skip to main |
skip to sidebar
Cerita sebelumnya bisa dilihat di sini
21 Desember 2006
18.00
usai periksa kehamilan terakhir, saya dan kakang beranjak pulang. Tapi, begitu saya dan kakang sudah sampai di depan pintu RS Hermina, tiba2 seorang resepsionis memanggil saya, katanya saya harus tes darah. Jadilah, saya dan kakang balik lagi dan saya masuk ke laboratorium buat diambil darah. Kakang nunggu di ruang tunggu.
18.15
setelah diambil darah, saya dan kakang pulang pakai angkot. Hujan deras mengiringi perjalanan kami.
20.00
rasanya tambah resah, tambah degdegan. "Eksekusi" berjalan beberapa jam lagi. Tapi, beberapa jam lagi itu pula saya akan segera menjadi seorang ibu. Senang, cemas, campur jadi satu, sampai jadi malas makan. Tapi, semua orang di rumah nyuruh saya makan, sebab mulai jam 24.00 nanti, saya harus sudah puasa. Akhirnya saya makan beberapa sendok saja, setelah itu saya dan kakang shalat isya berjamaah untuk terakhir kalinya (karena sesudah itu saya pasti nifas alias terlarang buat shalat apalagi shalat berjamaah).
20.30
harusnya saya sudah sampai di RS untuk persiapan, tapi justru saya dan kakang baru berangkat.
20.50
sesampainya di RS, saya dan kakang menuju resepsionis untuk registrasi ulang. Sebetulnya saya sudah registrasi booking tempat 3 minggu sebelumnya, tapi untuk melahirkan spontan, maka saya harus melakukan registrasi ulang karena saya jadinya melahirkan secara sectio.
Oya, berhubung minggu itu banyak sekali yang melahirkan, sedianya saya yang memang daftar untuk kelas 3, jadi untuk sementara menghuni kelas 2 dulu. Begitulah istimewanya di Hermina, bisa naik kelas kalo kelas yang sudah kita book penuh.
Setelah urusan administrasi beres, saya dan kakang diantar sang resepsionis menuju ruang melahirkan. Di situ ada dua ruang persalinan normal, ruang pulih sadar, dan dua ruang operasi.
21.15
Sebelum dan sesudah operasi, saya harus masuk ruang pulih sadar dulu. Nah, maka ruangan pertama saya saat itu adalah: ruang pulih sadar. Saya disambut oleh bidan Rondang. Bidan Rondang bilang, setelah dilakukan pemeriksaan, saya akan diantar menuju ruang rawat.
Saya mulai berbaring. Saya bingung banget. Kakang memang nemenin sih. Tapi, saya bisa baca jelas ketegangan di wajahnya. Saya bekal komik Miiko yang banyak, buat ngusir 4S yang saya derita.
Gak lama, orang dari laboratorium datang untuk mengambil darah. Lagi?! Iya, katanya ini untuk apa, gitu. Waduh, hari ini dua tangan saya ditusuk jarum dan diambil darah, hanya dalam waktu kurang dari 4 jam.
Bidan Rondang datang lagi. Kali ini dia membawa alat pengukur tensi, CTG, termometer. Suhu tubuh saya normal, begitu pula tekanan darah saya. Selama 30 menit alat CTG dipasang di perut saya. Katanya, setiap bayi bergerak, saya harus memijit tombol. Itu adalah 30 menit terlama pertama yang saya rasakan. Suara detak jantung bayi itu betul2 membuat saya gelisah. Saya jadi teringat pengalaman ibu sambung saya 18 tahun lalu, katanya setelah mendengar detak jantung bayi yang cukup keras selama beberapa lama, lalu dia melemah dan melemah dan akhirnya tidak ada lagi. Teman senam hamil saya juga cerita, sebelum melahirkan, detak jantung bayinya melemah, makanya langsung dioperasi. waktu itu dia sudah siap untuk melahirkan secara normal. Jujur, saya takut mengalami itu. Saya takut mendengar detak jantung bayi saya jika tiba2 melemah. 30 menit terlama pertama yang saya alami itu saya lalui dengan dzikir dan pasrah padaNYA.
22.00
Usai melalui "siksaan" itu, bidan Rondang masuk dan mengukur tensi dan suhu tubuh saya lagi, setelah melepaskan alat2 CTG itu.
Dia lalu memperkenalkan saya pada suster Benti, yang saat itu memang jaga malam dan menggantikan tugas bidan Rondang malam itu,
karena Bidan Rondang sudah harus pulang, sebab esok pagi, dia akan bertugas lagi.
Ajie datang buat menemani kakang, sebelumnya dia sempat menengok saya dulu dan kami ngobrol2 lumayan seru, sampai akhirnya kakang menyetop obrolan kami
dan menyuruh saya untuk tidur. Saya harus cukup tidur. Mereka berdua keluar dari ruang pulih sadar. Saya sendirian lagi.
22.30
Suster Benti masuk dan membawa print out hasil CTG.
"Bu, ibu puasa mulai jam sebelas nanti, ya. Oya, ibu mau saya pesenin apa? Mau roti? ibu tadi sudah makan, kan? masih lapar?"
"oke, deh, roti."
Suster Benti beranjak, tak lama balik lagi sambil membawa print out hasil CTG lagi. kali ini beserta alat infus.
"Bu, sekarang diinfus, ya..."
"Lho, katanya nanti pagi, sebelum operasi?" saya merinding, belum pernah diinfus, sih.
"Begini, bu, dari hasil CTG ini, ibu sudah kontraksi teratur. Sudah tiap 5 menit. ibu sudah mulai mules2, kan?
Nah, karena ibu besok mau operasi, dikhawatirkan kalo kontraksi ini dibiarkan nanti akan semakin sering.
masa mau operasi harus mules2? kan kasihan ibu.... Tadi saya sudah telpon dokter untuk laporin hasil CTG ini, katanya diinfus aja
buat meredakan kontraksi."
Kontraksi rutin? Tiap 5 menit? Saya ga mules2.
"Saya ga mules, lho!"
"Wah, ibu kuat juga, ya. Padahal, lihat nih, kontraksinya lumayan tinggi dan rutin, lho!" suster Benti menunjukkan hasil print out CTG
Sebentar... katanya saya sudah kontraksi tiap 5 menit, tapi saya ga mules. Tadi sore, dokter tina juga bilang kalo saya sedang kontraksi. Kok saya ga mules2 kayak mau BAB gitu, sih?
Aneh... apa rasa sakit sedang dicabut dari permukaan kulit saya?
Akhirnya saya diinfus juga. Sebelumnya saya dipinjemin baju buat melahirkan dari RS. Batik hijau.
23.00
Saya mulai memejamkan mata. Udara dingin yang mengalir dari AC menambah stres. Di ruangan sebesar itu, saya sendirian, meskipun ada beberapa tempat tidur di situ.
24.00
Mata saya terbuka. Kebetulan suster Benti masuk untuk mengukur suhu tubuh dan tekanan darah saya lagi.
"Jam berapa, sus?"
"Jam 12, bu. Ibu mau kerai yang ini dibuka supaya ibu bisa lihat jam dengan mudah?"
saya mengangguk.
"Saya tinggal dulu, ya, bu."
Saya kembali memejamkan mata.
01.00
Mata saya terbuka lagi. Ya Allah, 5 jam lagi....
sendirian. saya berusaha keras memejamkan mata.
02.00
Kenapa saya terbangun persis tiap satu jam sekali? Apa saya gelisah? Kali ini saya mendengar suara detak jantung bayi
yang sedang diperiksa via CTG di ruang lain. RUang pulih sadar memang berdekatan dengan ruang bersalin 1 dan 2.
Saya berusaha mengusir perasaan takut sambil membelai perut saya yang sedang aktif.
"Sebentar lagi, bunda akan ketemu kamu, nak..." gumam saya. Saya lalu tertidur kembali.
03.00
HIks, lagi-lagi saya terbangun. Kepala saya mulai terasa pusing. Saya kembali berusaha keras memejamkan mata dan terlelap.
Tapi, ada suster lain yang saya belum kenal, masuk. Dia mengukur tekanan darah dan suhu tubuh saya (lagi)
04.00
Yah, bangun lagi... eksekusi tinggal 2 jam lagi, niiiihhhh...
saya memutuskan untuk tidak tidur lagi. mulai baca2 al ma'tsurat dan komik juga. hehehe, lumayan buat ngusir ketegangan.
04.30
Suster Benti masuk dan bawa2 peralatan gitu, deh. katanya dia mau bersihin badan saya.
tapi, sebelumnya dia pasang alat CTG di perut saya. Nah, inilah 30 menit terlama kedua saya.
Mendengarkan detak jantung bayi.....
05.00
Selesai dilepas alat CTG dan diperiksa hasilnya, saya mulai dibersihkan. Saya juga dikasih kesempatan buat shalat shubuh
05.25
Saya mulai pake baju operasi dan didorong keluar ruang pulih sadar. Ibu sudah datang ternyata. Berulang-ulang dia menciumi saya dan membelai kepala saya.
Tampak di wajahnya rasa cemas yang menggelayutinya. "Dzikir terus, ya, Mbak," pesannya. Jadi tambah takut.
Ibu dan Fahmi mengikuti saya sampai ruang operasi, tapi terus diusir sama susternya. Jadi sedih. Padahal, saya butuh mereka buat menemani saya.
Saya tahu, operasi yang akan saya jalani sebentar lagi tidak membuat saya pingsan, karena biusnya bius lokal.
05.30
Ruang operasi itu kecil, banyak alat gede2. Pantesan aja, suami ga boleh ikutan nunggu di dalam ruang operasi. Tanpa ada dia aja, ruang operasi udah penuh.
Saya dipindah ke meja operasi yang emang cukup buat badan saya. Dua tangan saya diletakkan di alas dan dijepit. Kalo ga salah, dua-duanya buat alat pacu jantung deh.
Bidan Rondang sudah di dalam menyambut saya. Dia lalu membereskan alat2 operasi. berhubung kacamata ga saya pake, jadi ga kelihatan benda2 itu. Tapi pastinya ada gunting, pisau, dll, deh.
Saya juga mendengar ada seorang dokter cowok masuk. Ha? Dokter cowok???
"Pagi, Bu... Sudah siap?"
"Takuuuuuuutttt, dok...," sahut saya.
"Tenang aja, Bu, banyak berdoa aja."
Ga lama, ada suster endut yang kemudian diperkenalkan pada saya bernama suster Ririn masuk.
"Bu, nanti di punggung akan dimasukkin jarum sebesar rambut, ya..."
"Sakit, ga?"
"Ah, sakit sedikiiiiittt...."
Sebetulnya saya sudah pasrah dengan semua rasa sakit. Dari semalam sudah berapa jarum yang menyakiti tubuh saya. Apalagi saat itu, jarum infusan lumayan bikin tangan kemeng (linu).
Gak lama...
"Bu, ayo duduk... kakinya bersila, ya, Bu..."
Saya bangkit untuk duduk bersila di meja operasi.
"Bungkuk, Bu..."
Saya nggak ngerti harus membungkuk sebungkuk apa, tapi terus dikasih bantal.
"Peluk bantal ini aja, Bu..."
"sini, Bu, saya peluk, deh...." tiba2 suster Ririn yang endut itu memeluk saya.
Tepat saat dia memeluk saya, saya merasa punggung saya seperti digigit semut. Celekit-celekit.
"Tahan, ya, sayang, yaaa... sakit sedikit, kaaannn???" tanya suster Ririn.
Gak lama kemudian, saya merasa kaki saya kesemutan...
"Dokter, kaki saya kok kesemutan?" tanya saya.
"Gapapa, Bu, itu biusnya udah mulai bekerja. Ibu akan merasakan seperti itu sampai 3-4 jam mendatang..."
What?! Kesemutan 4 jam????
Lalu saya dibaringkan lagi. Kain penutup tubuh saya di bagian depan dibuka. Lampu operasi begitu dekat sekali dengan saya.
Andai mata saya tidak rabun, saya pasti bisa lihat jelas badan saya yang polos itu lewat lampu operasi.
Oh, My God....., tujuan saya cari dokter kandungan cewek kan biar ga dilihat lelaki... ternyata, ujung2nya pas melahirkan malah ada dokter cowoknya juga....
Melihat saya menatap lampu operasi, sebuah tiang yang ada di samping meja operasi ditarik ke depan saya, lalu kain penutup badan saya digantung di situ.
Jadi, saya betul2 tidak bisa melihat proses operasi itu.
06.00
Saya mendengar suara dokter tina berkata,"jadi kita operasi, ya, bu.."
"Oh, dokter tina dah dateng, ya?" timpal saya.
"Nih, saya setor muka dulu, deh" saya melihat sosok dokter tina dengan pakaian operasi.
Ga lama, saya mendengar mereka ngobrol gitu deh.
Dokter Tatat di sebelah kepala kiri kepala saya berkata bahwa operasi sudah dimulai.
"Masih takut, Bu? Berdoa aja... dzikir atuh... eh, ibu muslim, kan?"
kok dia nanya begitu? udah jelas2 saya...
masya Allah... saya kan lagi dioperasi, pastinya ga tertutup apa2 atuh
jadi ga ketauan saya muslimah atau nggak... hiks.....
Dia menyentuh tangan saya yang sedang diinfus.
"Dok, itu linu, euy..."
"Kalo linu sekarang linu terus, lho..." terus dia menggoyang2 bagian tangan saya yang diinfus itu sehingga rasanya sangaat linu.
Tapi ga lama kemudian, rasa linu itu hilang. Jadi ga berasa apa2 malah... hehehehe....
selama operasi, suster ririn itu dikerjain ama dokter2 itu, deh... jadinya, selama operasi saya ketawa ketiwi...
06.18
saya mendengar suara tangis bayi di ruang itu. subhanallaah... is it my baby???
"bu, bayinya udah lahir...", suara dokter tatat memecah rasa takjub saya.
"iya, dok, saya udah denger..."
"Pake kalung lagi..." lanjutnya.
"Wah, bu, gagah niiiih," suara dokter tina membuat saya makin terharu...
air mata saya mengalir. bibir saya tak henti2nya mengucap hamdalah....
mulai detik ini, saya sudah jadi ibu......
bayi saya sudah bersih, diantarkan ke saya untuk saya cium. saya ga bisa lihat jelas wajahnya...
tapi saya merasakan banget hangat badannya....
06.30
saya didorong keluar dari ruang operasi dan dibawa kembali ke ruang pulih sadar. saya melihat wajah2 orang tersayang.
fahmi, ibu, bapak, emak juga dini (keponakan). ibu memeluk saya dan menciumi saya.
"selamat, ya, mbak... sekarang udah jadi ibu...."
berhubung saya udah disuntik tidur, saya jadi cuma mesem2 aja....
ga bisa ngerespon. apalagi semalem tidurnya ga bener. jadi saya teleeeerrrr banget....
di ruang pulih sadar, saya dibersihin, digantiin baju dan dipakein kerudung. lalu saya dibawa ke ruang rawat inap.
10.00
waktu saya dibawa ke ruang rawat, yang ngantar saya banyak. ada bu atin dan ade dilla, tetangga baik kami.
tapi, saya sedih banget, ternyata, ketika saya sudah di ruangan, semua yang ngantar saya diusir satpam. katanya karena sekarang lagi jam menyusui.
berhubung hari itu hari jumat, bapak akhirnya pulang duluan.
11.30
ibu masuk ke ruangan saya dan bilang kalo semuanya udah pulang, kecuali ibu dan emak. fahmi akan balik lagi setelah shalat jumat.
saya merasa lapaaaarrrrr sekali. kebetulan di meja sudah terhidang bubur sumsum. untuk pertama kalinya lagi, saya makan disuapin ibu.
terakhir disuapin ibu kapan, ya? lupa!
14.00
seorang office girl membangunkan saya dan menyodorkan tart black forest mini.
"Selamat hari ibu...," katanya...
hehehe, biasanya saya yang ngucapin ke ibu, sekarang saya yang dapet ucapan ini...
makasih banget, ya Allah...
temen2 mulai curi2 nengok dari jam 15.00
temen2 kantor fahmi, temen2ku di pas, rekanan kantor fahmi... banyak deh...
18.00
bayi2 dianterin ke kamar untuk disusuin... but where's my baby? kok dia ga dianterin ke saya?
bersambung ke bagian 3
maksudnya biar ga kepanjangan bacanyah... hehehehe
Maap, sodara-sodara...
pastinya ini telat banget ceritanya...
ini cerita waktu saya melahirkan 3 bulan lalu
tapi, saya emang baru sempet cerita sekarang.....
jadi bingung, mulainya dari mana... hehehe....
gini aja, deh, mulai dari...
2 desember 2006
kehamilan minggu ke-35
udah mulai rutin senam hamil, periksa kehamilan juga udah mulai seminggu sekali
nah, karena udah mau 9 bulan, dokter melakukan pemeriksaan dalam
pemeriksaan dalam berguna untuk mengetahui ruang panggul juga buat mengetahui apa kepala bayi sudah masuk ke rongga panggul atau belum
hasilnya: kepala bayi belum masuk ke rongga panggul. tapi dokter bilang, masih ada waktu sampai 3 minggu lagi
9 desember 2006
kehamilan minggu ke-36
nanya sama instruktur senam hamil gimana caranya biar bayi cepet2 masuk ke panggul. katanya, banyakin ngepel sambil jongkok dan jalan mundur. kalo posisi bayi sungsang, rajin2 sujud dengan dada menempel di lantai kepala menghadap kiri/kanan, trus tangan ditaruh di pinggang belakang selama 10-15 menit, 4-5 kali sehari.
sorenya periksa kehamilan lagi, waktu usg, kepala bayi malah nyungsep di samping rongga panggul. itulah pertama kalinya saya melihat sosok bayi utuh yang sudah sempurna di dalam perut saya. subhanallaah.
16 desember 2006
kehamilan minggu ke-37
udah usaha sujud dengan dada nempel di lantai, mulai banyak jalan mengitari hutan taman cilaki tiap pagi, mulai sering ngepel sambil jalan jongkok tiap pagi (meski akhirnya sering direbut sama mister kakang...)
waktu periksa kehamilan lagi, sekali lagi periksa dalam... ternyata.. bayi belum juga masuk ke panggul. waktu diperiksa via usg, ketubannya sudah mulai kotor... so???
dokter bilang, "dikeluarin aja, ya... sok, mau kapan?"
sementara saya masih sibuk dengan pikiran saya sendiri: saya pengen melahirkan secara alami (spontan), pengen tahu rasanya mules2 (biar ada cerita...), biaya caesar pastinya muahal, dan lain lain dan lain lain; fahmi dan bu dokter sibuk diskusiin, nentuin kapan mau caesar. akhirnya mereka berdua deal di satu tanggal: 22 desember 2006.
pertimbangannya, tanggal 18-20, fahmi harus ikut raker besar dari kantornya, saya pun terpaksa ambil cuti tahunan karena udah pasti fahmi ga bisa diganggu gugat kalo saya kenapa-kenapa.
keluar dari ruang dokter, saya dan kakang bawa surat dari dokter menuju ruang operasi buat registrasi tempat operasi. 22 desember 2006, jam 06.00.
21 desember 2006
kehamilan minggu ke-38
masuk kantor setengah hari, siang saya dijemput kakang. kebetulan ibu mertua juga datang siang itu. sore, saya dan kakang ke rs buat kontrol kehamilan yang terakhir kalinya. saya kan pernah memohon untuk dicek sekali lagi kemungkinan adanya persalinan normal.
nah, sore itu diperiksa lagi...
"dok, saya stres!"
"kenapa? ibu kena 4s, ya?"
"4s apaan, dok?"
"sindroma sebelum sectio sesar"
"dokter bisa aja... saya takut, niiihhh..."
"kan saya udah bilang, ibu ga usah takut. pasrah aja dan banyak dzikir sama Allah. lagian, operasinya ga lama dan ga sakit, kok."
halah, si dokter. ya iyalah ga sakit, wong dibius... cape deehhhh.....
pas diperiksa, dokternya nanya, "bu, mules, ga? ini udah kontraksi, lho!"
"ha?? masa, seh? ga terasa mules apa2 tuh..."
"masa, bu? ini kontraksi...., keras begini.."
lalu dilakukan pemeriksaan dalam
ya, hasilnya tetep...
meski udah kontraksi, si bayi tetep masih jauh dari rongga panggul
"kita jadi operasi, ya, bu, besok?!"
ya mau gimana lagi, wong udah ada kontraksi tapi bayi ga masuk panggul... pasrah saja
itu artinya malam itu, jam sembilan, saya sudah harus masuk ke rs hermina buat persiapan menjelang sectio....
ceritanya dilanjutin ntar lagi, yaa.....
15 Maret 2006 - 05.00 am
Rumah kami
Bel rumah bunyi, ibu yang keluar.
"Ica!! Ada tamuu!!" suara ibu manggil Ica yang masih berkelana di alam mimpi.
"Mbak, ini pesenannya. Mac Burger, mac fries, bla..bla..bla.. Semuanya jadi enam puluh ribu rupiah..."
"Saya ga pesen, Mas.."
"Ga mungkin, Mbak. Mbak sendiri yang telpon. Nama mbak Ferinisa Rahmawati, kan? Sekolah di SMA 15 Bandung kelas 1, kan? Ini alamat rumahnya, kan? Sarijadi blok 25 nomer 95..(pake nyebut nomer telpon rumah segala lagi)"
"Iya, semuanya bener, kecuali saya nelpon ke MacD. Kapan saya nelponnya?"
"Yang jelas sebelum saya nganterin pesanan ini ke sini, Mbak..."
Ica mulai kesel, secara dia baru bangun tidur gitu loh... Nada ngomongnya mulai rada nyolot...
"Mas, gini, ya... saya ga pernah telpon ke Mac D, nomer telponnya aja saya ga tau. Lagian, saya baru bangun, tuh! Mana mungkin nelpon ke sana pake pesen makanan segala!"
"Tapi ini struk pesanannya jelas banget, Mbak. Mbak ga boleh menghindar gitu, dong..."
"Saya ga mau tau, ah! Saya ga mau bayar. Pertama saya ga punya uang, kedua saya ga ngerasa nelpon apalagi nelpon Mac D buat pesan makanan."
"Aduh, Mbak... ga bisa gitu dong... plis... masa saya yang harus nombokin....gaji saya ga seberapa nih, mbak..."
"Ga tau, ah!"
"Plis, Mbak..."
"Nggak!! Saya bilang nggak!"
"Mbak..."
"NGGAK!! DAN SAYA GA MAU TAUUU!!!"
tiba2 terdengar suara cekikikan dari balik pagar...
ternyata itulah bu Atin dan anak2nya. Mereka ngerjain Ica di hari ultahnya....
Bu Atin tetangga yang rumahnya ga terlalu deket sama rumah kami, tapi hubungan kami cukup deket banget. Bu Atin dan keluarganya memang termasuk orang2 iseng yang senang mengerjai orang
13 Maret 2007 (setahun kurang dua hari, kemudian) 05.00 am
Rumah Bu Atin
Ting Tong....
Pak Ernadi : Bu, ada tamu
Bu Atin : sama ayah aja, ibu keur sibuk
Pak Ernadi : da maunya ke ibu aja
Bu Atin : siapa, sih, subuh2 gini... bikin riweuh aja!!
(cepet2 pake kerudung dan sweater, lalu jalan keluar)
Teh Ito : Ini pesenan kue tartnya
Bu Atin : Kapan saya pesennya?
Teh Ito : Kemarin
Bu Atin : Nggak, ah! Saya mah ga ngerasa pesen!
Teh Ito : Ga mau tau, ah! Da kemarin mah telponnya dari sini. Katanya ulang tahun!
Bu Atin : Oh! Ini pasti kerjaan Bu Edi...
muncullah si Bu Edi dan Ica dari balik pagar...
hahaha, mau bales ngerjain udah ketauan duluan.....
usai Bu Edi dan Ica memberi ciuman ulang tahun lalu pulang, bu Atin balik lagi, melepas kerudung dan sweaternya. Back to wash the dishes yang masih tumpuk undung.
Pak Ernadi : Bu, tolong bukain bagasi, ah
Bu Atin : @#$%! Ayah ga lihat, ibu lagi apa?
Pak Ernadi : Plis lah, Bu. Bukain bagasi sekarang. Sekali aja! Pliiiissss...
Bu Atin : grrr!!! @#$%! Astaghfirullaahaladzhiim!!
Bu Atin balik lagi pake kerudung dan sweater, keluar buat buka bagasi.
TRENG TENG TENG....
di dalam bagasi ada kado dan kartu dengan tulisan
"SELAMAT ULANG TAHUN IBU...."
Dalam hati, bu Atin beristighfar lagi, soalnya dia tadi udah menggerutu ke suaminya.
15.00
Post Aura
Bu Bimo : Tin, anterin gue ke salon, yah!
Bu Atin : Hmmm
Bu Bimo : Ayolah! Sesekali... Lagian si ade kan masih 2 jam lagi keluarnya
Bu Atin : Iya, deh!
15.30
London Beauty Centre - Setra sari Mall
Seseorang : Bu, mau ditreatment gratis, ga?
Bu Atin : Treatment apaan?
Seseorang : Ya, creambath dan pijat juga manicure dan pedicure
Bu Atin : Gratis?
Seseorang : Iya, gratis. Gini, Bu, saya masih baru di sini, lagi training. Nah, saya sekarang
disuruh praktek. Berhubung Ibu kelihatannya nganggur, gimana kalo saya
praktek ke Ibu? Ga akan ada efek samping, kok...
Bu Atin : Ga mau, ah
Seseorang : Tolong lah, bu... Saya perlu banget praktek. Hidup dan mati saya bergantung
pada praktek ini, Bu...
Bu Atin : Berapa lama? Saya harus jemput anak saya satu jam lagi
Seseorang : Hanya 3/4 jam aja, kok, Bu. Gak lama, kan
Bu Atin : Hmmm... ya udah deh. Boleh...
16.00
Bu Bimo : Tin, saya harus pergi, nih! Ada rapat penting!
Bu Atin : Trus, kok, saya ditinggal?
Bu Bimo : Kan kamu lagi ditreatment gratis. Tenang aja, ga usah bayar ini
Bu Atin : Euh, atuh! Ya udah, ntar malem ke rumah, ya!
Bu Bimo : Siap, lah... Ditinggal dulu, yah!
Bu Atin : Iya!
16.15
Seseorang : Selesai... makasih, ya, Bu....
Bu Atin : Iya
Pramuniaga : Bu, ini kuitansinya. Kebetulan lagi ada diskon, jadi ibu cuma perlu bayar 200
ribu saja
Bu Atin : Kuitansi apaan?
Pramuniaga : Lho, Ibu kan tadi udah ditreatment ama kita
Bu Atin : Katanya gratis?! Gimana, sih?
Pramuniaga : Mana ada yang gratisan, Bu?
Bu Atin : Grrrr!! Tadi beneran, katanya gratis... Mana tadi yang bilang gratis ke saya?
Pramuniaga : Maaf, Bu, Ibu selesaikan aja, ya, di kasir
Bu Atin : Argh!
Kasir : Sudah dengan diskon, semuanya jadi 230 ribu rupiah
Bu Atin : Nih! (Bu Atin ngasiin duitnya sambil jengkel)
Kasir : (nerima duitnya sambil meriksa dan scan duitnya) Eh, Bu...
Bu Atin : Kenapa lagi?!
Kasir : Ibu dapet uangnya dari mana, ya?
Bu Atin : Apa urusanmu, sih? Ya saya dapet uang dari suami. Emangnya kenapa?
Kasir : Ngg... betul, Bu, dari suami?
Bu Atin : Iya! Emangnya kenapa?!
Kasir : Ini uang palsu, Bu...
Bu Atin : Palsu gimana? Ya itu dari bank! Mana mungkin uang dari bank bisa palsu
Kasir : Ibu yang konsisten, dong. Katanya dari suami, kok berubah jadi dari bank?
Yang betul ini uang dari suami atau dari bank?
Bu Atin : Dari yang bayar kontrakan!!!
Kasir : Lebih ga konsisten lagi, gimana, sih?
Bu Atin : Mana saya tahu itu uang palsu atau nggak?!
Satpam : Kalo gitu Ibu ikut kami aja, ya, ke ruang khusus. Ga enak dilihat orang banyak
Bu Atin : Tapi, saya ga malsuin uang, Pak!
Satpam : Iya, kami mengerti. Maka dari itu, supaya masalahnya cepat selesai, ibu ikut
kami aja, ya
Bu Atin : Hhhhhhh!
Bu Atin diapit dua satpam menuju sebuah ruangan tertutup yang letaknya tidak jauh dari situ. Ketika pintu ruangan tersebut dibuka, menggelegarlah tawa dari dalam ruangan. Ternyata, teman2 bu Atin sudah ada di dalam situ. Dan skenario tadi memang untuk mengerjainya di hari ulang tahunnya... Hehehe... Selamat Ulang Tahun, Bu Atin....
Assalaamu'alaikum...
maap, baru online sekarang
cuma pengen bilang
ma kasih buat dukungan dan doa dari semuanya
alhamdulillah, baby saya sudah lahir
22 desember 2006, 06.18, di RS Hermina Pasteur Bandung
melalui sectio caesar dengan bantuan dr. tina dewi judistiani. spog, dr. setyorini.spog, dr, tatat.span, dr.dewi hawani.spa
plus bidan rondang, suster benti dan suster ririn
ntar deh kalo ada waktu banyak saya cerita banyak tentang proses operasinya
yang pasti, kenapa sampai caesar, ternyata bayiku terbelit tali pusar dan tali pusarnya pendek
akibatnya, dia harus dirawat di perinatal selama 5 hari, untuk mengeluarkan cairan di paru2 dan di lambungnya
dia harus diinfus pula 
oya, anakku laki2, berat lahir 2.655 gram, panjang 46 cm
diberi nama SHIDIQ ILMAN FAIZ, panggil dia ILMAN....
oke, deh, segitu dulu aja, ya beritanya
ntar disambung lagi insya Allah
pokoke makasiiiiih banget buat doa semuanya
Udah seminggu Choki ga ada bersama kami lagi... huhuhuhuhu tapi aku masih kangen.... rasanya berat banget kehilangan dia.... semua sudut di rumah reminds me of it... huhuhuhu... aku kangen teriakannya aku kangen gigitannya aku kangen sambarannya huuhuhuhuhuhu Choki....
maafin aku kalo aku ga sempet bikin kamu seneng waktu kamu hidup, yaaa....
itu piring buat kamu yang baru belum sempet kamu pake... kamu udah dipanggilNYA
huhuhuhuhuhuhuhu.....
Maaf kalo sadis judulnya....
Habis, apa, dong, namanya???
Ceritanya gini....
saya biasa komunikasi dengan kakang, ga cuma di rumah aja, tapi juga di kantor, meski kami tidak sekantor.
Buat apa ada fasilitas Y!M, kalo ga dipake, ya, kan?
tapi, kalo koneksi internet lagi me'o alias error, ya, kami tetep sms-an...
hehehe, kayak ga ada waktu lain aja, yaaa....
tapi, bener, deh!
obrolan di sela2 kerja lebih banyak ketimbang kalo udah di rumah...
mungkin, ini disebabkan saya dan kakang sudah terlalu terbiasa berkomunikasi via tulisan ketimbang ngobrol langsung...
sebelum menikah, kami punya bukom (buku komunikasi) bersama, jadi apapun bisa kami tulis di situ.. apa aja, semua yang pengen kami tumpahin, tinggal tulis di situ. Gantian pake bukunya. Dan itu komunikasi terefektif di antara kami berdua... hehehe.... 
Lebih efektif ketimbang ngobrol... hihi.. soalnya, kalo ngobrol, saya cenderung lebih dominan... (ya iyalah, secara saya itu cerewet akut sementara kakang orangnya lumayan pendiam meski kadang seneng komentar juga, siiih!!)
nah, kenapa saya ngambil topik "dumb"??
kalo kakang minta tolong sama saya buat dicariin brosur atau apalah via internet, saya akan donlot dan kirim ke alamat email kakang. Kenapa ga kakang aja yang cari? kebetulan, koneksi internet di kantornya cuma buat Y!M aja dan baca berita, jadi kalo browsing agak2 susah dan seringnya tidak membuahkan hasil. Lha, sementara saya kan lebih sering browsing di sini buat cari referensi kerjaan saya, jadi ya, bisa sekalian aja, gitu, daripada dia buang waktu untuk sesuatu yang ga jelas hasilnya pada akhirnya.
Selama ini, mail2 yang saya kirim ke alamat email kakang selalu nyampe dengan selamat.
Tapi, giliran kakang yang kirim mail ke alamat saya, kok, ga pernah sampai??
Pernah, suatu waktu, saya butuh banget file dari kakang, asli ditunggu2 ga sampe2. Sampai bete banget dan akhirnya nunggu besok harinya, karena file nya akhirnya dicopy di flash disk. Duh! Sungguh tidak praktis!!! Dan anehnya lagi, di milis alumni PAS yang saya moderatori, setiap kakang posting, ga pernah keterima oleh saya, tapi kalo cek di yahoogroups ada tuh, mail dari kakang! Dan dari reply temen2 yang menyertakan postingan kakang, mail kakang itu ada di mail mereka.
Apa yang salah dengan yahoo mailku???????
Sebulan, dua bulan... saya merasa semakin sebal sama yahoo mail saya.
There must be something wrong...
Sampai kemarin, saya minta kakang berulang2 mengirim file di yahoo mail saya, sama aja hasilnya. Ga ada!!
Saya sampai kesal sendiri...
Akhirnya, saya coba utak atik menu Filter di yahoo mail saya...
Mungkin, emang udah saatnya saya tahu kenapa bisa begitu, bukannya saya klik menu Filter, mouse saya malah mengklik tab Block Addresses..
You know what????
Di situ ada sebuah alamat email yang tentu saja sangat saya kenal. Terpampang dengan manis. Alamat email siapa? Dapet nilai seribu, yang bisa jawab bahwa itu alamat email kakang...
Jadi?? Selama ini, alamat kakang ter-block????? 
Kapan saya pernah ngeblock alamat kakang??? Apa saya secara tidak sadar gitu, melakukan itu???
Huhuhuhu... rasanya pengen nangis tapi ketawa juga akhirnya... betapa bodoh dan tololnya saya....
diinget2 lagi, mungkin, nih... mungkin....
waktu saya bermaksud mem"filter" mail2 dari kakang supaya masuk ke foldernya sendiri, saya malah mengklik block!!
Jadi, apa dong, namanya kalo bukan DUMB???
huuhuhuhuhuhuhu......
Tadinya saya ga tau apa itu "berserk"
setelah baca jurnalnya Maria di sini, saya jadi tahu, dan saya sekarang sedang merasakannya.
Okay, well...
kenapa justru datang di saat saya seharusnya rileks, santai dan hepi menjelang melahirkan??
kenapa saya malah kepingin berserk???
what?
getting berserk
why?
mungkin karena saya semakin muak sama si kehed "the-cari-muka" missy (cari-muka is her middle name, kata tem2) atau karena saya kehilangan Choki? atau karena justru saya merasa courious, takut juga, seneng juga dengan waktu melahirkan yang semakin dekat??? dunno! *sigh*
who?
akuuuu!!!!!!!!!!!! sayaaaaa!!!! saya getting berserk!!!!
when?
sekarang banget, dari semalem, sih...
where?
di sini, juga di rumah (sebetulnya kalo di rumah jelas aneh banget...)
how?
rasanya pengen nakol itu si kehed atau pengen teriak sekeras-kerasnya...
duuuhhh.....
grrrr...
mungkin, saya baru tenang kalo si kehed tidak lagi berulah.....
sepertinya emang si kehed itulah yang bikin saya getting berserk...
sepertinya iya...
hiks....
*menyesali diri, kenapa menghabiskan waktu buat sebel sama orang itu, sigh lagi...*