skip to main |
skip to sidebar
Baru-baru ini, dapet postingan message di Friendster.
"Someone has sent you smiles", gitu katanya.
Takjub juga, ternyata orang itu temen TK dan SD waktu kelas 1.
Aku sekolah di dua SD, SD Yakeswa dan SD Sukawarna.
Di SD Yakeswa, aku cuma sampai kelas 1 doang....
Bukannya ga lulus, tapi, waktu naik kelas 2, aku kudu ngikut ortuku pindah lokasi.
Masih di Bandung juga, sih, tapi, riweuh kalo ga pindah sekolah...
Takjub (lagi), dia masih kenal sama aku!
Masih inget masa2 dulu....
ternyata, dia emang cari temen2 SD, SMP, juga SMA... hehehehe... sama kayak aku ternyata...
Apa, sih, pentingnya teman?
They mean so much for me....
Aku selalu seneng kalo bisa dapet temen baru, juga seneng kalo bisa ketemu sama temen2 lama.
Mereka bisa jadi keluarga kita. Mereka bisa ada pada saat kita membutuhkan mereka. Atau, mungkin kita yang bisa bantu mereka, pada saat mereka membutuhkan kita.
So, jangan sia-siakan kesempatanmu buat berteman. Jangan putuskan pertemanan (kecuali kepeped, seperti saya dengan seseorang yang sudahlah-tidak-pantas-buat-diingat-lagi... hehehe).
Rawatlah pertemanan, kalo dah lama ga ketemu, ya, minimal say hi...
media untuk itu sekarang banyak. Ga terbatas cuma surat via pos aja.
Bisa chat via YM, bisa sms, kirim imel, ada friendster, ada situs pencari teman, dll.....
Tapi, jangan batasi berteman hanya untuk kebutuhan aja. Sayang banged, kalo motivasi bertemen cuma sebatas itu aja. Rugi bandar, deh!
Peliharalah pertemanan... selain dapat saudara, dapat pahala, dijamin hidup kita akan jauh lebih indah daripada ga punya teman..............
- p e n i w -
^YangMerasaBerbahagiaBisaKetemuTeman2Lama^
Sebagai fans berat Harry Potter, sejak awal kedatangannya, saya selalu baca dan ikuti perkembangannya.Mungkin saya tidak seheboh fans2 lain, yang-katakanlah, bela2in beli berbagai merchandise yang berhubungan dengan Harry Potter, atau bahkan sampai berangan-angan untuk jadi bagian dari asrama Gryffindor, Hufflepuff, Slytherin atau Ravenclawyang paling menggelikan, sih, yang pasti pengen jadi orang pertama yang pegang buku itu, atau dapet buku itu. Padahal, apa bedanya ama buku2 yang lain? Toh, isinya sama2 cerita Harry Potter, sama2 diterjemahkan, dll...Saya memang nge fans, tapi, ga gitu2 amat, ah!Meski saya nge fans nya ga separah itu, tapi saya kerap terhanyut dalam ceritanya. Saya kagum sama JK Rowling, yang mampu menyihir saya sejak pertama saya baca itu Harry Potter.Semua yang baca Harry Potter, pasti tau betapa penting arti seorang Albus Dumbledore.Nah, semalam, saya menangis. Menangis karena ternyata Albus Dumbledore, meninggal karena dikenai kutukan ava kedavra alias kutukan mematikan. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah seorang Pelahap Maut yang sangat dipercaya oleh Dumbledore sudah 'tobat'. Duh, saya nangis tak tertahankan.... Saya merasakan kehilangan itu juga....Herannya, Harry terlihat sangat tabah, kuat. Beda dengan kematian Sirius. Mungkin, karena Harry jauh lebih banyak mempercayai Dumbledore, jauh lebih banyak dapat banyak hal dari Dumbledore, jadi dia memilih untuk menemukan pembunuh Dumbledore juga musuh utama dunia sihir - Voldemort, daripada meratapi kepergiannya.Saya merasakan kehilangan juga. Entah, saya menangis untuk apa. Apa saya terbawa emosi "meninggalnya Dumbledore" atau karena saya merasa sudah sangat dekat dengan mereka. Entahlah, kematian selalu membawa tangis, saya rasa.Berarti, di Harry Potter ke 7, tidak akan ada lagi sosok Albus Dumbledore yang hidup, melainkan hanya ada dalam kenangan.Di akhir cerita, Harry memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts, melainkan akan bertualang untuk menemukan Voldemort, juga Snape-yang telah membunuh Dumbledore. Di luar dugaan, ternyata Ron dan Hermione memutuskan untuk ikut dengan Harry...Persahabatan yang sungguh luar biasa....- Peni, after reading Harry Potter and the Half Blood Prince-
"Bu, saya pengen ngadu...," suatu siang, salah seorang rekan kantor mengirim pesan pada saya.
"Iya?" jawab saya.
"Ngg... sebenernya, konsep ikhtiar itu gimana, sih, Bu?"
"Apa, ya? Menurut saya?" saya tanya balik.
"Iyap!"
"Misalnya, kita pas mau ujian. Kalo kita pengen dapet nilai bagus, atau minimal kita pengen bisa jawab soal, pastinya kita mesti punya tools, kan?"
"Heu eum."
"Kita akan mengusahakan untuk punya bukunya, atau catatan, atau bahkan diktat. Tapi, kita belum tentu akan dapet nilai bagus atau bisa jawab soal, walau kita udah punya semua tools itu. Kenapa, coba?"
"Yah, mungkin belum dibaca..."
"Yup! Betul! Nah, selain kita perlu punya tools, kita mesti mengadakan usaha lain, yaitu membaca atau mempelajarinya.
"Tapi gimana, kalo seandainya, kita udah punya tools-nya, udah baca dan hafal sampai di luar kepala, kita tetep ga dapet nilai bagus atau buruk2nya, kita bahkan ga bisa ngerjain soal itu? Misalnya, tiba2 aja kepala kita kepentok trus jadi amnesia, atau tiba2 kita sakit perut tepat sebelum ujian atau bahkan kita ga pernah sampai ke kampus untuk ujian atau karena salah lihat jadwal ujian? Itu namanya takdir yang kita ga pernah tahu."
"Tapi, takdir bisa diubah, kan?"
"Bisa aja, sepanjang kita bener2 mengupayakannya dan berharap cuma kepadaNYA."
"Pas mempersiapkan diri buat ujian, bukan sekedar tools atau mempersiapkan fisik kita saja, tetapi juga secara ruhiah, kita juga harus mempersiapkannya. Berdoa, semoga dilancarkan ujian kita, diberi kemudahan, dst, dst..."
"Ujung2nya kita mesti sabar, ya, Bu?" tanyanya.
"Iya, sih...," jawab saya.
"Itu kata, sumpah simpel banget," lanjut saya," tapi, ternyata pelaksanaannya ga sesimpel kata2nya. Sabar itu melibatkan qalbu kita, di mana qalbu kita itulah yang menjadi cerminan sesungguhnya, siapa diri kita."
"Kalo saya berharap, sedikit saja, boleh, ga, Bu?"
"Berharap itu HARUS! Tapi cuma sama Allah saja. Minta apa aja sama DIA. Dan penuhi apa yang menjadi aturanNYA. Aku yakin, Allah itu Maha Memperhatikan, biarpun setitik debu, tetap diperhatikanNYA, apalagi kita, manusia yang katanya makhluk sempurna yang kelak akan diminta pertanggung jawabannya. Tentu saja diperhatikanNYA."
Lalu, dia berseloroh tentang kesulitan ekonominya, tentang dia yang merasa down dan ditinggalkanNYA. Saya hanya berdecak dan menulis,"DIA tidak akan pernah meninggalkanmu. Yang ada Kamu yang meninggalkanNYA."
Pembicaraan lewat tulisan itu kemudian berakhir, ketika teman kantor saya itu sadar bahwa dia telah menempatkan Allah di posisi ke sekian, terutama untuk masalah shalat. Jam telah bergulir nyaris setengah lima, dan dia segera bergegas untuk shalat Ashar.
Sejenak, saya termenung, sebelum melanjutkan pekerjaan saya. Saya pun telah berlaku sama padaNYA. Tidak mengindahkan panggilan untuk menemuiNYA dengan segera. Saya malah asyik dengan pekerjaan saya. Padahal, rezeki itu cuma DIA yang mengatur. Semoga, seiring berakhirnya obrolan dengan teman saya tersebut, saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik.
Sedikit berharap akan menjadi lebih baik, gapapa, kan???
Bahagianyaaa.....
Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga... heuheuheu...
Setelah sekitar setengah tahun menunggu, waktunya tiba juga..
subhanallaah... saya sudah resmi jadi nyonya....
ga nyangka juga, sih...
mengingat perjalanan hidup saya yang lumayan berliku-liku...
seru juga mengingat akhirnya kejadian juga...
jadi inget pesen suami saya...
dia bilang, bersabar itu bawa banyak berkah...
semoga saya bisa tetap bersabar....
disadari atau nggak, sekarang aku mulai terbuka sama orang tuaku...
padahal, sebelumnya, aku nggak begitu dekat sama ortuku...
boro-boro terbuka...
menatap wajah mereka saja aku tak berani
padahal mereka bukan orangtua sangar seperti di film-film
mereka adalah orangtua yang hangat
kenapa, ya?
mungkin, waktu itu aku takut bakalan diinterogasi sama ortuku
mungkin juga, karena aku takut dilarang ini dan itu...
percaya nggak, mereka sampai begging sama aku buat buka komunikasi ama mereka
dan aku masih diam...
tapi sekarang, ceritanya lain...
sekarang aku lebih bisa open up ama kedua ortuku...
dan yang pasti hidup aku lebih nyaman sekarang karena udah jarang berantem dengan mereka
sekarang-sekarang, aku selalu melibatkan mereka dalam banyak hal...
aku tahu pasti...
jalan itu mulai terbuka sejak kehadirannya...
ma kasih, ya... love you...