Friday, February 20, 2009

kalo ilman kangen bunda

*nulis ini sambil berderai air mata... haha, sungguh lebay... tapi ini dilema emak-emak kerja di luar rumah...*

suatu sore, bunda mau ganti pakaian, dari baju kerja ke piyama
tapi, bunda ga bisa nemu celana piyama bunda
aneh...
soalnya, kemeja piyamanya ada dan masih tergantung dengan manisnya di hanger...
so? ke mana celana piyama bunda?

tiba-tiba eyang putri nyodorin celana piyama bunda
"bunda.. ini celananya.. pasti nyariin yaa..."
bunda tanya sama eyang,"lho, kok, bisa ada di eyang?"
eyang jawab,"iya, tadi dibawa sama ilman keliling rumah, dipelukin sambil diciumin... kadang-kadang diisep juga.."

bunda meraba bagian pinggang celana piyama
oke, basah... kena isapan ilman...

ilman, kalo udah gini, bunda suka sedih banget, nak..
ninggalin ilman buat pergi kerja...

tapi, kalo ilman tau...
bunda bukan sengaja menelantarkan ilman, lho!
bunda bikin sesuatu yang bisa dipakai sama anak-anak Indonesia, ga hanya Ilman..
Ilman ikhlas, kan, bunda pergi kerja?

love you, Nak...
Bunda

diposting juga di Facebook, tanpa mentag siapapun... hihi...

Friday, January 30, 2009

When Jombloness Became your Nightmare

naoooonnn deuiiii ieu teeeehhh....

tadinya, tulisan ini ditujukan buat salah seorang temen saya yang jadi "gila" ketika teman-temannya satu persatu berkeluarga. Apalagi, teman-temannya yang sudah masuk ke jenjang pernikahan - termasuk saya - adalah teman-teman yang menurutnya... mmm... nothing. Ga lebih cantik dari dia, ga lebih sukses dari dia, ga lebih smart dari dia, dsb.

Sampai suatu ketika, dia ngemeng gini sama temen saya yang lain,"Lu tuh ga cantik, tapi lu LAKU kawin. Padahal lu ga pinter. Apa gue harus jadi CEWEK BODOH buat bisa dapet suami?
Yah, gw tau, cowok-cowok akan minder dengan kelebihan gw. Gw cantik, gw sukses di karir... bla..bla..bla..."
Haha, dia ini beruntung banget ga ngemeng kek gitu sama saya. Karena kalo iya... bakalan abis saya kuliti! Hahaha...

Saya heran, sudah begitu yang dialaminya, masih aja sombong dan nggak ngaca diri. Oke, mungkin ini buat penghibur dirinya sendiri, tapi kan ga perlu sampe ngatain orang lain BODOH?

Menurut saya, masih banyak kok, cewek lajang tapi happy dan ga terbebani dengan statusnya. Ya, kan?

Kenapa? Being happy to be single or married is depended on how we set our mind. Ada, kok, temen saya yang masih menjalani masa honey moon, kerjanya berantem terus dan ujung2nya niat pisah.

Sebenernya gini, jodoh itu sudah ada yang mengatur. Biarkan DIA yang bekerja menentukan jodoh kita. Kita sih usaha aja. Usaha apa? Ya usaha macem-macem lah.

  • Mulai dari memperluas jaringan, membina hubungan baik dengan teman-teman... siapa tau, ada yang tergerak untuk mengenalkanmu pada temannya gitu. Yang ini sudah kejadian pada salah seorang temen saya yang baru saja menikah seminggu kemaren.
  • Jangan cuek sama diri sendiri. Maksudnya, kalo ada cowok yang berusaha mengenal dirimu lebih jauh, jangan langsung tutup diri, walaupun kamu ga suka. Bisa aja, ada celah bagus. Siapa tau, jodohmu tuh temennya. Hehe.
  • Jangan suka gengsi kalo mau dikenalin sama siapa gitu oleh temen kita. Pastikan itu temen baik kita yang ga punya maksud ada udang di balik batu.
  • Banyak berdoa itu penting.
  • Dan be happy aja, jalani hidup ini tanpa keluh kesah tentang jombloness. Semakin mengeluh, semakin negatif diri kita dalam finding someone. Beneran loh, yang ini kejadian di saya.
Awal-awal saya broke up, saya ngeluh terus sama temen deket saya, sampe dia ngebentak saya. Capek kayaknya dengerin saya curhat melulu dan itu-itu aja. Akibatnya I was in negative. Akhirnya, saya berusaha lempeng dan langsung buka hati sama seorang partner di tempat saya beraktivitas - papa ilman -yang ternyata jodoh saya, walaupun beberapa tahun kemudian sempet ada kejadian perusak hati. But it's over now. It was only a fling. Saya boleh bilang: SAYA SUDAH SEMBUH!

  • Trus, gething nyanding, moyok andhok! Camkan itu! Jangan pernah membenci sesuatu karena kamu bisa menyukainya suatu saat atau hal itu akan nempel terus! Ini kejadian banget di temen saya yang laen, yang ternyata suaminya adalah someone yang dulu ditolak mentah-mentah, about 10 years ago!
Nggak ada yang salah sama jombloness, you can still keep be happy. Saya juga menikah udah ga muda lagi, kok! Hehe. Sudah hampir kepala 3, walau masih di kepala 2. Karena ya itu, saya berusaha buat tetep yakin dan optimis, segala sesuatunya ada yang mengatur. Dan tentu saja, untaian doa yang selalu saya ucapkan di setiap shalat saya.

  • No body's perfect. Jangan pernah mengharapkan kesempurnaan pada diri seseorang, seperti Fahri di cerita Ayat-ayat Cinta (oke, saya pernah baca, trus berpikir aneh, ada ya, cowok sesempurna itu?).
Kalo kebetulan lagi deket sama cowok pemarah, tapi di sisi lain dia punya banyak kebaikan, terimalah. Itu bisa jadi ladang amalmu kelak.
  • Do something happy! Misalnya, sering-sering ngumpul sama temen-temen lama, banyak perhatiin keluarga terutama orangtua, sesekali perhatiin anak temen, misalnya beliin CD Akal, gitu... hehe... (promosi tetep)
  • Plus, jangan pernah banding-bandingin dirimu sama orang lain yang menurutmu jauh lebih beruntung karena laku kawin. Buang pikiran seperti itu, karena hanya akan membuatmu jadi makin sombong dan bikin sengsara temenmu. Kamu akan tambah banyak disumpahi yang nggak-nggak, bahkan sampai ada yang berniat mengulitimu. Hahahaha...

So jombloness is not the end of the world, pasti kelak kamu akan ketemu the right man in the right time. Tetep yakin, bahwa apa yang sekarang dianugrahi ke kamu kudu disyukuri dan pasti Allah bakalan memberimu yang lebih banyak lagi.
  • Oya, satu hal lagi. Ketika kamu minta dicomblangin sama seseorang, pastikan kamu TIDAK meneror comblangmu dengan hal-hal stupid karena kamu ga sabaran pengen cepet dapet hasilnya! Seperti menuduh mak comblangmu yang memang beneran hectic sama gaweannya dengan tuduhan kamuflase untuk menghindarinya. It's really ANNOYING!

Stop mengeluh dan menghibur diri, mari kita berkarya! Halah!

Tuesday, January 13, 2009

aku kehilangan....

Aku kehilangan bolpen kesayanganku pagi ini
aku melihatnya jatuh di jalan
tak berdaya mengambilnya
karena motor melaju dengan kencang

siapa yang akan jadi majikan barunya?
atau dia akan terlindas oleh kendaraan lain lalu hancur?
ah, kalo dia terlindas, hatiku terlindas juga
huhuhu, aku sedih sekali kehilangannya..
aku bahkan belum memberinya nama dan mengabadikannya dalam salah satu karya scrapbookku, karena aku ga punya fotonya... hiks

jangan suruh aku beli lagi
karena aku ga beli bolpen itu
aku dapet dari goodie bag waktu ikut seminar sama Hermina
dan mungkin kalo aku ikut seminar sejenis, belum tentu bolpen sejenis ikut ada di dalamnya...

ah... aku sedih karena kehilangannya
dia tak akan pernah tergantikan
sekarang aku ga punya bolpen secantik bolpen itu...
sedih... sedih...
aku menangis pagi ini, karena aku harus kehilangan bolpen kesayanganku...

note: gambar ngembat dari sini

Monday, January 12, 2009

a song for mama

sori... subuh-subuh dah ngajak melow...
i remember my both mama everyday, just can't wait to see my first mama...
I keep them in my prayer, always...

Then I found this song on my play list, can wait to cry anymore..
I really miss you, Mom.
Semoga Allah selalu menjaga ibu, menerangi dan melapangkan kuburmu
Semoga Allah selalu menempatkanmu di tempat terbaik di sisiNYA...
Semoga Allah memberimu pandangan dan jarak dekat dengan surga..




and for
my second Mama..

thanks for everything that you've given to me
for your love, your smile, your hug
nothing can stop your love to me

this song is perfect for you, moms

A Song for Mama, by Boyz II Men

You taught me everything
And everything you've given me
I'll always keep it inside
You're the driving force in my life
There isn't anything
Or anyone that I can be
And it just wouldn't feel right
If I didn't have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were gray
Whenever I was down
You were always there
To comfort me
And no one else can be
What you have been to me
You'll always be
You will always be the girl
In my life for all times

Mama
Mama you know I love you
Mama
Mama you're the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars
Mama I just want you to know
Lovin' you is like food to my soul

You're always there for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
And you took up for me
When everyone was downin' me
You always did understand
You gave me strength to go on
There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me
And say,
I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You'll always be
You will always be
The girl in my life

Never gonna go a day without you
Fill's me up just thinking about you
I'll never go a day
Without my mama

Tuesday, January 06, 2009

to my darling hubby

Tadinya, tulisan ini mau dilombakan di sini..
tapi, bunda ga mampu menyelesaikan tulisan ini sampe akhirnya bunda menemukan pemenangnya di sini. hehe
bukan rezeki bunda ikutan lomba itu, ya, pa..

masalahnya, ini surat cinta apa bukan?
whatever, dah! tapi bunda tetep akan selesaikan tulisan ini...
right after bunda selesaikan scrapbook papa dengan judul "My Dear Hubby"...

papa, bunda teh suka sirik sama mereka yang suka romantis sama istrinya sementara papa teh lempeng abis... hahaha..

seperti ketika pertama kalinya bunda kasih surprise buat papa, bunda kira papa bakalan gimanaaa gitu


eh, ternyata, apa yang bunda harapkan sama kenyataannya meleset jauh... haha..
papa beruntung banget, walau bunda misuh-misuh, tapi apa yang bunda curhatin itu malah bikin orang lain ketawa.. mudah-mudahan, itu cukup menghibur teman-teman bunda yang baca tulisan bunda, ya, pa... kan ketawa itu bagian dari trik memperpanjang usia.. halah!
dengan ketawa, orang akan bebas stres...
tenang, papa, papa tidak menikah dengan anggota grup lawak manapun, kok!

papa, bunda teh suka kepingin kasih sesuatu yang spesial ke papa, seperti istri orang suka riweuh mikirin kado buat suami mereka, kalo misalnya, hari ultah pernikahan, atau ultah suaminya. cuma ya itu, nyebelinnya bunda teh, bunda suka kepingin reaksi papa atas kejutan dari bunda sesuai harapan bunda
sampe si insan ngatain bunda gini, "beuh! kamu teh pengen ngasih kejutan atau pengen reaksi?"

hahaha, dipikir-pikir bener juga... bunda kok merasa jadi sutradara atas surprise bunda sendiri, ya? ah, papa emang bukan aktor andalan bunda!


walau begitu, bunda terharu waktu papa bilang,
"hadiah terbesar dari bunda buat papa adalah hadirnya bunda buat papa. Papa sangat berterima kasih waktu bunda melahirkan Ilman. Kalo papa yang melahirkan, mungkin papa nggak sanggup. *euh, si papa, di mana-mana juga yang melahirkan mah perempuan, ateuh! Kalo papa bisa melahirkan, bunda ga bakalan nikah sama papa* Bunda kuat, walau sakit bekas operasi bunda, bunda masih bisa pergi naik angkot, demi nemenin Ilman di RS. Papa sangat berterima kasih sama bunda..."

aih, bunda sangat bersyukur punya suami gado-gado kayak papa. hidup bunda sama sekali ga monoton. hidup bunda lebih berarti sejak kehadiran papa di hidup bunda. dan yang terpenting, bunda salut sama keberanian papa saat papa lamar bunda, padahal waktu itu, kita baru modal dengkul, ya... haha

sejak ada papa, bunda mengerti, sesuatu yang datang dari hati, nyampenya ke hati juga.

sejak papa hadir di hidup bunda, bunda jadi tahu arti ketulusan, komitmen, juga keikhlasan. nasihat-nasihat papa ke bunda, sering bunda forward ke temen-temen bunda, kalo mereka mengalami hal yang sama dengan bunda.

memang, hidup ga sepenuhnya mulus
pasti kita sering kesandung dan jatuh
kita pan sering banget berantem
tapi, ya gitu, kita cepet akur lagi... hahaha
rugi banget yah, kalo iseng berantem
tapi buat bunda, ini jadi sebuah tempat belajar menempa karakter bunda yang masih acak-acakan ini

terima kasih buat selalu mendukung bunda dalam dunia scrapbook digital yang jadinya mengurangi nonton berdua, karena papa nonton, bunda malah asik ngulik layout
tagihan internet bulanan jebol, karena bunda kudu aktif di forum-forum itu
belum lagi papa teh kudu dengerin keluh kesah bunda, kalo misalnya bunda kesinggung sama temen bunda. padahal, mungkin papa punya masalah yang jauh lebih gede daripada masalah bunda yang super cemen itu..

ma kasih untuk makan masakan bunda, walau ga enak dan papa komentar ga enak, tapi tetep papa habisin..
ma kasih untuk bangga punya istri bunda
ma kasih untuk jadi imam buat bunda dan ilman
ma kasih untuk membangun surga buat bunda dan ilman

you are the piece of the puzzle I need
to make my life full and complete
I love you so, and thanks for being my hubby...

papa, bunda udah ngantuk sebenernya..
udah jam 00.00 masuk ke tanggal 6 Januari 2009 *dan baru diposting tanggal 7 Januari 2009 jam 01.39 pagi*
tapi mata bunda ga bisa merem, pasti gara-gara bunda nyeruput kopi papa tadi, ya...
ya udin, bunda mau beresin scrapbook dulu, banyak pe er scrapbook, nih
harap jangan reply "Hidup PERSIB!" pada postingan ini, karena bunda bukan maniak PERSIB!
bunda mah tetep BIG FAN of Afgan!

Wednesday, December 31, 2008

MP Writing Event 2008: Berdamai dengan Diri Sendiri

Setelah saya mengalaminya, oke, saya akui bahwa berdamai dengan diri sendiri itu lebih sulit daripada kalo saya berdamai dengan orang lain karena bertengkar misalnya.
Teman-teman pasti sudah baca di sini. Saya memang masih dalam proses buat move on itu.

Ada yang bertanya pada saya, "gila loe! Lu masih suka sama dia?"
Aduh! Saya harus jawab apa? Kalo saya bilang sudah tidak, pasti dia ga percaya. Karena toh, ternyata saya masih perlu waktu buat move on. Tapi ini bukan masalah suklaa, sayang -apapun itu -, padanya. BIG NO.

Sulit menjelaskannya. Sebab, bukan rasa suka yang sudah berlalu yang masih ada. Saya juga yakin, ini bukan sekedar godaan syaitonirrojim seperti yang seorang teman saya yang lain pernah ingatkan.

Ini masalah saya yang kehilangan kendali, ketika semua yang sudah saya bangun dan sudah selesai, tiba-tiba hancur berkeping-keping, almost 5 years ago. Saya marah besar atas kehancuran itu. Dan saya sama sekali tidak lagi punya tenaga, modal dan bahkan mimpi untuk membangunnya lagi saat itu. Tapi, saya harus bangkit. Ada orang lain yang sudah siap menyambut saya, selemah apapun keadaan saya. Dia adalah orang yang sekarang merupakan suami saya.

Fahmi dan Ilman hadir buat saya karena Allah SWT begitu sayang pada saya. Allah SWT memberikan saya kesempatan kedua untuk membangun semua yang sudah hancur berkeping itu. Perlahan, tapi jelas arahnya ke mana.

Kenapa, sih, saya kok ga langsung move on saja ketika saya baru broke up? Bukan ga langsung move on. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk bisa lupa bagaimana hancurnya saya ketika kami broke up.

Saya sering dekat dengan cowok, baik ttm maupun beneran jadian, tapi emang ga pernah parah kalo udahan. Mungkin karena waktu itu, saya sebegitu seriusnya, sampe lupa, apa yang sebetulnya saya perlukan. Dan emang itu yang ga pernah terpenuhi sampai kami memutuskan untuk selesai. Komitmen. Kehadiran Fahmi emang terlalu cepat waktu itu, tapi saya sadar, toh, yang saya butuhkan kebersamaan dan komitmen dari orang yang saya sayangi, yang kemudian saya jalani dengan Fahmi, sampai sekarang.

Tapi, saya lupa satu hal. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya nggak berani menyelesaikan persoalan masa lalu saya sebelum saya menginjak akad nikah. Saya biarkan saja dia mengendap, sehingga ketika ada pemicu yang mengaduk-aduk dasar hati saya, dengan tenangnya ia muncul ke permukaan. Artinya, saya ternyata masih belum berdamai dengan diri sendiri ketika itu.

Saya nggak mau terus menerus bergulat dengan diri saya sendiri. Saya capek. Saya hanya ingin keluarga saya selamanya sakinah ma waddah wa rahmah, tanpa saya punya beban pikiran seperti ini, walau jujur aja, cuma seupil!

Seupil tapi jadi borok yang bernanah terus. Ga sembuh-sembuh. Akh! Saya harus segera mengobatinya, saya pengen cepat sembuh. Saya mulai mengobati diri saya sendiri dengan menceritakannya pada sebagian orang secara langsung.

Saya juga bercerita pada si obyek, bahwa saya merasakan kehancuran setelah kami broke up. Tapi, saya pengen bangkit. Saya pengen membuang semua serpihan-serpihan kehancuran, sehingga apa yang sedang saya bangun sekarang, bisa berdiri kokoh, selamanya. Tak dinanya, setelah saya menceritakan semuanya padanya, saya merasakan kelegaan yang luar biasa.

Sekarang saya sedang memasuki tahap recovery. Recovery ini terasa sangat berat, tapi saya punya Fahmi yang ternyata sangat melindungi saya dengan keadaan saya ini. Dia begitu sabar menghadapi saya seperti ini.

Semua nasihat repetitif Fahmi langsung terngiang di telinga saya, "berharap pada manusia itu membuat sakit ketika kita ga dapat apa yang kita harapkan." Kalimat itu selalu menyejukkan hati saya dan membuat saya bangkit. Yes, Fahmi is my angel.

Saya selalu berdoa, di setiap akhir shalat saya, "Ya Rabbi, berikan saya hikmah untuk tetap bersyukur dan jadikanlah saya orang yang shalih."
Selepas saya bercerita pada mantan saya, semua berputar di benak saya, seperti saya sedang menonton obituary. Saya punya teman-teman baik ketika saya membutuhkan mereka. Saya punya suami yang juga sahabat saya.Saya punya sahabat-sahabat yang selalu memberikan segalanya untuk saya. Dan, mereka yang berbagi pengalaman serupa dengan saya. Akh, betapa saya diberi hikmah untuk bersyukur ini begitu besar!
So, apa lagi sih, yang saya cari untuk melengkapi perdamaian dengan diri saya sendiri? Kenapa saya harus takut menatap ke depan?

Baiklah, sekarang saya sudah berdamai dengan diri sendiri, walau itu perlu hampir 5 tahun untuk melakukannya. Saya sudah siap dengan semua resolusi tahun baru 2009 saya. Hahaha...

Oya, lewat pictures ini, saya pengen ngucapin ma kasih banyak buat beberapa orang dari kalian, atas komentar kalian di sini.... Sangat membantu saya...

I promise to make you a scrapbook for you each, tapi belum selesai semua. Jadi saya upload yang digabung aja dulu, ya... Thanks, ibu, for the chance!

Monday, December 22, 2008

Shidiq Ilman Faiz



Yup! Nama lengkapnya demikian. Shidiq Ilman Faiz. Ketiga kata itu adalah hasil diskusi, brosing dan pemikiran masing-masing antara saya,"
Fahmi dan Bapak.
Saya kepingin sekali menamai putra saya dengan nama Ilman, selain karena artinya Ilmu, yang saya harapkan kelak dia suka belajar tentang segala sesuatu, juga karena saya terinspirasi oleh seorang adik mentor saya ketika Pesantren Kilat 11 di Garut, bernama Ilman, anak yang keren banget! Waktu itu, Ilman kelas 4 SD. Sekarang sudah segede apa, ya, dia?">


So, ketika Allah SWT mengabulkan doa saya untuk memiliki putra, saya nggak pikir panjang lagi, karena nama 'Ilman' sudah saya rencanakan 7 tahun se
belumnya. Faiz, nama sumbangan dari papanya, Fahmi. Seminggu sebelum saya melahirkan, saya dan Fahmi sering diskusi tentang nama bayi kami, via Y!M. Tepat hari ke-2 setelah Ilman lahir, saya dan Fahmi sepakat untuk memberi nama bayi pertama kami: Ilman Faiz. Tapi, trus Fahmi minta saya sms bapak, siapa tahu, bapak juga pengen nambahin. Namanya juga cucu pertama bapak. Hehe... Oke, saya lalu sms bapak. Bapak reply dan kasih dua alternatif. Ilman Faiz Ash-Shidiq atau Shidiq Ilman Faiz. Berdasarkan pertimbangan kami nggak mau nyusahin putra kami ketika dia dewasa nanti (seperti mengisi lembar ujian dengan nama lengkap atau mengisi form apapun, karena pengalaman papanya yang punya nama lumayan panjang jadi agak bete kalo harus ngisi form dengan nama lengkap), maka kami memutuskan untuk menamai baby kami dengan nama: SHIDIQ ILMAN FAIZ. Setelah keputusan dibuat, Fahmi langsung bikin akte kelahiran di RS Hermina Pasteur Bandung. Ada yang lucu mengingat kami baru jadi orang tua. Seminggu setelah Ilman lahir, karena kuning, Ilman harus masuk RS Hermina lagi untuk rawat inap. Bilirubinnya waktu itu 16,sekian (lupa!). Sebelumnya, masuk UGD dulu, karena hari itu adalah Tahun Baru. Di mana semua dokter anak libur, hanya ada UGD. Perawat memanggil nama "Bayi Shidiq" dengan lantang, berulang-ulang, tapi tampaknya nggak ada yang menghampiri. Saya sempet gemes dan berpikir, "Ih! Ke mana sih, mereka? Aku pan lagi nunggu giliran juga! Kok orang itu udah dipanggil dari tadi ga nyamperin? Mendingan Ilman dipanggil duluan, deh!" Ketika itu Fahmi sedang baca koran, dengan tenangnya tentu saja.
Tak lama, saya dihampiri resepsionis, "Bu, ade Shidiq sudah dipanggil masuk."
Saya melongo. Shidiq? Siapa tuh? Nama anak saya kan Ilman. Untung,
saya cuma melongo 5 detik saja, kalo ga salah. Tiba-tiba saya blushing, karena saya lalu ingat, putra saya namanya Shidiq Ilman Faiz. Wah, belum-belum sudah jadi ibu yang payah nih! Hahahaha... Hari demi hari, saya lalui bersamanya. Rasanya, saya sangat beruntung dikasih kesempatan untuk jadi ibu. Walau saya bukan ibu yang baik, tapi saya berusaha untuk jadi ibu yang baik, yang setiap Ilman perlu saya, saya ada di sisinya. Betapa bangganya saya, setiap saya bertemu Ilman, Ilman akan langsung menghambur saya. Kamu tahu, kebahagiaan seperti itu nggak pernah bisa diganti oleh apapun! Sekalipun oleh uang segudang! Dan, sekarang, Ilman sudah dua tahun, alhamdulillaah. Saya belum terpikir untuk menyapihnya, karena ASI yang saya berikan lumayan ga eksklusif, secara waktu itu saya masih oon (mudah-mudahan sekarang udah dikit lebih pinter) jadi sempet dicampur gitu. Dan Ilman tampak masih perlu. Oke, saya akui, saya memang belum siap menyapih Ilman. Saya akui, saya masih perlu suasana menyusui Ilman... Ilman, baby bunda... selamat ulang tahun, ya, Nak... tambah shalih, tambah pinter, sehat terus.. bunda doakan, Ilman tumbuh menjadi anak yang bersahaja, peduli sesama, berguna untuk agamamu, bangsa dan negaramu... time went so fast, baby... tau-tau Ilman sudah dua tahun saja... rasanya baru kemarin bunda mengalami hari pertama jadi ibu... my love for you comes from the deepest place in my heart, Ilman...
Note: maaf, ya, Nak... pas di hari ultahmu, bunda nggak bikin acara apapun.. seperti tahun lalu karena hari ini bunda mesti ngantor. Bunda kerja untuk kebaikan masa depan anak Indonesia, untuk Ilman dan teman-teman Ilman. Tapi pasti ada hari lain, ya, Nak.. dan pastinya Bunda dan Papa akan gantikan hari ini dengan hari lain, just the three of us...