Wednesday, June 27, 2012

Apresiasi Bernama `Like`

Mungkin saya termasuk telat baru bahas ini. Dan tadinya saya pikir juga nggak perlu bahas ini. Siapa tahu di luar sana sudah banyak yang bahas. Tapi entah kenapa, belakangan ini saya tergelitik ingin membahasnya. Sudah gatal aja kali, ya...

Di sebuah jejaring sosial yang dipakai banyak orang – bahkan sepertinya semua orang wajib punya account di sana – kalo nggak mau ketinggalan, ada fasilitas bernama Like. Apa itu? Sebuah tombol dengan tulisan Like dan bila kita sudah meninggalkan jejak dengan menekan tombol itu, akan muncul icon thumb up di postingan tersebut.



Beberapa orang menganggap dengan menekan tombol Like itu artinya menghargai postingan. Ada yang menganggap juga bahwa orang yang memberikan jempol mereka untuk postingan itu sebagai pengganti komentar. Bahkan, di sebuah forum game online yang saya ikuti, L/C alias Like/Comment adalah bagian dari ucapan terima kasih. Sehingga, ketika ada yang mengambil gift atau reward dari game yang dishare oleh salah satu teman tanpa meninggalkan jejak semisal menekan tombol Like atau meninggalkan komentar di sana, dianggap “tuyul”. Mengambil barang tanpa permisi. Hihi.

Kebanyakan yang ketahuan begitu sih, biasanya diban. Dengan cara diunfriend atau bahkan diblok oleh yang merasa dicolong. Terkadang, sanksi sosialnya lebih kejam lagi. Dibuatkan print screen-nya, lalu disebarluaskan ke teman-teman lain dan dianggap sebagai “makhluk berbahaya” – karena mengambil barang tanpa izin.

Padahal, ketika saya masih bermain game online tersebut, saya pernah pakai fasilitas collect gift automatically, yang membuat sulit terlacak saya ngambil gift dari mana. Kadang, tombol Like otomatisnya nggak berpengaruh. Jadi, siapa tahu, saya pernah jadi tuyul juga, kan? Maaf, ya, teman-teman, kalo saya pernah jadi tuyul. Salahkan saja fasilitas collect gift automatically plus lemotnya internet di sini :D

Saya sering sekali membaca komentar dari empunya posting, ketika para “jempolers” memberikan jempol mereka untuk postingannya, “nuhun jempolers”, “ma kasih buat jempolnya, yaaa...”. Saya sendiri mendapati banyak jempol yang hadir untuk beberapa postingan saya di sana. Tapi saya nggak pernah berterima kasih untuk jempol mereka. Kenapa, ya?

Sampai suatu ketika, teman-teman saya pernah mempertanyakannya. “Sebetulnya, perlu nggak, sih, kalo ada yang kasih jempolnya di postingan kita, terus kita bilang terima kasih?” Saya pribadi jawab, “nggak perlu.” Tapi ada yang misuh-misuh jawab, “harus. Itu kan bentuk kepedulian orang lain terhadap postinganmu.” errr sebenernya sih nggak gini amat nulisnya, cuma ketangkap saya gitu, lah, kurang lebih.

Laluuu... mata saya tertumbuk pada beberapa orang yang curhat di status mereka tentang kesedihan atau derita yang mereka alami. Bukan doa, lho, ya. Banyak yang berkomentar mendoakan supaya masalahnya segera selesai. Tapi, yang bikin kaget, banyak yang nge-Like. Kadang, ada juga yang nggak berperasaan, upload foto-foto menyedihkan lalu diLike banyak orang. Errr....

Like itu kan suka. Kok, ada ya, yang suka sama penderitaan orang lain? Atau itu yang disebut sebagai pengganti komentar? Menunjukkan rasa simpati? Kayaknya ada yang harus diluruskan, deh... Udah nggak bener, nih, urusannya.... Nah, bagaimana dengan Anda?

Gambarnya nyolong dari sini. Maaf, ya, Mas.. minjem :D

Tuesday, June 26, 2012

Perempuan dan Ponsel Pintar

Pekerjaan saya yang berhubungan dengan multi media membuat saya harus jeli dengan perkembangan teknologi terkini. Sebab, jika tidak peduli dengan apa yang terjadi “di luar sana”, saya akan terseret arus ke kemunduran. Selain itu, tempat saya bekerja pun harus terus berinovasi membuat produk yang sesuai dengan perkembangan jaman. 

Efek dari keharusan saya untuk mengikuti perkembangan teknologi ini, membuat saya dipercaya oleh teman-teman perempuan yang merasa dirinya “gaptek” atau gagap teknologi untuk memberikan pencerahan pada mereka tentang teknologi. Tidak sedikit dari mereka yang belajar bermain jejaring sosial dari saya. Atau bahkan mereka percaya begitu saja pada saya untuk minta dibuatkan akun di sana. Meski begitu, saya tetap beritahu mereka untuk mengganti password usai saya buatkan akun. Untuk keamanan.

Tidak hanya akhirnya bertemu lagi dengan teman-teman lama lewat jejaring sosial, mereka pun jadi terdorong untuk menjadi lebih pintar lewat teknologi internet. Mulai dari mencari informasi seputar resep masakan – biar hidangan yang tersaji di rumah nggak itu-itu saja, tips-tips tentang merawat rumah; berkebun; atau hobi lain, kesehatan, konsultasi keuangan, dan lain-lain. Tidak sedikit juga yang pada akhirnya membuka usaha melalui bisnis online. Meski status ibu rumah tangga penuh, dompet tetep tebal yang nggak hanya sumbangsih dari suami. 

Nah, umumnya, nih, kebanyakan dari mereka sibuk merengek pada suami masing-masing untuk dibelikan smartphone, biar nggak ketinggalan katanya. Haha. Cuma ya itu. Meski akhirnya pada punya smartphone, mereka nggak mau ngulik sendiri. Diserahkan pada saya untuk tolong diulik dan akhirnya mereka tinggal tahu pakai. Intinya, mereka pengen tahu beres saja.  Yah, tampaknya smartphone yang mereka beli tidak belum memenuhi kebutuhan mereka yang pengen tahu beres saja.

Sepertinya mereka butuh smartphone keluaran Nokia, deh. Salah satunya, Nokia Asha 202. Kenapa? Sebab, Nokia Asha 202 ini mudah digunakan alias friendly user. Yang ngaku gaptek pasti begitu memegang ponsel yang satu ini akan merasa paling jago dalam teknologi. Bentuk slim berberat 90 gram (nggak sampai 1 ons, kan, yaa...) membuat ponsel ini begitu ringan di tangan. Selain itu desainnya cukup modis buat perempuan kayak kita, dual sim, kamera yang cukup catchy 2MP, dilengkapi pemutar musik MP3, ditambah radio, dan fitur berinternet yang mudah.  Tidak hanya itu. Masih banyak fitur lain yang asik tertanam di ponsel ini. 



Adanya program bundling Indosat Mobile & Nokia, semakin memungkinkan perempuan-perempuan bertambah cerdas. Gimana nggak? Indosat Mobile peduli perempuan sehingga mau memikirkan kebutuhan perempuan akan berinternet. Tahu kan, watak perempuan, apalagi ibu-ibu? Murah tapi dapat banyak yang dibutuhkan. 

Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu IndosatMobile dan handset Nokia kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. Dengan pakai Paket Hebat Keluarga, setiap ibu bebas menelpon anaknya secara gratis dari jam 00.00 – 17.00 (waktu di mana anak-anak sedang beraktivitas di luar, kan?)  selama 30 hari. Wih! Beneran, deh, memudahkan para ibu buat ngecek anaknya. Jadi nggak was-was lagi, dong. Belum lagi, ada Info Wanita, yang gratis selama 12 bulan. Ngapain aja di paket Info Wanita ini? Kita akan dikirimi SMS berisi informasi dan tips menarik seputar pengembangan pribadi, kesehatan, anak dan keluarga, sampai pengelolaan keuangan. Wow! 12 bulan? Setahun? Gratis! Asik! Mewah banget, yaaa...

Sudahlah ponselnya user friendly, eh dibundling pula dengan Indosat Hebat Keluarga. Cincay, deh... Perempuan memang perlu ponsel pintar. Ah, jadi pengen....

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia” yang diselenggarakan oleh EmakBlogger




Friday, May 25, 2012

hummm....

Friday, May 11, 2012

Empati?

DISCLAIMER: Tulisan ini "galau" detected. Jadi, kalo ga mau ketularan galau, sebaiknya nggak usah baca. #eh

#1. Suatu hari, teman saya lagi PMS, jadi lagi mudah meledak. Berbeda dengan saya yang meledaknya bisa dua hal: marah-marah atau menangis, teman saya yang satu itu bakalan merepet curhat nggak berkesudahan. Kalo dituruti, 5 jam bisa habis waktu saya buat dengerin curhatan dia.. via telpon! Kebayang, nggak, panasnya si ponsel.. hihihi...
Selain sedang PMS, dia juga sedang punya banyak masalah. Sampai merasa dirinya adalah orang paling menderita sedunia.

Kebetulan, dia butuh merepet dan ingat pada saya, jadilah dia menelepon saya. Sayangnya, dia nggak nanya kabar saya dulu, apakah saya available atau tidak untuk dicurhati. Apakah saya sudah pasang shield tebal, dll. Dan waktu dia asik curhat, saya sedang terkapar lemah tak berdaya karena sakit. Apakah dia ngeh dengan suara saya yang cuma bisa bilang "hmm?" "oh, gitu.." "waduh..." dengan suara lemah? Dia terus merepet sampai batre ponsel saya habis dan percakapan terputus. Saya terlalu lemah buat ambil charger waktu itu, saya putuskan untuk tidur.

Apa yang terjadi ketika ponsel saya sudah nyala kembali? Dapat kiriman sms banyak banget, yang isinya marah-marah, karena saya memutuskan telepon dan nggak minta maaf!

#2. Kemarin pagi, masih sepi, ada asap rokok masuk ke ruangan saya. Biasanya kalo kipas di atas kepala saya dinyalakan, asap rokok nggak terlalu ngaruh di dalam ruangan saya. Tapi, kemarin itu nggak. Setelah saya telusuri, ternyata penjaga kantor sebelah lagi asik ngerokok di depan jendela ruangan saya. Karena saya merasa terganggu, saya bicara baik-baik pada beliau, "Pak, punten, ulah ngaroko di payuneun jandela ieu. Haseupna lebet ka ruangan saya, Pak. Saya janten sesek, teu tiasa napas. Nuhun, Pak" (Pak, maaf, jangan merokok di depan jendela ini. Asapnya masuk ke ruangan saya, Pak. Saya jadi sesak, nggak bisa napas. Ma kasih, Pak."

Apa reaksi orang ini? Matanya mendelik ke jendela saya, lalu bilang, "oh!" dan pasang ekspresi murka. Kemarin, saya sedang senang hati, jadi lihat reaksinya saya nggak berniat menggampar. Kalo kemaren mood saya lagi ancur, bisa saya labrak orang itu. Bukannya minta maaf! Yah! Saya tahu! Dia gengsi ditegur "anak buah" yang masih muda dan lucu ini. Heran saya. Ke tetangga sekitar, dia suka ngaku-ngaku "Manager" dan nunjuk kami-kami yang muda ini anak buahnya... *ngakak guling-guling*
Kalo tetangga di daerah kantor saya ini waras semua, pasti mereka nggak percaya. Mana ada manager kerjaannya nongkrong di depan teras, yes?

#3. Hari Jumat pagi, biasanya Eyiq senam pagi, seperti postingan-postingannya di hari-hari Jumat. Nah, Jumat itu (udah lama, sih), saya naik angkot dan mau ngetes sinyal GPRS. Saya ngirim iMessage ke Eyiq, soalnya kan paling cepet keliatan. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna hijau, berarti GPRS-nya nggak nyala alias terkirim sebagai SMS. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna biru, berarti GPRS-nya nyala dan terkirim sebagai iMessage.

Pesan saya waktu itu, "lagi senam, ya, Eyiq?" dan blup! Balon kata message di layar berwarna biru. Oke. Berarti sinyal GPRS saya lagi waras. Saya bisa plurk-an kalo gitu. Ternyata, Eyiq balas. Dia jawab, "lihat aja di Path."
Karena sinyal GPRS lagi asik, saya segera buka Path dan hati saya mencelos. Eyiq sedang berduka cita karena sepupunya yang masih bayi meninggal dunia. Dan Eyiq sedang berada di rumah duka.

Segera saja saya minta maaf sama Eyiq. Soalnya saya nggak ngecek dulu Eyiq ada di mana. Niat usil nyapa, malah membuat saya jadi manusia nggak peka. :(


#4. Sewaktu saya lagi sedih, karena iPod ilman hilang, saya cerita ke seorang teman. Ternyata di saat yang sama, seseorang yang saya ceritain itu lagi ada masalah juga. Jadinya, yah, dia meninggalkan percakapan dengan saya karena sedang marah entah sama siapa. Saya yang lagi down, tambah down aja, merasa nggak dipedulikan. Walau keesokan harinya, kemudian dia minta maaf karena merasa nggak peka.

Tapi, yah, ketika kita lagi ketiban musibah, biasanya kita bakalan merasa paling menderita sedunia dulu sih (reaksi umum), sebelum kemudian bisa berikhlas ria. Atau malah marah-marah pas dinasihati untuk mengikhlaskannya dengan komentar, "emangnya ikhlas itu gampang?"

"Lucu"nya lagi, waktu saya cerita ke seseorang yang lain, dia malah dengan santainya bilang, "ya udah, Bu.. beli aja lagi... gampang, kan?" *dalam hati, nih, saya ngedumel, "iya, situ punya duit kayak (maaf) b**ak! Ngegampangin aja!"*

#5. Kapan itu, sejak salah seorang teman saya tahu bahwa Ilman termasuk ABK, dia menjadi ekstra hati-hati pada saya. Alasannya, sih, takut saya tersinggung. Hubungan kami menjadi nggak seperti biasa lagi. Dia terlalu banyak hati-hati pada saya. Misalnya, kalo lagi ngumpul, trus ada yang "pamer" soal kehebatan anaknya, teman saya ini langsung memberi peringatan, "pssst" seraya matanya menunjuk saya diam-diam. Ya, Allah.. memangnya saya kenapa?

#6. Pernah, saya ngajak Ilman main ke rumah salah satu kenalan saya. Waktu itu, Ilman belum bisa bicara. Sementara anak kenalan saya ini sudah bisa ngobrol, padahal usianya dua tahun di bawah Ilman. Neneknya meraih cucunya sambil melirik Ilman dengan sudut matanya (kebeneran saya lihat banget) bilang, "Sini, cucu Oma yang pinter... udah pinter ngomong, abis ini pinter apa lagi ya..." *yah, mungkin saya lagi sensi... tapi, kalo dia sendiri yang ngalamin, bisa terima juga, nggak digituin?*

#7. Sewaktu saya berkomentar soal "lebay"nya pedangdut SJ pas kehilangan istrinya, teman saya tiba-tiba nyolot. "Peni nggak tahu, sih, rasanya kehilangan orang paling disayangi!!" *oke, waktu itu, ibu teman saya baru setahun meninggal. Jadi, dia masih dalam masa berduka.* Saya cuma bisa bilang, "Iya, saya tahu banget, kok. Saya ditinggal ibu yang melahirkan saya waktu saya masih kecil malahan.. hehe.." Tapi, yah, tetep. Saya dianggap nggak berempati.. ya sutra...

#8. Beredarnya joke sehubungan dengan tragedi jatuhnya Sukhoi. Ada yang bilang, "pilotnya kaget, lihat salak segede gunung" lah, juga joke-joke lain yang sama sekali nggak lucu untuk situasi berduka seperti itu. Nggak pada mikirin keluarga yang lagi berduka, apa? Kalo anggota keluarga atau sahabat kamu termasuk korban, masih mau terima orang lain bercanda, hah?

Kenapa, ya... giliran kita yang lagi punya masalah, banyak orang lain yang suka nggak berempati sama kita. Lah, giliran mereka yang punya masalah, mereka pengennya kita yang pakai sepatu mereka...

Friday, May 04, 2012

saya menyukai hal-hal yang mendetail. kalo saya bertanya pada orang, saya selalu pengen dapat jawaban yang mendetail. apalagi kalo pertanyaan saya adalah, "share, dong!" itu artinya saya butuh informasi detail...

Thursday, April 26, 2012

hari ini, setahun kemarin....

Yap. Ilman sudah punya adik. Begini kronologis ceritanya yang sudah saya simpan lama di hard disk eksternal, juga hard disk di kepala saya...

Tanggal 15 April 2011 sore, kontrol terakhir ke dr. Anita Deborah Anwar, DSOG.
"Dok, HPL-nya tanggal 24 April. Kok, belum terlihat ada tanda-tanda, ya?" *padahal, udah dua mingguan, sering muncul flek walau ga banyak... malahan, udah pada bilang, "sebentar lagiiii..."*
Dokternya jawab, "sabar, Bu... anak kedua pasti turun sendiri nanti ke jalan lahir, begitu sudah waktunya turun..."
Wait... bu dokternya kayaknya nggak ngeh, kalo anak pertama dulu sectio... menurut bidan yang saya datangi sewaktu muncul flek pertama kalinya, katanya kalo mau partus normal, anak kedua ini buka jalan baru. Karena, waktu kakaknya dulu, nggak ada pembukaan di jalan lahir. Tapi saya mencoba menenangkan diri, sambil terus berafirmasi positif bahwa adek akan lahir lewat partus normal. Titik.

"Trus, saya ke sini lagi kapan, Dok? Kalo 7 hari lagi, berarti tanggal 22, kan, ya? HPL tanggal 24, lho..." *bawel, cemas, waswas*
"Hmmm.. Ibu ke sini lagi tanggal 26 April aja, kalo ternyata tanggal 24, 25-nya belum lahir..."
"Baiklah..."

Oke. Kerjaan saya ternyata sudah selesai sejak tanggal 22 April. Mau mulai cuti, saya malah nggak karuan di rumah. Bingung sendiri. Beberapa waktu sebelumnya kan, saya pernah cuti dua hari. Ternyata ya gitu... malah jadi rungsing sendiri...

23 April 2011. Senam hamil.
Nanya ke instrukturnya, "Bu bidan, HPL saya besok... kok, saya belum ngerasain mules, ya? Kayak apa, sih, mules itu?" *meski anak kedua, saya belum pernah tahu rasanya mules menjelang melahirkan... dulu kan sectio*.
Setelah dijelaskan, dicek juga sama ibu bidan... "banyakin jalan kaki, deh, bu... kalo bisa, dari sini ke rumah jalan juga... hehehe..."

25 April 2011. Kantor. Jam 8. Perut mulai berasa kencang.
"Eh, sekarangkah waktunya?" Tapi saya cuek aja. Tiap berasa kencang, masih dua jam sekali juga, saya narik napas, ngatur napas. Dan cuek berladang. Nanem yang 12 jam pula... Dengan yakin banget, bahwa nanti malam saya bisa nanam untuk empat hari, dan ketika itu saya sudah keluar dari rumah sakit... dan bakalan berladang online lagi sepuasnya sepulang dari rumah sakit.

Jam 10. Tiba-tiba ada panggilan meeting sama pemegang saham. Orangnya sebenernya nggak galak. Tapi kalo berdeham, bisa bikin jiper. Trus, suaranya juga kencang. Mendukung banget, deh, dengan postur tubuhnya yang tinggi besar itu.
Entah karena mendengar suara pak pemegang saham yang menggelegar atau memang sudah pengen brojol, saya perhatikan sejak ketemu sama beliau, mules dan perut kencang di perut sudah mulai berdurasi lebih cepat dari 2 jam sekali, yaitu 15 menit sekali.

12.00. Selesai meeting. Pak pemegang saham nanya, "kapan kamu melahirkan, Pen?" sambil nyengir saya jawab, "harusnya kemarin, Pak..." Bu direktris waktu itu melotot. "Haaah?" Langsung bikin pengumuman ke semua teman kantor saya -- yang semuanya pria -- untuk menjadi "teman siaga". Kalo saya mulesnya udah lebih sering, segera angkut ke rumah sakit. Siapin nomer taksi, siapin nomer driver kantor. Hahaha...

Siang itu, saya bilang ke pa il, kalo saya udah mulai mules tiap 10 menit sekali... lah, pa il malah nanya, "trus gimana? ke rumah sakit sekarang?"  saya nggak tahu, apakah saat itu pa il sendiri sudah benar-benar siap atau masih keder karena lagi banyak kerjaan, jadi jawabannya kayak gitu... hihihi... yang akhirnya saya jawab, "ya udah. nanti sore aja. terusin aja dulu kerjaan papa..."

Dasar saya geeran, saya pikir pa il bakalan ngecek tiap jam keadaan saya... ternyata dia malah asik meeting... hiks... *merasa diabaikan*
Alhasil, pulang tetep setelah maghrib dan nggak belok ke rumah sakit dulu. Tapi saya biarin aja dulu, deh. Toh, saya udah registrasi ke Hermina Pasteur. Kalo misalnya butuh ambulans atau apapun, ada nomer darurat yang bisa dihubungi di rumah sakit. Lagian, kan, saya masih mau berladang online... Jam 8 malem nanti saatnya panen!

Sesampainya di rumah orangtua untuk jemput Ilman, saya bilang ke orangtua kalo saya udah mules. Ibu saya yang kuatir nyuruh saya nginep aja. Biar kalo ke rumah sakit deket. Saya jawab, "nggak apa-apa, Bu. Di belakang rumah kan ada perawat Hermina... tinggal gedor pintunya aja... dia tahu mesti ngapain.." *padahal terus terang, saya udah mulai cemas juga.. tapi cemas menjelang melahirkan itu kan biasa...*

Saya makan banyak di rumah orangtua saya waktu itu. Lalu kami bertiga (saya, pa il, dan ilman) pulang ke rumah kami di Cihanjuang. Mules saya masih bertahan setiap 10 menit sekali. Dan akhirnya saya mulai nggak bisa berladang, karena mulesnya mulai menyakitkan dan melelahkan. Akhirnya, setelah shalat isya', saya cuma bisa rebahan, menikmati masa-masa mules itu dan masa-masa nggak mulesnya. Saya tetap berhitung. Masih tiap 10 menit dengan durasi 1 menit saja.

22.00 saya berusaha memejamkan mata. Tiba-tiba saya mendadak merasa mual sekali. Seperti ada yang menekan ulu hati saya. Kepala saya juga pusing. Lalu, saya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang saya makan. Semuanya. Nggak bersisa. Saya sampai gemetaran.
Pa il sms bapak saya, ngasih tau keadaan saya. Bapak nyuruh pa il buatkan saya teh manis panas, supaya saya tetep punya energi.

Jam 23.00. Saya berusaha tidur di sebelah ilman di kamar. Tapi nggak bisa. Tiap saya memeluk ilman, kayaknya badan saya berontak juga. Saya terus berafirmasi, bahwa mules ini cuma terjadi sebentar. Ini proses yang akan dilalui, adek sebentar lagi akan bertemu kita... Ternyata saya nggak bisa tidur. Karena sepuluh menit kemudian, muncul lagi pusing di sela-sela mules... Akhirnya saya pindah ke depan tv. Tiduran di sana. Pa il nemenin saya. Setiap 10 menit, saya mencengkeram tangan pa il, saking sakitnya. Pa il kebangun, trus tidur lagi. Hehehe...

26 April 2011. Jam 03.00. Saya kebelet pipis, ada lendir merah gede banget. Dari situ saya yakin, waktunya sebentar lagi. Kepikiran mau ngegedor suster Ririn *yang dulu bantu saya melahirkan Ilman*, tapi saya pikir, nunggu mulesnya maju tiap 5 menit aja deh, nanti.

06.00. Pa il mandiin ilman. Saya udah nggak bisa konsentrasi. Soalnya, setiap mules, mata saya berkunang-kunang terus. Jadi, saya limbung. Padahal, seingat saya, belum pernah ada yang cerita pada saya, kalo mules itu pasti berkunang-kunang atau pusing... Jadi, saya fokuskan untuk mengafirmasi diri saya terus.. bahwa semua baik-baik saja.

07.30. Sampai di rumah orangtua saya. Saya sarapan, sementara pa il ngantar Ilman dulu ke sekolah. Adik saya yang juga sedang hamil besar, bikinin saya kopi ginseng. Buat stamina, katanya.

09.00. Hermina Pasteur. Masuk UGD, untuk periksa tekanan darah dan persiapan masuk ruang bersalin. 110/90.

09.30. Ruang Bersalin. Periksa CTG dan tekanan darah. Kontraksi masih setiap 10 menit dengan durasi 1 menit. 110/90.

10.00. Ruang Bersalin. Diambil darah. Diwawancara, dimintai data ini dan itu. Sementara, pasien sebelah mau dikuret. Kyaaa....

10.30. Ruang Bersalin. Periksa dalam. Baru bukaan 2-3. Ditinggal pa il, yang pulang dulu ambil baju dan duit.

11.00. Ruang Bersalin. Disuruh makan siang. Mulesnya mah masih 10 menit sekali.

12.00 Ruang Bersalin. Baru bisa makan siang, karena lagi-lagi ada pemeriksaan. Pa il datang. Flek mulai banyak.



13.00. Ruang Bersalin. Udah mulai gerah. Mules nggak maju-maju. Mata tetep berkunang-kunang...

14.00 Ruang Bersalin. Periksa dalam lagi. Masih bukaan 3-4.

16.00 Ruang Bersalin. DSOG datang, meriksa dalam. Katanya udah bukaan 5. Sempet ada diskusi antara bu dokter sama perawat, yang membuat saya jadi periksa dalam lagi (untuk ke sekian kalinya) oleh bidan senior. Tadinya mau disuruh pecahin ketuban, pas lihat alatnya, saya langsung bilang nggak mau. Mau jalan-jalan aja... Hihi... Jiper. Nah, pas bu dokter udah keluar, saya memutuskan jalan-jalan. Di meja perawat, saya dengar kalo dokter berdiskusi tentang saya. Di buku riwayat kehamilan saya, katanya panggul saya sempit, makanya anak pertama sectio. Setelah diperiksa, nggak terbukti panggul saya sempit. Akhirnya saya dipanggil lagi, buat periksa dalam (lagi!)
Intinya untuk meyakinkan bahwa saya bisa partus normal dan tidak ada indikasi panggul saya sempit. Dokternya bilang, kalo mau sectio lagi, hayuk! Tapi kalo mau partus normal juga hayuk. Karena progres bukaan cukup bagus. Dan jam berapapun beliau siap. Saya merasa tersemangati untuk nggak menyerah.

17.00. Jalan-jalan lagi. Pas lewat meja perawat, saya berhenti, karena mules dan berkunang-kunang. Perawatnya nanya, "kenapa, Bu? Mules, ya?" Saya jawab, "Iya.. berkunang-kunang juga soalnya... pusing..." Perawat kaget kan..., dia langsung bilang, "Ibu, sebaiknya Ibu naik ke tempat tidur dulu, ya... Kita harus periksa tekanan darah ibu... Soalnya, Ibu nggak boleh pusing kalo lagi mules..."
Saya sendiri nggak tahu, gimana ceritanya saya udah ada di tempat tidur lagi, trus disuruh pipis dan air seninya ditampung... terus pemeriksaan darah lagi...

17.30. Saya jalan-jalan lagi, lalu dipanggil dan disuruh tiduran dulu. Di situ, seorang perawat agak senior, menghampiri saya, meraih tangan saya sambil mengusapnya dan berkata, "Ibu... ada kabar buruk... kreatinin di urin ibu positif tujuh... artinya, Ibu terkena pre eklampsia... Sekarang gimana, Bu? Ibu mau terus partus normal atau mau ambil jalan sectio aja? Ibu tahu, kan, tentang pre eklampsia?" Saya mengangguk. Lemas.
Perawat agak senior itu menambahkan lagi, "Kalo Ibu masih ragu, saya coba hubungi DSOG Ibu sekarang, ya.. nanti kita teruskan ke spesialis Penyakit Dalam..." Saya cuma bisa mengangguk. Saya masih nggak mau menyerah. Saya yakin, saya bisa partus normal.
Lalu, di tangan saya terpasang jarum infus walau saya sudah menolak. Perawat bilang, untuk jaga-jaga aja. Lalu, di badan saya dipasangin kabel-kabel yang terhubung dengan sebuah monitor tekanan darah.
Nggak lama, datanglah dokter spesialis Penyakit Dalam. Beliau bilang, kalo memaksakan partus normal, hanya ada dua kemungkinan. Lumpuh atau gagal. Siapa sih, yang nggak mau partus normal? Tapi untuk kasus pre eklampsia, sebisa mungkin dihindari keduanya... Saya berpikir lagi, iya kalo saya mati, saya bisa jadi syahidah. Tapi, kalo saya lumpuh? Saya malah merepotkan semua orang. Dilema. Pengen nangis rasanya. Dan diam-diam, tekanan darah saya menaik.
Perawat rumah sakit yang tetangga belakang rumah datang menjenguk. Saya bilang, "bu Ririn, kalo nanti saya harus sectio, sama Bu Ririn, ya, ditemeninnya?"
"Wah, saya mau banget, Bu.. tapi jam dinas saya sudah habis, Bu... tenang aja, ada teman saya, kok, Bu..."

18.00. Mom. Daddy. Mereka bergantian menemui saya, sementara Ilman di luar, gantian dijagain papanya. Saya minta maaf ke bapak, ke ibu. Ya, siapa tahu, umur saya di dunia selesai sampai di situ. Saya mohon doa, semoga diberikan yang terbaik untuk adek (bukan buat saya, lho... nggak kepikiran minta selamat ketika itu :D). Meski ibu dan bapak nggak banyak berkata, tapi dari matanya yang memperhatikan semua jenis benda yang ditempelkan ke tubuh saya, saya tahu mereka khawatir.

Sepupu saya datang juga. Dia berusaha membantu saya mengafirmasi diri saya bahwa semua baik-baik saja. Meski ada perawat bawel banget, pas saya lagi mules, dia pengen meriksa saya... :(

19.00. Saya mulai dipuasakan. CTG lagi. Saya nggak tahu, kenapa saya harus puasa. Saya udah mulai kehabisan tenaga. Bahkan buat bernapas sekalipun. Mules ditambah pusing berkunang-kunang itu menghabiskan tenaga banyak sekali, jenderal! Tekanan darah saya waktu itu sudah berkisar 140-160/100-110

19.30. Saya diganti baju untuk operasi. Saya udah pasrah. Kalo emang harus sectio.. Sepupu saya terus nguatin saya dengan bilang, "yang penting selamat, ya, Bun... bentar lagi ketemu adek... Adek.. bantu bunda ya..." Dan saya dibawa ke kamar operasi. Here we go again... Ketemu lagi deh lampu operasi segede gaban... Kali ini, saya terpikir buat memicingkan mata, biar keliatan kayak apa operasinya nanti. Pengen liyat the amazing baby comes out... Sayangnya, mata saya kan rabun... hahahaha... *ketawa miris*

Sewaktu ditanya, "Bu, bisa ngangkat badan, ke meja operasi?" Saya mengangguk. Saya mulai beringsut dari ranjang ruang bersalin ke meja operasi, dibantu perawat dan bidan. Saya sempat tanya, "Dok, bisa, nggak, mulesnya dihilangin kalo emang mau sectio? Sekarang mulesnya udah percuma, kan?"
Dokternya bilang, "ya nggak bisa, Bu.. mules itu kan proses alami..."
Lalu saya mendengar, dokter dan bidan ngobrol bercanda gitu..., sampai akhirnya saya dengar dokter anestesi bilang, "Bu, duduk, yuk! Kita mulai bius epiduralnya..."
Saya jawab, "sebentar, Dok... saya lagi muh.. leeessshhh..." lalu saya berusaha menarik napas.. adek kayak menggeliat mau keluar... rasanya saya udah siap mengedan... di telinga saya, alat monitor yang tadinya berbunyi, "pip.. pip.. pip.." menjadi "piiiiiiiiip..." panjang gitu, lalu saya dengar sedikit kehebohan antara dokter, bidan, dan perawat.

Ketika mata saya terbuka, saya sudah tidak lagi berada di bawah lampu operasi. Saya sedang dikerumuni beberapa perawat. Mulut saya juga dimasukkan alat berupa sonde, yang kemudian saya tahu ternyata dimasukkan sampai ke tenggorokan saya, sehingga saya tidak bisa berbicara bahkan bersuara.
Beruntung sekali, perawat yang sedang ada di hadapan saya bisa baca gerakan mulut saya yang tertutup sonde itu. Saya tanya, "suami saya mana?"
Jam besar di ruangan itu menunjukkan angka 02.00. Dini hari.
Pa il masuk, senyum, megangin tangan saya. Oke. Saya sekarang udah nggak di kamar operasi. Tapi kayaknya ini bukan di ruang pemulihan, deh. Seingat saya, ruang pemulihan nggak seperti ini. Saya lalu tertidur lagi.
Paginya, saya mencari lagi pa il, via perawat. Kali ini, saya mulai bertanya-tanya. Saya bertanya dengan cara menuliskan apa yang ingin saya tanyakan, di jari pa il.
Saya nulis, "bunda kenapa?"
Pa il jawab, "bunda pingsan waktu mau dioperasi. jadi bunda harus dirawat di sini dulu."
Saya nulis lagi, "adek?"
Pa il jawab, "adek ada di ruangan seberang. tuh, keliatan dari sini..."
Saya nulis lagi, "adek baik-baik aja?"
Pa il jawab, "iya... nanti papa lihatin fotonya ke bunda..."
Selanjutnya, komunikasi saya dengan pa il lewat tulisan masih berlanjut sampai jam 8 malam, karena sonde terpasang 24 jam. Begitu sonde dilepas, saya senang sekali karena boleh MINUM! Yak! Haus, saudara-saudara!

Ada satu hal yang cukup mengganggu saya, membuat saya bertanya-tanya. Sewaktu perawat yang tetangga saya itu datang menengok saya, matanya berkaca-kaca. Berkali-kali dia mengusap tangan saya dan menghapus air matanya. Ada apa, sih? Katanya adek baik-baik aja... Lalu? Kenapa?

Begitulah. Ibu mertua saya juga masuk dan tertegun melihat saya. Saya jadi bingung. Saya kenapa, sih?

Setelah 48 jam, saya diperbolehkan masuk ke ruang rawat biasa... Saya senang sekali. Dan anehnya, saya bisa jalan meski pusing. Si luka operasi nggak berasa sama sekali dan saya juga nggak merasakan kesemutan! Senangnya! Meski saya masih dimandiin sama perawat, tapi kadang saya suka nekat pengen masuk kamar mandi sendiri... Hehehe...

Yang aneh dari proses persalinan ini adalah... leher saya yang kaku. Aneh rasanya, seumur hidup baru ngerasain leher kaku. Tengeng bukan. Salah posisi tidur juga bukan. Dan saya belum boleh menyusui, karena obat-obatan yang saya minum. Sampai akhirnya saya minta pulang paksa hari Sabtu, 29 April, setelah saya melihat bayi tampan saya. Saya bilang, saya udah nggak apa-apa. Meski tekanan darah saya masih 160/120 ketika itu.

Beberapa waktu kemudian, setelah saya pulang, saya mendengar, bahwa ketika saya akan dibius epidural dan menarik napas, saya tiba-tiba kejang lalu pingsan. Saya diberi obat penenang sekaligus bius total dan dioperasi. Saya nggak ngerti itu gimana ceritanya. Yang pasti, adek sempet nggak nangis begitu lahir, karena kena efek obat penenang itu, dia jadi tidur. Makanya dia juga sempat nginep di NICU/Perina. Kenapa saya kejang? Karena tekanan saya "ngagijlek", dari 160 ke 200. Badan saya kaget. Gitu, katanya.... Jadi, dari kasus pre eklampsia, naik ke eklampsia berat.

Ya.. setahun sudah berlalu... bocah itu sekarang sudah setahun umurnya... sudah bisa naik tangga, sudah suka ngerecokin makanan kakaknya... dan sudah bisa berempati kalo kakaknya bersedih... hehehe... yak.. perkenalkan.. inilah Zaidan Akmal Nuh... panggilannya "Adek" atau "Zaidan" atau "Zidan"....









entah kenapa, suka banyak yang nuduh Zidan ini cewek, dengan sebutan, "si neng meni geulis". Dalam bahasa Sunda, "geulis" berarti "cantik" untuk perempuan... apa karena terlalu mirip ibunya, gitu, ya? hihihi...

selamat ulang tahun, adek... tetaplah menjadi penyejuk hati kami semua... bunda sayang adek... *kiss*

Wednesday, April 25, 2012

empati

dear ibu...

baru-baru ini aku abis ketiban masalah. sepele di mata orang lain, tapi lumayan berat buatku, bu. berat banget. tapi, kan, ketahanan tiap orang dalam menghadapi masalah beda-beda, kan, ya... *cari pembenaran*

abis itu, aku ketimpa masalahyang lebih gedeeeeeeeeeee lagi. tapi aku nggak bisa cerita di sini. minimal, aku udah ketemu psikologku yang baik hati itu. dan dia udah kasih aku semacam step by step buat mengurai semua masalahku. and I feel so much better today. meski masih nyesek juga, sih... hehe....

yang sedih, orang-orang yang kucurhatin itu, kok, kayak yang nggak ada yang peka. ada, sih, ikut berduka. satu orang aja. sisanya, menganggap bahwa itu semua biasa. menganggap enteng masalah itu. lalu, ketika orang-orang itu punya masalah yang lebih sepele dari masalahku, merasa bahwa masalahnya paling berat di dunia ini. hehehe... itulah dunia sekarang ini, bu. nggak tahu juga kalo sewaktu ibu masih hidup dulu, dunia yang ibu jalani kayak apa...

belakangan ini, dengan semakin majunya teknologi, empati mengalami kemunduran. banyak orang ga peduli sama sekitarnya: yang-penting-gue-nyaman. titik. :(

jadi ingat, waktu aku hamil adek, sekitar 8 bulanan gitu, ya, aku pulang senam hamil dan naik angkot. angkotnya penuh gitu, bu. aku naik dan duduk di bangku pengantin. kecil banget dan udah gitu, perut aku ditinjuin pake lutut anak SMA yang duduk di sebelah kananku. pengen nangis dan marah waktu itu, tapi yang meluncur dari mulutku cuma, "adek, sabar, ya... nanti kalo adek udah gede, adek harus bisa mengerti kesulitan ibu hamil yang duduk dalam posisi ini..."

belakangan ini, aku makin peduli sama anak-anak berkebutuhan khusus. memang belum banyak yang bisa aku lakukan, tapi paling nggak, sekarang cara aku memandang mereka udah berubah. kalo baca curhatan para orangtua ABK, sedih juga, bu. masalah mereka beraaaaaaaaaaaat banget. jauh lebih berat dibanding masalahku. tapi mereka kuat!

bu, ada yang menarik perhatianku beberapa hari ini. anak-anak punk yang banyak beredar di perempatan jalan. orangtua mereka mana, ya, bu? mereka kenal bangku sekolah, nggak? mereka punya cita-cita, nggak? kadang, aku pengen banget, bisa ngobrol sama mereka, trus ngasih lapangan kerjaan ke mereka. tapi, apa? aku belum punya usaha yang bisa melibatkan mereka. trus, kalo aku jadi nyonya kaya nanti, apakah aku masih peduli sama mereka? naik angkot atau jalan kaki ke mereka. berhenti di depan mereka. buka toples isi kue. trus makan bareng mereka dan ngobrol sama mereka. ini salah satu mimpiku, bu. aku pengen tahu, mereka punya cita-cita apa nggak. mereka punya tujuan hidup apa nggak?

mengingat aku yang dibesarkan oleh orangtua yang penuh kasih sayang, aku miris lihat kehidupan mereka di jalan, bu. apakah mereka suka dipukuli orangtuanya kalo nakal? atau mereka jadi gini karena mereka nggak peduli sama orangtuanya? alhamdulillaahi rabbil 'alamiin... aku terlahir dari keluarga yang meski nggak berlimpah secara materi, tapi berlimpah dalam kasih sayang....

kalo udah gini, aku selalu malu mengingat ayat-ayat di surat Ar-Rahmaan, yang selalu Allah ulangi. "fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan... -- maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

ma kasih, ya, bu. meski kebersamaan kita nggak lama, semua yang kita lalui masih teringat di kepalaku. bagaimana ibu mendongengi aku sebelum tidur. bagaimana ibu selalu mengutus keluarga awan untuk mengawasiku setiap ibu bepergian. bagaimana ibu bisa melihat melalui belakang kepala ibu. dan waktu kita jalan pagi buat mengumpulkan bunga-bunga tanjung untuk dirangkai jadi kalung. aku tahu, aku nggak akan pernah bisa mengulangi momen itu dengan ibu. tapi momen itu selalu ada di hatiku. selalu ada di mimpiku.

aku kangen ibu. aku sayang ibu. selalu sayang ibu. ibu selalu hadir di hatiku....

sun sayang,
-peni-
25.04.2012. 10.33 WIB
PS: tanggal segini, jam segini, setahun kemarin. aku mulai merasakan mules karena adek mau keluar dan udah lewat due date... hihihi....