Wednesday, July 11, 2012

Misteri Ms. R

Sejak mulai dekat, saya dan Pa il jarang sekali ikut campur urusan masing-masing. Sebelum menikah, memang sih, kami suka bertukar password email. Tapi itu semata-mata untuk beberapa urusan. Sebab, waktu itu buat pasang internet di rumah, harganya mahal banget. Jadi, kalo kebetulan saya di warnet, saya suka buka akun email Pa il dan membantu mengunduhkan sisipan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, nanti kami bertemu, bertransaksi bertukar disket. Jadul banget, ya...

Begitu juga setelah kami menikah. Boleh dibilang, baik saya maupun Pa il, jarang dengan sengaja mengecek ponsel pasangan. Entah itu ngecek kotak masuk atau call log. Rasanya, kok, kayak yang nggak percaya sama pasangan sendiri kalo sampai berniat begitu. Apalagi sejak Pa il pake BB. Sering banget BB-nya bunyi. Trang tring trung. Pasti itu notifikasi ada BBM yang masuk. Apakah saya berminat mengecek BBM yang masuk? Kalo nurutin curiousity sih, mungkin iya. Siapa, sih, yang tengah malem iseng kirim BBM? Nggak tidur apa? Tapi, toh, Pa il nggak pernah terbangun hanya gara-gara ada BBM masuk.

Tapi pernah, nih, beberapa tahun yang lalu, sebelum Pa il mulai pakai BB, malah, ada hal yang membuat saya gelisah dan curiga. Setiap Pa il sedang main sama anak-anak atau sedang di kamar mandi, atau sedang tidur bahkan, suka ada telepon masuk. Lihat dari Caller ID-nya sih, namanya Ms. R. Sering banget sih, Ms. R ini nelpon Pa il? Tapi nggak saya angkat. Saya biarkan saja.

Belum lagi, kalo ada telpon masuk dari Ms. R itu ketika Pa il siap siaga nerima panggilan telepon, Pa il mengambil ponselnya, lalu menjauh dari kami dan berbicara dengan lawan bicaranya di luar ruangan. Kadang di luar rumah. Demi mendapat sinyal yang bagus atau supaya nggak terdengar oleh saya?

Ah, dasar, ya. Rasa penasaran mulai menggelitik hati saya. Padahal, sikap Pa il nggak ada yang berubah. Konon, kalo suami sudah mulai doyan perempuan lain, sikapnya berubah total. Entah itu lebih cuek atau justru makin mesra sama istrinya supaya nggak ketahuan belangnya. Katanya, lho... Amit-amit, deh, kalo sampai ngalamin mah! *ketok meja*

Setelah beberapa hari mendapati kejadian seperti itu, saya mulai mengendap-endap ngecek ponsel Pa il. Yang pasti, ketika saya melakukannya, keringat dingin mengucur. Degdegan nggak kentara. Takut ketahuan, lalu Pa il marah. Atau malah sebaliknya. Saya justru takut mendapati hal-hal yang saya "inginkan". Maksudnya, hal-hal yang saya "inginkan" ini adalah hal-hal yang saya takuti dan menghantui saya selama ini. Bukan ingin beneran, lho.

Saya mulai menelusuri Inbox dan Sent Message di ponsel Pa il. Padahal waktu itu masih ponsel jadul. Belum pake BB. Saya betul-betul membuka semua pesan dari seseorang bernama Ms. R. Duh. Memang, sih, nggak ada pesan mesra. Tapi, kayaknya mereka janjian di suatu tempat. Pesannya singkat-singkat aja. Kayak di folder Sent Message, pesan yang ditulis Pa il kurang lebih: “iya”, “sebentar lagi”, “ditunggu”, “tunggu sebentar, ya”. Sementara di Inbox, saya nemu SMS yang ditulis Ms. R ini juga singkat. Kayak kode gitu. Misalnya, “bagaimana?”, “sudah di mana?”, “masih lama?”. Hueeeeh. Istri mana yang bisa tenang – yang udah lah penasaran terus pas bekerja menjadi detektif – malah nemuin pesan-pesan kayak begini?

Siapa ini Ms. R? Dan kenapa nggak ditulis dengan jelas R-nya siapa. Ini kan justru membuat saya curiga. Saya memikirkan semua nama perempuan yang mungkin untuk “R”-nya ini. Rina, Rani, Reni, Reti, Rima, Rida, Rila, Runi, Risma, Resti, Revi, Rini, Rika, Rose, Raya. Argh! Kayaknya belum pernah dengar nama perempuan teman kantor Pa il berawalan “R” selain “Revi”, yang saya kenal. Eh, lagian, Revi udah nggak di kantor Pa il sejak lama, kok. Dia hanya beberapa bulan aja di kantor Pa il. Lalu kenapa “R”-nya ini disembunyikan?

Hingga suatu hari, seperti biasanya, hari Sabtu adalah hari di mana Pa il bermain futsal dengan teman-teman kantornya. Hari itu, nggak tahu kenapa, Ilman rewel banget. Intinya Pa il dibuat kesiangan berangkat ke lapangan oleh kami berdua, saya dan Ilman. Dan saya sengaja menyembunyikan ponsel Pa il. Soalnya, pagi-pagi, saya sempat lihat Pa il terima telepon dari Ms. R ini. Jangan-jangan nanti mereka ketemuan di lapangan futsal? Hedeeeh! Anak istri di rumah mendambakan bisa berakhir pekan sama dia, ini kok malah janjian sama cewek lain, sih!

Pokoknya, rasakan, Ms. R! Nanti kalo Ms. R ini nelpon, bakalan saya damprat habis-habisan. Sembarangan banget ganggu suami orang, hah! Benak saya sibuk menyusun kata-kata penuh emosi untuk mendamprat Ms. R ini. Huh! Belum tahu, ya, Ms. R ini, kalo “Judes” adalah nama tengah saya?

Ternyata benar! Voila! Sekitar jam 9 pagi, ponsel Pa il berdering. Ya! Tebakanmu benar! Ms. R yang nelpon! Dengan rasa percaya diri (padahal sumpah, deg-degan banget waktu itu, sampai gemetaran), saya tekan tombol “answer” dan saya buat suara seelegan mungkin untuk menyapa dia yang ada di seberang sana. “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Selamat pagi. Dengan istri Bapak Nasrudin Fahmi di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Dalam hati saya berujar, mampus, lu. Bentar lagi gue semprot. Jangan berharap yang jawab ini telepon adalah suami gue, ya!

Dijawablah dari seberang sana, “Wa ‘alaikum salaam. Bu, Pak Fahmi-nya ada?”

Eh? Sebentar.... Kok, suara laki-laki yang jawab?

“Pak Fahmi sedang ke lapangan futsal, Pak...”

“Oh, sudah berangkat, ya. Sudah lama? Kenapa belum muncul aja, ya?”

“Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi sampai, Pak. Kalo nggak macet.”

“Oh, ya udah atuh, Bu, kalo gitu, mah. Saya tunggu aja di sini.”

“Maaf, Pak. Ini dengan siapa, ya?” Pertanyaan bodoh, saya akui. Tapi saya harus tahu siapa nama penelepon. Siapa tahu, orang ini pinjam ponsel Ms. R atau disuruh Ms. R buat nelpon ke ponsel Pa il. Mungkin saja, Ms. R ini tiba-tiba merasa kalo saya sudah mencurigainya sejak lama, jadi meminta orang lain yang notabene laki-laki, menelepon Pa il.

“Ini dengan Pak Mis, Bu. Ya sudah, saya tunggu Pak Fahmi di lapangan kalo begitu. Terima kasih, ya, Bu. Assalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam.”

Ms. R itu laki-laki? Tapi dasar, ya. Saya masih nggak percaya. Saya beneran nunggu Pa il pulang siang itu.

Sepulangnya Pa il dari lapangan futsal, mandi, makan siang dan mulai nonton TV, saya dekati Pa il sambil nyerahin ponselnya. “Papa, tadi pagi ada telpon. Dari Ms. R. Tapi suaranya kok, suara laki-laki, ya?”

“Oh, dari Pak Mis. Iya, kan, main futsalnya se-tim sama Papa.” Pa il menjawab dengan lempeng jaya. Iyalah, lempeng. Orang emang nggak ada yang sedang ditutup-tutupi. Dan dia memang sedang bicara jujur.

“Terus, kenapa itu ditulisnya Ms? Bukan Mis? Kayak perempuan aja.”

“Hmmm. Papa buru-buru waktu itu. Kan emang lagi sibuk nyiapin tender, Bun... Terus ya kelupaan mau ngedit. Toh, yang penting sudah jelas nomernya siapa.”

“........”

Saya jadi malu. Sudah curiga pada Pa il yang sejak dulu sayang saya apa adanya nggak pakai syarat apa pun. Nggak pernah menaruh curiga pada saya, meski saya sering cerita tentang semua sahabat saya yang rata-rata laki-laki. Dan nggak pernah menginterogasi saya setiap kali menerima telepon curhat dari beberapa sahabat laki-laki saya. Huhuhu. Maafkan Bunda, ya, Papa...

Tuesday, July 10, 2012

Misteri Ms. R

Sejak mulai dekat, saya dan Pa il jarang sekali ikut campur urusan masing-masing. Sebelum menikah, memang sih, kami suka bertukar password email. Tapi itu semata-mata untuk beberapa urusan. Sebab, waktu itu buat pasang internet di rumah, harganya mahal banget. Jadi, kalo kebetulan saya di warnet, saya suka buka akun email Pa il dan membantu mengunduhkan sisipan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, nanti kami bertemu, bertransaksi bertukar disket. Jadul banget, ya...

Begitu juga setelah kami menikah. Boleh dibilang, baik saya maupun Pa il, jarang dengan sengaja mengecek ponsel pasangan. Entah itu ngecek kotak masuk atau call log. Rasanya, kok, kayak yang nggak percaya sama pasangan sendiri kalo sampai berniat begitu. Apalagi sejak Pa il pake BB. Sering banget BB-nya bunyi. Trang tring trung. Pasti itu notifikasi ada BBM yang masuk. Apakah saya berminat mengecek BBM yang masuk? Kalo nurutin curiousity sih, mungkin iya. Siapa, sih, yang tengah malem iseng kirim BBM? Nggak tidur apa? Tapi, toh, Pa il nggak pernah terbangun hanya gara-gara ada BBM masuk.

Tapi pernah, nih, beberapa tahun yang lalu, sebelum Pa il mulai pakai BB, malah, ada hal yang membuat saya gelisah dan curiga. Setiap Pa il sedang main sama anak-anak atau sedang di kamar mandi, atau sedang tidur bahkan, suka ada telepon masuk. Lihat dari Caller ID-nya sih, namanya Ms. R. Sering banget sih, Ms. R ini nelpon Pa il? Tapi nggak saya angkat. Saya biarkan saja.

Belum lagi, kalo ada telpon masuk dari Ms. R itu ketika Pa il siap siaga nerima panggilan telepon, Pa il mengambil ponselnya, lalu menjauh dari kami dan berbicara dengan lawan bicaranya di luar ruangan. Kadang di luar rumah. Demi mendapat sinyal yang bagus atau supaya nggak terdengar oleh saya?

Ah, dasar, ya. Rasa penasaran mulai menggelitik hati saya. Padahal, sikap Pa il nggak ada yang berubah. Konon, kalo suami sudah mulai doyan perempuan lain, sikapnya berubah total. Entah itu lebih cuek atau justru makin mesra sama istrinya supaya nggak ketahuan belangnya. Katanya, lho... Amit-amit, deh, kalo sampai ngalamin mah! *ketok meja*

Setelah beberapa hari mendapati kejadian seperti itu, saya mulai mengendap-endap ngecek ponsel Pa il. Yang pasti, ketika saya melakukannya, keringat dingin mengucur. Degdegan nggak kentara. Takut ketahuan, lalu Pa il marah. Atau malah sebaliknya. Saya justru takut mendapati hal-hal yang saya "inginkan". Maksudnya, hal-hal yang saya "inginkan" ini adalah hal-hal yang saya takuti dan menghantui saya selama ini. Bukan ingin beneran, lho.

Saya mulai menelusuri Inbox dan Sent Message di ponsel Pa il. Padahal waktu itu masih ponsel jadul. Belum pake BB. Saya betul-betul membuka semua pesan dari seseorang bernama Ms. R. Duh. Memang, sih, nggak ada pesan mesra. Tapi, kayaknya mereka janjian di suatu tempat. Pesannya singkat-singkat aja. Kayak di folder Sent Message, pesan yang ditulis Pa il kurang lebih: “iya”, “sebentar lagi”, “ditunggu”, “tunggu sebentar, ya”. Sementara di Inbox, saya nemu SMS yang ditulis Ms. R ini juga singkat. Kayak kode gitu. Misalnya, “bagaimana?”, “sudah di mana?”, “masih lama?”. Hueeeeh. Istri mana yang bisa tenang – yang udah lah penasaran terus pas bekerja menjadi detektif – malah nemuin pesan-pesan kayak begini?

Siapa ini Ms. R? Dan kenapa nggak ditulis dengan jelas R-nya siapa. Ini kan justru membuat saya curiga. Saya memikirkan semua nama perempuan yang mungkin untuk “R”-nya ini. Rina, Rani, Reni, Reti, Rima, Rida, Rila, Runi, Risma, Resti, Revi, Rini, Rika, Rose, Raya. Argh! Kayaknya belum pernah dengar nama perempuan teman kantor Pa il berawalan “R” selain “Revi”, yang saya kenal. Eh, lagian, Revi udah nggak di kantor Pa il sejak lama, kok. Dia hanya beberapa bulan aja di kantor Pa il. Lalu kenapa “R”-nya ini disembunyikan?

Hingga suatu hari, seperti biasanya, hari Sabtu adalah hari di mana Pa il bermain futsal dengan teman-teman kantornya. Hari itu, nggak tahu kenapa, Ilman rewel banget. Intinya Pa il dibuat kesiangan berangkat ke lapangan oleh kami berdua, saya dan Ilman. Dan saya sengaja menyembunyikan ponsel Pa il. Soalnya, pagi-pagi, saya sempat lihat Pa il terima telepon dari Ms. R ini. Jangan-jangan nanti mereka ketemuan di lapangan futsal? Hedeeeh! Anak istri di rumah mendambakan bisa berakhir pekan sama dia, ini kok malah janjian sama cewek lain, sih!

Pokoknya, rasakan, Ms. R! Nanti kalo Ms. R ini nelpon, bakalan saya damprat habis-habisan. Sembarangan banget ganggu suami orang, hah! Benak saya sibuk menyusun kata-kata penuh emosi untuk mendamprat Ms. R ini. Huh! Belum tahu, ya, Ms. R ini, kalo “Judes” adalah nama tengah saya?

Ternyata benar! Voila! Sekitar jam 9 pagi, ponsel Pa il berdering. Ya! Tebakanmu benar! Ms. R yang nelpon! Dengan rasa percaya diri (padahal sumpah, deg-degan banget waktu itu, sampai gemetaran), saya tekan tombol “answer” dan saya buat suara seelegan mungkin untuk menyapa dia yang ada di seberang sana. “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Selamat pagi. Dengan istri Bapak Nasrudin Fahmi di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Dalam hati saya berujar, mampus, lu. Bentar lagi gue semprot. Jangan berharap yang jawab ini telepon adalah suami gue, ya!

Dijawablah dari seberang sana, “Wa ‘alaikum salaam. Bu, Pak Fahmi-nya ada?”

Eh? Sebentar.... Kok, suara laki-laki yang jawab?

“Pak Fahmi sedang ke lapangan futsal, Pak...”

“Oh, sudah berangkat, ya. Sudah lama? Kenapa belum muncul aja, ya?”

“Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi sampai, Pak. Kalo nggak macet.”

“Oh, ya udah atuh, Bu, kalo gitu, mah. Saya tunggu aja di sini.”

“Maaf, Pak. Ini dengan siapa, ya?” Pertanyaan bodoh, saya akui. Tapi saya harus tahu siapa nama penelepon. Siapa tahu, orang ini pinjam ponsel Ms. R atau disuruh Ms. R buat nelpon ke ponsel Pa il. Mungkin saja, Ms. R ini tiba-tiba merasa kalo saya sudah mencurigainya sejak lama, jadi meminta orang lain yang notabene laki-laki, menelepon Pa il.

“Ini dengan Pak Mis, Bu. Ya sudah, saya tunggu Pak Fahmi di lapangan kalo begitu. Terima kasih, ya, Bu. Assalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam.”

Ms. R itu laki-laki? Tapi dasar, ya. Saya masih nggak percaya. Saya beneran nunggu Pa il pulang siang itu.

Sepulangnya Pa il dari lapangan futsal, mandi, makan siang dan mulai nonton TV, saya dekati Pa il sambil nyerahin ponselnya. “Papa, tadi pagi ada telpon. Dari Ms. R. Tapi suaranya kok, suara laki-laki, ya?”

“Oh, dari Pak Mis. Iya, kan, main futsalnya se-tim sama Papa.” Pa il menjawab dengan lempeng jaya. Iyalah, lempeng. Orang emang nggak ada yang sedang ditutup-tutupi. Dan dia memang sedang bicara jujur.

“Terus, kenapa itu ditulisnya Ms? Bukan Mis? Kayak perempuan aja.”

“Hmmm. Papa buru-buru waktu itu. Kan emang lagi sibuk nyiapin tender, Bun... Terus ya kelupaan mau ngedit. Toh, yang penting sudah jelas nomernya siapa.”

“........”

Saya jadi malu. Sudah curiga pada Pa il yang sejak dulu sayang saya apa adanya nggak pakai syarat apa pun. Nggak pernah menaruh curiga pada saya, meski saya sering cerita tentang semua sahabat saya yang rata-rata laki-laki. Dan nggak pernah menginterogasi saya setiap kali menerima telepon curhat dari beberapa sahabat laki-laki saya. Huhuhu. Maafkan Bunda, ya, Papa...

mari kita tes...

Wednesday, June 27, 2012

Apresiasi Bernama `Like`

Mungkin saya termasuk telat baru bahas ini. Dan tadinya saya pikir juga nggak perlu bahas ini. Siapa tahu di luar sana sudah banyak yang bahas. Tapi entah kenapa, belakangan ini saya tergelitik ingin membahasnya. Sudah gatal aja kali, ya...

Di sebuah jejaring sosial yang dipakai banyak orang – bahkan sepertinya semua orang wajib punya account di sana – kalo nggak mau ketinggalan, ada fasilitas bernama Like. Apa itu? Sebuah tombol dengan tulisan Like dan bila kita sudah meninggalkan jejak dengan menekan tombol itu, akan muncul icon thumb up di postingan tersebut.



Beberapa orang menganggap dengan menekan tombol Like itu artinya menghargai postingan. Ada yang menganggap juga bahwa orang yang memberikan jempol mereka untuk postingan itu sebagai pengganti komentar. Bahkan, di sebuah forum game online yang saya ikuti, L/C alias Like/Comment adalah bagian dari ucapan terima kasih. Sehingga, ketika ada yang mengambil gift atau reward dari game yang dishare oleh salah satu teman tanpa meninggalkan jejak semisal menekan tombol Like atau meninggalkan komentar di sana, dianggap “tuyul”. Mengambil barang tanpa permisi. Hihi.

Kebanyakan yang ketahuan begitu sih, biasanya diban. Dengan cara diunfriend atau bahkan diblok oleh yang merasa dicolong. Terkadang, sanksi sosialnya lebih kejam lagi. Dibuatkan print screen-nya, lalu disebarluaskan ke teman-teman lain dan dianggap sebagai “makhluk berbahaya” – karena mengambil barang tanpa izin.

Padahal, ketika saya masih bermain game online tersebut, saya pernah pakai fasilitas collect gift automatically, yang membuat sulit terlacak saya ngambil gift dari mana. Kadang, tombol Like otomatisnya nggak berpengaruh. Jadi, siapa tahu, saya pernah jadi tuyul juga, kan? Maaf, ya, teman-teman, kalo saya pernah jadi tuyul. Salahkan saja fasilitas collect gift automatically plus lemotnya internet di sini :D

Saya sering sekali membaca komentar dari empunya posting, ketika para “jempolers” memberikan jempol mereka untuk postingannya, “nuhun jempolers”, “ma kasih buat jempolnya, yaaa...”. Saya sendiri mendapati banyak jempol yang hadir untuk beberapa postingan saya di sana. Tapi saya nggak pernah berterima kasih untuk jempol mereka. Kenapa, ya?

Sampai suatu ketika, teman-teman saya pernah mempertanyakannya. “Sebetulnya, perlu nggak, sih, kalo ada yang kasih jempolnya di postingan kita, terus kita bilang terima kasih?” Saya pribadi jawab, “nggak perlu.” Tapi ada yang misuh-misuh jawab, “harus. Itu kan bentuk kepedulian orang lain terhadap postinganmu.” errr sebenernya sih nggak gini amat nulisnya, cuma ketangkap saya gitu, lah, kurang lebih.

Laluuu... mata saya tertumbuk pada beberapa orang yang curhat di status mereka tentang kesedihan atau derita yang mereka alami. Bukan doa, lho, ya. Banyak yang berkomentar mendoakan supaya masalahnya segera selesai. Tapi, yang bikin kaget, banyak yang nge-Like. Kadang, ada juga yang nggak berperasaan, upload foto-foto menyedihkan lalu diLike banyak orang. Errr....

Like itu kan suka. Kok, ada ya, yang suka sama penderitaan orang lain? Atau itu yang disebut sebagai pengganti komentar? Menunjukkan rasa simpati? Kayaknya ada yang harus diluruskan, deh... Udah nggak bener, nih, urusannya.... Nah, bagaimana dengan Anda?

Gambarnya nyolong dari sini. Maaf, ya, Mas.. minjem :D

Tuesday, June 26, 2012

Perempuan dan Ponsel Pintar

Pekerjaan saya yang berhubungan dengan multi media membuat saya harus jeli dengan perkembangan teknologi terkini. Sebab, jika tidak peduli dengan apa yang terjadi “di luar sana”, saya akan terseret arus ke kemunduran. Selain itu, tempat saya bekerja pun harus terus berinovasi membuat produk yang sesuai dengan perkembangan jaman. 

Efek dari keharusan saya untuk mengikuti perkembangan teknologi ini, membuat saya dipercaya oleh teman-teman perempuan yang merasa dirinya “gaptek” atau gagap teknologi untuk memberikan pencerahan pada mereka tentang teknologi. Tidak sedikit dari mereka yang belajar bermain jejaring sosial dari saya. Atau bahkan mereka percaya begitu saja pada saya untuk minta dibuatkan akun di sana. Meski begitu, saya tetap beritahu mereka untuk mengganti password usai saya buatkan akun. Untuk keamanan.

Tidak hanya akhirnya bertemu lagi dengan teman-teman lama lewat jejaring sosial, mereka pun jadi terdorong untuk menjadi lebih pintar lewat teknologi internet. Mulai dari mencari informasi seputar resep masakan – biar hidangan yang tersaji di rumah nggak itu-itu saja, tips-tips tentang merawat rumah; berkebun; atau hobi lain, kesehatan, konsultasi keuangan, dan lain-lain. Tidak sedikit juga yang pada akhirnya membuka usaha melalui bisnis online. Meski status ibu rumah tangga penuh, dompet tetep tebal yang nggak hanya sumbangsih dari suami. 

Nah, umumnya, nih, kebanyakan dari mereka sibuk merengek pada suami masing-masing untuk dibelikan smartphone, biar nggak ketinggalan katanya. Haha. Cuma ya itu. Meski akhirnya pada punya smartphone, mereka nggak mau ngulik sendiri. Diserahkan pada saya untuk tolong diulik dan akhirnya mereka tinggal tahu pakai. Intinya, mereka pengen tahu beres saja.  Yah, tampaknya smartphone yang mereka beli tidak belum memenuhi kebutuhan mereka yang pengen tahu beres saja.

Sepertinya mereka butuh smartphone keluaran Nokia, deh. Salah satunya, Nokia Asha 202. Kenapa? Sebab, Nokia Asha 202 ini mudah digunakan alias friendly user. Yang ngaku gaptek pasti begitu memegang ponsel yang satu ini akan merasa paling jago dalam teknologi. Bentuk slim berberat 90 gram (nggak sampai 1 ons, kan, yaa...) membuat ponsel ini begitu ringan di tangan. Selain itu desainnya cukup modis buat perempuan kayak kita, dual sim, kamera yang cukup catchy 2MP, dilengkapi pemutar musik MP3, ditambah radio, dan fitur berinternet yang mudah.  Tidak hanya itu. Masih banyak fitur lain yang asik tertanam di ponsel ini. 



Adanya program bundling Indosat Mobile & Nokia, semakin memungkinkan perempuan-perempuan bertambah cerdas. Gimana nggak? Indosat Mobile peduli perempuan sehingga mau memikirkan kebutuhan perempuan akan berinternet. Tahu kan, watak perempuan, apalagi ibu-ibu? Murah tapi dapat banyak yang dibutuhkan. 

Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu IndosatMobile dan handset Nokia kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. Dengan pakai Paket Hebat Keluarga, setiap ibu bebas menelpon anaknya secara gratis dari jam 00.00 – 17.00 (waktu di mana anak-anak sedang beraktivitas di luar, kan?)  selama 30 hari. Wih! Beneran, deh, memudahkan para ibu buat ngecek anaknya. Jadi nggak was-was lagi, dong. Belum lagi, ada Info Wanita, yang gratis selama 12 bulan. Ngapain aja di paket Info Wanita ini? Kita akan dikirimi SMS berisi informasi dan tips menarik seputar pengembangan pribadi, kesehatan, anak dan keluarga, sampai pengelolaan keuangan. Wow! 12 bulan? Setahun? Gratis! Asik! Mewah banget, yaaa...

Sudahlah ponselnya user friendly, eh dibundling pula dengan Indosat Hebat Keluarga. Cincay, deh... Perempuan memang perlu ponsel pintar. Ah, jadi pengen....

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia” yang diselenggarakan oleh EmakBlogger




Friday, May 25, 2012

hummm....

Friday, May 11, 2012

Empati?

DISCLAIMER: Tulisan ini "galau" detected. Jadi, kalo ga mau ketularan galau, sebaiknya nggak usah baca. #eh

#1. Suatu hari, teman saya lagi PMS, jadi lagi mudah meledak. Berbeda dengan saya yang meledaknya bisa dua hal: marah-marah atau menangis, teman saya yang satu itu bakalan merepet curhat nggak berkesudahan. Kalo dituruti, 5 jam bisa habis waktu saya buat dengerin curhatan dia.. via telpon! Kebayang, nggak, panasnya si ponsel.. hihihi...
Selain sedang PMS, dia juga sedang punya banyak masalah. Sampai merasa dirinya adalah orang paling menderita sedunia.

Kebetulan, dia butuh merepet dan ingat pada saya, jadilah dia menelepon saya. Sayangnya, dia nggak nanya kabar saya dulu, apakah saya available atau tidak untuk dicurhati. Apakah saya sudah pasang shield tebal, dll. Dan waktu dia asik curhat, saya sedang terkapar lemah tak berdaya karena sakit. Apakah dia ngeh dengan suara saya yang cuma bisa bilang "hmm?" "oh, gitu.." "waduh..." dengan suara lemah? Dia terus merepet sampai batre ponsel saya habis dan percakapan terputus. Saya terlalu lemah buat ambil charger waktu itu, saya putuskan untuk tidur.

Apa yang terjadi ketika ponsel saya sudah nyala kembali? Dapat kiriman sms banyak banget, yang isinya marah-marah, karena saya memutuskan telepon dan nggak minta maaf!

#2. Kemarin pagi, masih sepi, ada asap rokok masuk ke ruangan saya. Biasanya kalo kipas di atas kepala saya dinyalakan, asap rokok nggak terlalu ngaruh di dalam ruangan saya. Tapi, kemarin itu nggak. Setelah saya telusuri, ternyata penjaga kantor sebelah lagi asik ngerokok di depan jendela ruangan saya. Karena saya merasa terganggu, saya bicara baik-baik pada beliau, "Pak, punten, ulah ngaroko di payuneun jandela ieu. Haseupna lebet ka ruangan saya, Pak. Saya janten sesek, teu tiasa napas. Nuhun, Pak" (Pak, maaf, jangan merokok di depan jendela ini. Asapnya masuk ke ruangan saya, Pak. Saya jadi sesak, nggak bisa napas. Ma kasih, Pak."

Apa reaksi orang ini? Matanya mendelik ke jendela saya, lalu bilang, "oh!" dan pasang ekspresi murka. Kemarin, saya sedang senang hati, jadi lihat reaksinya saya nggak berniat menggampar. Kalo kemaren mood saya lagi ancur, bisa saya labrak orang itu. Bukannya minta maaf! Yah! Saya tahu! Dia gengsi ditegur "anak buah" yang masih muda dan lucu ini. Heran saya. Ke tetangga sekitar, dia suka ngaku-ngaku "Manager" dan nunjuk kami-kami yang muda ini anak buahnya... *ngakak guling-guling*
Kalo tetangga di daerah kantor saya ini waras semua, pasti mereka nggak percaya. Mana ada manager kerjaannya nongkrong di depan teras, yes?

#3. Hari Jumat pagi, biasanya Eyiq senam pagi, seperti postingan-postingannya di hari-hari Jumat. Nah, Jumat itu (udah lama, sih), saya naik angkot dan mau ngetes sinyal GPRS. Saya ngirim iMessage ke Eyiq, soalnya kan paling cepet keliatan. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna hijau, berarti GPRS-nya nggak nyala alias terkirim sebagai SMS. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna biru, berarti GPRS-nya nyala dan terkirim sebagai iMessage.

Pesan saya waktu itu, "lagi senam, ya, Eyiq?" dan blup! Balon kata message di layar berwarna biru. Oke. Berarti sinyal GPRS saya lagi waras. Saya bisa plurk-an kalo gitu. Ternyata, Eyiq balas. Dia jawab, "lihat aja di Path."
Karena sinyal GPRS lagi asik, saya segera buka Path dan hati saya mencelos. Eyiq sedang berduka cita karena sepupunya yang masih bayi meninggal dunia. Dan Eyiq sedang berada di rumah duka.

Segera saja saya minta maaf sama Eyiq. Soalnya saya nggak ngecek dulu Eyiq ada di mana. Niat usil nyapa, malah membuat saya jadi manusia nggak peka. :(


#4. Sewaktu saya lagi sedih, karena iPod ilman hilang, saya cerita ke seorang teman. Ternyata di saat yang sama, seseorang yang saya ceritain itu lagi ada masalah juga. Jadinya, yah, dia meninggalkan percakapan dengan saya karena sedang marah entah sama siapa. Saya yang lagi down, tambah down aja, merasa nggak dipedulikan. Walau keesokan harinya, kemudian dia minta maaf karena merasa nggak peka.

Tapi, yah, ketika kita lagi ketiban musibah, biasanya kita bakalan merasa paling menderita sedunia dulu sih (reaksi umum), sebelum kemudian bisa berikhlas ria. Atau malah marah-marah pas dinasihati untuk mengikhlaskannya dengan komentar, "emangnya ikhlas itu gampang?"

"Lucu"nya lagi, waktu saya cerita ke seseorang yang lain, dia malah dengan santainya bilang, "ya udah, Bu.. beli aja lagi... gampang, kan?" *dalam hati, nih, saya ngedumel, "iya, situ punya duit kayak (maaf) b**ak! Ngegampangin aja!"*

#5. Kapan itu, sejak salah seorang teman saya tahu bahwa Ilman termasuk ABK, dia menjadi ekstra hati-hati pada saya. Alasannya, sih, takut saya tersinggung. Hubungan kami menjadi nggak seperti biasa lagi. Dia terlalu banyak hati-hati pada saya. Misalnya, kalo lagi ngumpul, trus ada yang "pamer" soal kehebatan anaknya, teman saya ini langsung memberi peringatan, "pssst" seraya matanya menunjuk saya diam-diam. Ya, Allah.. memangnya saya kenapa?

#6. Pernah, saya ngajak Ilman main ke rumah salah satu kenalan saya. Waktu itu, Ilman belum bisa bicara. Sementara anak kenalan saya ini sudah bisa ngobrol, padahal usianya dua tahun di bawah Ilman. Neneknya meraih cucunya sambil melirik Ilman dengan sudut matanya (kebeneran saya lihat banget) bilang, "Sini, cucu Oma yang pinter... udah pinter ngomong, abis ini pinter apa lagi ya..." *yah, mungkin saya lagi sensi... tapi, kalo dia sendiri yang ngalamin, bisa terima juga, nggak digituin?*

#7. Sewaktu saya berkomentar soal "lebay"nya pedangdut SJ pas kehilangan istrinya, teman saya tiba-tiba nyolot. "Peni nggak tahu, sih, rasanya kehilangan orang paling disayangi!!" *oke, waktu itu, ibu teman saya baru setahun meninggal. Jadi, dia masih dalam masa berduka.* Saya cuma bisa bilang, "Iya, saya tahu banget, kok. Saya ditinggal ibu yang melahirkan saya waktu saya masih kecil malahan.. hehe.." Tapi, yah, tetep. Saya dianggap nggak berempati.. ya sutra...

#8. Beredarnya joke sehubungan dengan tragedi jatuhnya Sukhoi. Ada yang bilang, "pilotnya kaget, lihat salak segede gunung" lah, juga joke-joke lain yang sama sekali nggak lucu untuk situasi berduka seperti itu. Nggak pada mikirin keluarga yang lagi berduka, apa? Kalo anggota keluarga atau sahabat kamu termasuk korban, masih mau terima orang lain bercanda, hah?

Kenapa, ya... giliran kita yang lagi punya masalah, banyak orang lain yang suka nggak berempati sama kita. Lah, giliran mereka yang punya masalah, mereka pengennya kita yang pakai sepatu mereka...