup Saya

Semua orang pasti punya "tokoh" pahlawan dalam hidupnya. Ada yang menjagokan Superman, ada yang menjagokan Batman, Harry Potter dan lainnya.

Saya juga punya pahlawan2 dalam hidup saya....

Almarhumah ibu saya.
Beliau melahirkan saya dan membesarkan saya sampai saya kelas 1 SD. Saya masih ingat, banyak yang saya lalui bersama beliau. Untuk membangunkan saya dari tidur, beliau akan mengkitik2 saya, sambil bernyanyi, "Bangun... bangun... hari sudah siang...." dan ibu tidak akan berhenti menggelitik saya sampai saya bangun. Dan, ketika mata saya sudah terbuka, ibu menarik saya ke pelukannya.
Kami lalu turun dan keluar rumah, berjalan-jalan di sekitar rumah. Kadang beli surabi yang ada di pinggir jalan. Tiap pulang, saya selalu mengantongi bunga tanjung untuk dirangkai menjadi bando atau kalung. Itu ritual yang saya lakukan sebelum pergi sekolah.
Usai merangkai bunga tanjung tersebut, saya akan menggantungnya di leher ibu atau di pinggir tempat tidur. Lalu, saya mandi dan sarapan roti dan minum susu hangat yang di permukaannya ada lemak yang menguap. Saya biasanya mengunyah gumpalan lemak itu sebelum meminum susu tersebut.
Lalu, ya, saya berangkat sekolah. Biasanya saya diantar salah satu dari Tante atau Oom saya (bisa itu Bulik Yani, Bulik Yati atau Pak Diet), atau pembantu atau juga tetangga dekat rumah yang sudah remaja.
Sepulang sekolah, ibu biasanya memberi tahu saya, ada kejutan buat saya. Hihihi, dibuat bertualang, deh! Ibu saya tidak akan memberi tahu bendanya apa, beliau cuma memberi petunjuk. Macam2 kejutannya. Kadang sepotong kue lapis yang disembunyikan di dalam tas rotan berbentuk silinder dari Balikpapan, oleh2 dari pak Diet. Kadang sepotong ting ting gepuk manis yang disimpan di kotak mesin jahit. Ibu cuma kasih tau clue nya saja, selanjutnya saya yang harus mencari benda tersebut. Tentu saja, setelah saya ganti pakaian juga cuci kaki dan tangan.

Ada satu hal yang sama sekali tidak pernah saya pahami. Suatu ketika, beberapa waktu sebelum ibu saya kembali ke RS dan pergi buat selamanya, kami mau pindah rumah. Nah, saat itu sudah mulai packing2. Kayak majalah2 yang dah lama ga dibaca, mulai dikumpulkan dan diikat.
Pagi itu, sebelum saya mandi, saya sempat naik ke ranjang susun dan menarik satu lembar halaman sebuah majalah yang menarik perhatian saya. Lembar halaman tersebut berupa iklan Sanrio di majalah Bobo. Saya keburu dipanggil, saya ga jadi narik lembar halaman iklan tersebut, takut dimarahin juga, majalah udah diikat kok ditarik2 lagi.
Yang membuat saya takjub adalah......
sepulang sekolah, kejutan buat saya adalah...... sebuah amplop dengan lembar iklan Sanrio yang sudah tergunting dengan rapi-yang paginya saya tarik itu!!!! Sampai hari ini saya bertanya2, kok, ibu bisa tau, sih, saya kepingin itu??????

Oya, beliau juga yang membuat saya doyan baca dan mengajarkan saya membaca. Bukan dengan huruf2 plastik atau poster2 huruf yang banyak dijual
. Ibu saya mengajak saya belajar baca sambil mengajak saya memandang langit2 kamar. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang anak umur 4 tahun diajari membaca tanpa melihat huruf sama sekali!!!! Ibu saya memang jagoan!!!

Saya sering didongengi dan diajak terlibat untuk membuat dongeng tersebut jadi seru. Tau, nggak, alat komunikasi saya dengan ibu ketika saya di rumah dan ibu sedang pergi adalah..... gumpalan awan di langit!!!

Ya! Gumpalan awan di langit itu membuat saya sering berkhayal, ditunjang dengan bentuknya yang rupa2. Pernah, suatu kali, saya sedang batuk2. Ibu urung mengajak saya pergi. Waktu beliau pulang dari bepergian, beliau bilang, "Peni, awan yang bentuknya kayak anjing itu tadi nanyain ibu,'Peni kok nggak ikut?'"
Lalu saya tanya balik,"Ibu bilang apa sama awannya?"
Ibu saya menjawab,"Ibu bilang,'Peni sedang sakit batuk'."
Saya begitu antusias mendengar cerita ibu, lalu saya bertanya lagi apa jawaban awan tersebut.
Ibu saya menjawab,"Awannya bilang, 'Wah, kalo gitu Peni ga boleh minum es dulu, ya. Tunggu sampai sembuh...' Gitu katanya. Makanya, Peni ga boleh minum es dulu."

Wah, saya percaya aja. Saya tau, ibu ga betul2 bicara dengan awan. Tapi, rasanya, gimana, yaaaaa.... saya dan ibu sering bicara tentang awan dan berkhayal apa ya rasanya ngobrol sama awan.....

Kenangan2 itu tetap tersimpan rapi di hati saya. Kadang, butiran air mata ikut menemani saya ketika saya mengingat sosoknya, ketika saya berbisik bahwa saya merindukannya, ketika saya bahagia, ketika saya mendoakannya. Bagi saya, almarhumah ibu saya adalah pahlawan saya.


Bapak saya.

Meski saya tidak terlalu dekat dengan Bapak, tapi buat saya Bapak adalah pahlawan saya. Meski saya jarang sekali curhat pada Bapak, tapi saya merasakan tenang kalo ada Bapak. Bapak selalu tahu kalo saya berbuat salah, meski saya sembunyi. Bapak selalu tahu kalo saya sakit. Bapak sangat tahu apa yang saya suka dan yang saya tidak suka. Meski saya sering berselisih dengan Bapak, tapi saya tahu, Bapaklah yang selalu saya tanya pendapatnya, jika saya punya masalah. Bapaklah yang menjadi shoulder to cry on saya, ketika saya kehilangan almarhumah ibu saya. Ketika saya rindu pada almarhumah ibu.

Ibu sambung saya.
Beliau yang meneruskan tugas almarhumah ibu kandung saya: membesarkan saya. Tentu ini tugas yang sulit, tapi beliau menjalaninya dengan tabah. Dengan pola asuh yang berbeda, beliau rela membesarkan saya dan adik saya yang sudah mulai bandel. Saya salut akan keikhlasan ibu sambung saya dalam menjalani perannya sebagai ibu. Saya kagum pada rasa sayang beliau yang sangat besar terhadap kami.

Dan saya malu, saya sangat sering berselisih dengan beliau, sementara rasa terima kasih saya masih saya genggam. Saya sangat merasakan kehangatan beliau, terutama ketika saya mulai merasakan mual2 seperti sekarang. Ibu saya melakukan banyak hal supaya saya nggak kenapa2. Duh, kalo diinget2 dulu, Ibu sambung saya ini waktu lagi hamil muda, saya dan adik saya pas sedang bandel2nya... Hiks, jadi pengen nangis..... Seandainya dari dulu saya bisa berempati sama ibu hamil, pastinya saya jadi anak yang baik waktu ibu saya hamil dulu........
Saya salut, ibu sambung saya berhasil mengatasi sindroma baby bluesnya ketika melahirkan anaknya. Padahal, sekali lagi, saya dan adik saya kerjanya cuma bikin ibu stres aja.
Dalam hati, saya janji untuk melakukan yang terbaik untuknya.

Almarhum Eyang Dedeh.
Beliau adalah bapak dari almarhumah ibu saya. Beliau adalah sosok kakek yang sangat dekat dengan cucunya. Saya ingat, setiap saya ketemu beliau, saya selalu digelitik janggutnya yang dicukur kasar.... hehehe geliiiii......
Dan, setiap bertemu beliau, saya tidak pernah lupa untuk duduk di pangkuan beliau, bahkan setelah saya jadi mahasiswi!!!!!! Saya ingat, waktu saya duduk dipangkuannya untuk terakhir kalinya (saya waktu itu mahasiswi tingkat 3, kalo ga salah), beliau berbisik pada saya, buat segera menikah. Saya cuma tertawa geli. Hehehe, kepikir punya pacar aja belum, ini disuruh nikah. hehehehe..... Saya bilang sama beliau, saya masih keciiiiilllll.... pengen selesaiin kuliah dulu, trus kerja dulu, deh.....
Beliaulah yang membuat saya sempat merasakan indahnya kasih sayang kakek itu seperti apa.
Beliau selalu ingat ulang tahun saya. Tiap tahun, di hari ulang tahun saya tepat jam 05.30 pagi, telpon rumah saya berdering. Dan setiap saya angkat, pasti beliau bilangnya gini,"Peni..... selamat ulang tahun, yaaaa...." padahal, saya sendiri nggak ingat kalo saya ulang tahun... hehehe... payah, yaaaa....
Dan ucapan ulang tahun terakhir dari beliau itu saya dapat tahun 2000. Tak lama setelah itu, beliau jatuh sakit lalu.... menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saya terpukul sekali, saat beliau pergi untuk selamanya.

Eyang Putri dan Eyang Kakung (duanyanya almarhum)
Mereka berdua, sepanjang yang saya tahu, teramat menyayangi almarhumah ibu saya, secara almarhumah ibu saya adalah menantu yang menyenangkan bagi mereka. Dan, saya mendapatkan kasih sayang mereka yang teramat dalam. Saya ingat, tiap lebaran dan kenaikan kelas, keluarga saya selalu dapat kiriman paket dari mereka.
Ga cuma itu, jika saya atau adik saya ulang tahun, pasti dapet kiriman paket dari mereka.
Perhatian mereka bertambah besar, tatkala almarhumah ibu saya pergi. Mereka tahu, pasti berat rasanya bagi bapak saya membesarkan dua anak perempuan seorang diri. Makanya, hampir setiap minggu, saya berkirim surat dengan eyang putri, cerita segala macam. Pernah, eyang putri cerita, dia selalu menangis setiap membaca surat saya. Menangis karena saya masih "haus" sentuhan ibu.
Setiap saya mengunjungi mereka di Surabaya, saya pasti cerita segala macam pada mereka. Mereka bak diary hidup bagi saya.

Eyang Mami
Beliau adalah ibu sambung almarhumah ibu saya. Tidak banyak yang saya lalui bersama beliau, namun ada satu hal yang membuat saya merasa sangat dicintai beliau. Beliau sedang dalam keadaan sakit sewaktu menghadiri pernikahan saya. Padahal, saya sudah bilang, kalo memang Eyang Mami sakit, ndak apa2, minta doa restunya saja. Sungguh, tak terduga, beliau betul2 datang. Itu hadiah tak terkira bagi saya, memandang beliau seolah eyang Dedeh ada di sana juga. Sebab, saya belum pernah mengenal ibu kandung dari ibu kandung saya.


Fahmi, suami saya.
Hehehe...., buat saya, dia adalah imam saya. Meski galak dan sering "marahin" saya, tapi saya tau, dia sayaaaaang sekali pada saya. Banyak hal2 ajaib yang ga pernah kepikir di kepala saya, dia lakukan untuk menyenangkan hati saya. Membuat saya merasa, bahwa saya adalah istri paling bahagia.... (semua juga gitu, yaaaa....) yah, meski dia bukan seorang yang sempurna, tapi saya tau, dia adalah yang terbaik buat saya.

Ya... mereka adalah pahlawan hati saya. Mereka mengajari saya kasih sayang juga ketulusan. Mereka mengajari saya tentang pentingnya keberadaan kita dengan segenap kasih sayang yang kita punya. Mereka juga senantiasa menginspirasi hidup saya, untuk selalu belajar memahami orang lain, meski saya tahu, apa yang saya dapatkan belum sempurna saya amalkan. Mereka mengajari saya untuk tetap konsisten dalam memahami orang lain. Dan mereka mengajari saya untuk bersabar dalam menyayangi seorang yang bandel seperti saya.

Syukur terdalam saya, karena saya dikaruniai mereka.

Pffff.... lega..... akhirnya, saya bisa mengakui juga bahwa ternyata saya punya pahlawan juga! hehehe......


Monday, June 05, 2006

Ah, Nggak Penting!

Hari Minggu kemarin, saya dapat undangan buat menghadiri temu Alumni PAS. Wah, seneng, dunks, secara dengan adanya acara ini, saya pasti ketemu sama temen2 saya yang udah lama ga ketemu.

Saya fwd in undangan via sms ke temen2 yang kebetulan ga pada ikutan milis. Sayangnya, dari beberapa teman yang saya sms cuma beberapa yang hadir.

Salah satu temen deket saya waktu masih sama2 aktif di PAS itu namanya Nur. Dia nunggu saya di depan tempat wudhu akhwat di area mesjid Salman. Ketika saya sudah datang, dia bilang, "Peni, saya harus ngajar, nih, jam 2. Kayaknya saya ga ikut ke atas, yaaa...." (catatan: maksudnya ke atas itu ke GSG Salman Atas, secara acara Temu Alumni PAS ITB bertempat di situ)

"Yah, Nur... ngajar apaan, sih?" saya kecewa mendengar pernyataannya. Saya kan dah lama banget ga ketemu dia. Ketemu dia terakhir di resepsi pernikahan saya, bulan November 2005 lalu. Udah pasti waktu itu cuma salaman dan ga ngobrol, kan????

"Nur masih ngajarin Alen, Pen!"

Haaa??? Awet bener, 4 taon ngajarin tu anak! Pastinya sekarang dah gede banget... dulu, 4 taon lalu, anak itu baru kelas 1 SD!

"Wah, hebat, Nur! Dah nyampe mana ngajinya si Alen?" tanyaku.
"Baru iqra 5."

Apaaaa?????? Empat tahun terlalui, baru masuk iqra 5??????

Melihat saya melongo, Nur lantas menjawab,"dia ga mau sama siapa2 lagi, cuma ngandelin ngaji sama Nur aja. Di rumah juga ga mau mengulang. Jadi, jatahnya yang seminggu sekali itu aja dia pake buat ngaji."

Wah, saya melongo. Sayang sekali.
Ga lama kemudian, Alen muncul. Dia cuma melewati kami. Nur manggil Alen.
"Alen, sini dulu, dong, masih inget, ga, nih sama...."
Nur belum selesai ngomong, Alen udah ngomel,"Ngapain sih di sini? Kamu udah buang waktu saya!"

Waktu itu, saya duduk di lantai depan tempat wudhu bersama Nur dan Syndi. Saya berpandang-pandangan dengan Nur dan Syndi.

"Ini temen kak Nur, udah lama ga ketemu. Bentar aja, kak Nur kangen, nih, sama mereka...," mohon Nur memelas. Sebetulnya, waktu itu Nur pengen Alen salam sama kita
*biasanya, adik2 PAS kalo ketemu kita2, meraih tangan kita dan mencium tangan kita dengan takzim*


"Mereka ga penting!" sahut Alen.

Saya terkesima mendengar jawaban Alen.

"Jadi, teman itu ga penting, Len?" tanya saya padanya.

"Ya, ga penting!" jawab Alen.

"Hmmm... jadi, kak Nur nggak penting, dong, buat Alen?" tanya saya lagi.

"Ya, beda, lah. Kak Nur itu guru, bukan teman," sahutnya.

Yo wis, saya tidak melanjutkan dengan menasihati dia, toh, pastinya masuk telinga kiri keluar telinga kiri lagi, secara saya adalah orang yang ga penting buatnya.

Saya cuma terhenyak. Kaget. Sedih juga. Bukan karena saya dibilang ga penting. Tapi, saya sedih, karena anak seumur segitu sama sekali nggak menghargai arti teman. Bahkan, buatnya, yang penting gue ada urusan ama si anu, yang lain ga terpengaruh.

Saya ga punya data tentang orangtuanya atau tentang apa yang diajarkan orangtuanya padanya. Saya cuma prihatin aja, anak segitu udah bisa menjudge dengan kata2 menyakiti hati orang lain. Ga punya empati. Bahkan, ga bisa menghormati gurunya sendiri.

Jadi inget waktu seorang teman bercerita, tentang keponakannya yang baru saja kelas 2 SD sudah ribut soal merk. Katanya, kalo dia ga pake merk2 tertentu, temen2nya akan menjauhinya atau memusuhinya.

Hiks, saya menangis denger cerita teman saya itu. Padahal, anak2 sangat bisa diajari buat berempati sama temen2nya, sama lingkungan sekitarnya. Bukan diajari buat jadi konsumtif atau mengucilkan temen2nya karena temennya ga mampu beli barang bermerk. Seharusnya, orangtua ga pernah lelah mengingatkan anak atau mengajari anak sopan santun terhadap orang yang lebih tua, terhadap sebayanya, terhadap orang yang lebih muda, even terhadap hewan.

Saya jadi inget sama almarhumah ibu kandung saya. Waktu saya masih TK dulu, kalo saya mondar mandir di depan tamu, beliau tidak segan2 akan memelototi saya. Ketika saya sudah besar *kalo ga salah sudah jadi siswa SMA*, saya ngerti kenapa ga boleh mondar mandir di depan tamu. Karena, saya sebel kalo saya sedang bertamu, adik temen saya mondar mandir di depan kita terus. Atau bahkan ikut nguping obrolan kita, sehingga, urusan anak gede diketahui anak2 kecil.

Saya juga ngerti, kenapa kalo ketemu sama orang yang lebih tua itu mesti salam, cium tangan, dll. Saya sering ditegur kalo saya main slonong boy kalo ada tamu. Harus salam dulu. Pastinya, karena kita harus menghormati tamu tersebut. Mau lebih tua, mau lebih muda, orangtua saya selalu mengajari saya untuk menghargai dan menghormati mereka.

Mungkin, Alen cuma satu contoh yang tidak baik. Saya tahu, masih banyak Alen2 lain yang berkelakuan sama, sok jago, ngerasa dia paling penting. Tapi, saya percaya, kalo Alen mendapat diajari sopan santun secara terus menerus *terutama oleh orangtuanya*, dia pasti bisa menghargai orang lain.

Dan saya percaya, masih banyak anak2 yang punya rasa empati, sebut saja Faiz dan anak2 lainnya. Mumpung belum telat, ayo, kita tumbuhkan rasa empati ke sanubari anak2 atau ponakan2 kita!